Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Putri Mazaya

Fenomena Hikikomori Mulai Terlihat di Indonesia

Eduaksi | 2026-06-01 13:02:28

Oleh: Putri Mazaya Andika dan Dr. Rachmat Mulyono, M.Si, Psikolog

Ilustrasi individu yang memilih menarik diri dari lingkungan sosial dalam waktu yang lama, salah satu ciri fenomena hikikomori. Foto: unsplash.com

Pintu kamarnya jarang terbuka. Sesekali, hanya terbuka sekitar sepuluh sentimeter - cukup untuk mengambil pesanan makanan atau botol minuman. Lampu di dalam kamar menyala 24 jam. Suara keyboard dan notifikasi game terdengar dari balik dinding.

Adegan seperti ini tidak hanya terjadi di Tokyo atau Seoul. Bisa jadi, ini adalah anak kita, adik kita, atau tetangga kita. Yang selama ini dianggap sekadar "mager" atau quarter-life crisis, ternyata bisa menjadi gejala awal fenomena global bernama hikikomori.

Apa Itu Hikikomori?

Hikikomori berasal dari bahasa Jepang yang artinya "menarik diri". Istilah ini pertama kali populer pada akhir 1990-an berkat psikiater Tamaki Saito.

Menurut jurnal World Psychiatry (2020), seseorang bisa disebut hikikomori jika memenuhi tiga hal:

Mengurung diri di rumah - ada yang sesekali keluar, ada yang tidak pernah keluar kamar sama sekali.

Berlangsung minimal 6 bulan - kalau baru 3-6 bulan, disebut pre-hikikomori.

Mengganggu fungsi hidupnya - tidak bisa sekolah, kerja, atau bersosialisasi.

Yang menarik: tidak semua penderita merasa tertekan. Awalnya, banyak yang justru lega bisa kabur dari tekanan hidup. Rasa kesepian baru datang setelah berbulan-bulan menyendiri.

Dari Jepang ke Indonesia

Apakah hikikomori hanya terjadi di Jepang? Ternyata tidak.

Penelitian tahun 2011 yang melibatkan psikiater dari 9 negara (Australia, India, Iran, Jepang, Korea, Taiwan, Thailand, Bangladesh, dan AS) menemukan bahwa fenomena ini sudah terlihat di berbagai negara, terutama di perkotaan.

Bahkan pada 2014, peneliti berhasil mewawancarai 36 penderita hikikomori dari AS, Jepang, Korea, dan India. Rata-rata, mereka sudah mengurung diri selama 2,1 tahun. Yang mengejutkan: 78 persen dari mereka ingin ditolong.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Fenomena ini sudah mulai terlihat di Bandung, Malang, dan Lombok Barat.

Bandung: 4 dari 10 Remaja Berisiko

Penelitian di 4 SMA Bandung (2023) menguji 110 remaja. Hasilnya: 40 persen atau 44 orang menunjukkan kecenderungan ke arah hikikomori.

Artinya, dari 10 remaja Bandung yang kamu temui, 4 di antaranya berisiko menarik diri secara berlebihan.

Memang, angka ini belum berarti mereka sudah hikikomori penuh - masih sebatas "kecenderungan". Tapi ini alarm awal yang tidak bisa diabaikan.

Malang: Cerita dari Komunitas Wibu

Di kalangan pecinta budaya Jepang (wibu) di Malang, istilah hikikomori sudah bukan barang asing.

Reyhan, pendiri komunitas The Mora Seekers, bercerita bahwa di lingkungannya, ada anak muda yang bisa mengurung diri lebih dari 6 bulan. Mereka bekerja, main game, dan tidur di kamar. Hanya keluar untuk ke kamar mandi.

Penyebabnya? Ada yang lelah bersosialisasi. Ada juga yang muak terus ditanya "kapan nikah". Tekanan sosial ini nyata, terutama di usia muda.

Sebagian dari mereka masih bisa kembali bersosialisasi setelah masa isolasi. Tapi tidak sedikit yang sudah tidak mau lagi bertemu orang secara langsung - komunikasi beralih sepenuhnya ke Discord.

Lombok Barat: Kecemasan Meningkatkan Risiko 5 Kali Lipat

Penelitian di Lombok Barat (2025) terhadap 60 pasien rumah sakit menemukan bahwa kecemasan tingkat sedang-berat meningkatkan risiko hikikomori hingga 5 kali lipat.

Penelitian ini juga menemukan bahwa perempuan berisiko 2,5 kali lebih tinggi dibanding laki-laki - meskipun temuan ini masih perlu diteliti lebih lanjut.

Mengapa Mereka Melakukan Ini?

Ada 4 pola penyebab yang mulai terlihat:

Tekanan sosial - lelah dituntut sukses, nikah, atau memenuhi harapan keluarga.

Kecemasan yang tidak tertangani - penelitian di Jepang menemukan 74 persen penderita hikikomori takut bertemu orang dan cemas dinilai buruk oleh orang lain.

Dunia maya yang terlalu nyaman - internet, gawai, dan layanan pesan-antar membuat seseorang bisa bertahan hidup tanpa keluar rumah.

Keluarga yang terlalu "mendukung" - ironisnya, keluarga yang cukup mampu justru bisa memperkuat perilaku menarik diri jika tidak ada pendampingan yang tepat.

Bahaya yang Mengintai

Hikikomori bukan sekadar gaya hidup.

Dari sisi psikologis, penelitian di Jepang terhadap 3.000 responden menemukan bahwa 81 persen penderita hikikomori memiliki resiko bunuh diri - jauh lebih tinggi dibanding yang tidak mengalami hikikomori (44 persen). Bahkan, 41 persen dari mereka sudah menarik diri lebih dari 3 tahun.

Dari sisi fisik, kurang gerak dan pola tidur kacau bisa memicu penyakit jantung dan gangguan metabolisme.

Dari sisi sosial-ekonomi, kondisi ini menjadi beban bagi keluarga dan bisa menurunkan produktivitas nasional jika jumlah kasus terus meningkat.

Bukan Sekadar Mager: Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Untuk keluarga dan teman:

Jangan beri label "malas" atau "manja" - itu justru memperkuat rasa malu.

Jangan paksa mereka keluar rumah. Bangun komunikasi perlahan, mulai dari pesan singkat.

Alih-alih: "Kamu kok di kamar terus?"

Coba: "Aku kangen ngobrol sama kamu. Kabari aku kapan pun kamu siap."

Cari bantuan profesional, psikolog atau terapis bisa membantu. Saat ini sudah banyak layanan konseling.

Untuk pemerintah: Perlu meningkatkan literasi kesehatan mental, memperluas akses layanan psikologi yang terjangkau, dan menciptakan ruang sosial yang tidak penuh tekanan.

Penutup

Fenomena hikikomori yang mulai terlihat di Indonesia adalah alarm bahwa tekanan sosial, kecemasan yang tidak terkelola, dan kemudahan "menghilang" ke dunia maya bisa membuat seseorang menjadikan kamarnya sebagai penjara sukarela.

Mengenali fenomena ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengingatkan: di balik pintu kamar yang selalu tertutup, mungkin ada seseorang yang sebenarnya ingin ditemukan - bukan digurui, bukan dihakimi, tetapi ditemani.

Kadang, langkah terbesar yang bisa kita lakukan hanyalah membuat mereka tahu bahwa kita masih ada di sini, menunggu kapan pun mereka siap membuka pintu.

REFERENSI

Kato, T. A., Kanba, S., & Teo, A. R. (2020). Defining pathological social withdrawal: Proposed diagnostic criteria for hikikomori. World Psychiatry, 19(1), 116-117.

Kato, T. A., Tateno, M., Shinfuku, N., et al. (2012). Does the 'hikikomori' syndrome of social withdrawal exist outside Japan? Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology, 47(7), 1061-1075.

Novianti, W. R., Rachmawati, W., & Sutini, T. (2023). Prevalensi kecenderungan social withdrawal (hikikomori) pada remaja di Kota Bandung. Jurnal Keperawatan Silampari, 6(2), 1730-1736.

Teo, A. R., et al. (2015). Identification of the hikikomori syndrome of social withdrawal. International Journal of Social Psychiatry, 61(1), 64-72.

Yong, R., & Nomura, K. (2019). Hikikomori is most associated with interpersonal relationships, followed by suicide risks. Frontiers in Psychiatry, 10, 247.

Adiwibawa, D. N., et al. (2025). Gender, anxiety, and depression in connection to hikikomori. Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, 21(1), 80-87.

Bimantara. (2023, November 28). Mengenal istilah hikikomori yang nge-trend di komunitas wibu Kota Malang. Blok-a.com.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image