Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Wani Maler

Arkeolog Bukan Pemburu Harta Karun

Sejarah | 2026-02-08 01:29:12
Ilustrasi gambar dibuat oleh AI

Salah satu salah paham paling populer tentang arkeologi adalah anggapan bahwa arkeolog bekerja untuk mencari emas, harta karun, atau benda berharga yang bisa dijual. Gambaran ini begitu kuat dalam budaya populer: film petualangan, cerita rakyat, hingga konten media sosial membuat pekerjaan arkeolog seolah identik dengan “menggali untuk menemukan harta”. Padahal, di lapangan, anggapan ini tidak hanya keliru, tetapi juga berbahaya bagi pelestarian warisan budaya.

Mitos “arkeologi itu cari harta karun” bukan lahir tanpa sebab. Ia tumbuh dari tiga sumber utama.

Pertama, pengaruh budaya populer yang menampilkan arkeologi sebagai petualangan dramatis. Kedua, tradisi tutur masyarakat yang sering mengaitkan situs tua dengan benda-benda bernilai tinggi. Ketiga, berkembangnya ekonomi gelap benda bersejarah, di mana artefak dianggap komoditas, bukan sumber pengetahuan. Namun arkeologi sebagai ilmu tidak bekerja dengan logika perburuan. Arkeolog bekerja dengan logika penelitian.

Tujuan utama arkeologi bukan mencari benda paling mahal. Tujuan arkeologi adalah merekonstruksi kehidupan manusia masa lalu berdasarkan tinggalan material, mulai dari pecahan gerabah, susunan batu, sisa arang, bentuk tanah, hingga distribusi artefak di ruang tertentu.

Bagi arkeolog, sebuah pecahan tembikar yang tampak “tidak berharga” sering jauh lebih penting daripada benda emas. Mengapa? Karena pecahan tembikar dapat menjelaskan aktivitas sehari-hari, hubungan dagang, teknologi produksi, pola makan, bahkan perbedaan kelas sosial dalam komunitas masa lalu.Dengan kata lain, yang dicari arkeolog adalah konteks, bukan sekadar objek.

Terdapat perbedaan signifikan antara arkeolog dan pemburu harta karun/ Treasure hunting. Treasure hunting bekerja dengan pertanyaan: “benda berharga apa yang bisa saya ambil?”
Arkeologi bekerja dengan pertanyaan: “informasi apa yang bisa saya pahami dari tinggalan itu?”
Treasure hunting mengejar benda. Arkeologi mengejar data dan makna.

Karena itu, dalam ekskavasi arkeologi, pencatatan sering lebih penting daripada “temuan”. Lapisan tanah dipelajari dengan ketat, posisi artefak diukur, kedalaman dicatat, bahkan serpihan kecil pun dikumpulkan untuk analisis. Semua itu dilakukan karena artefak tidak pernah berdiri sendiri. Ia harus dibaca bersama tanah tempat ia ditemukan, lapisan yang menutupnya, dan lingkungan sekitarnya.

Bila artefak diambil tanpa metode, informasi yang menempel padanya ikut hilang. Ketika situs digali sembarangan, sejarah tidak bisa dipulihkan.

Salah paham tentang arkeologi punya dampak nyata. Ketika masyarakat percaya bahwa situs adalah tempat “harta karun”, maka yang muncul adalah tindakan penggalian ilegal, penggunaan detektor logam, atau pembongkaran situs. Aktivitas ini sering dilakukan diam-diam, tanpa izin, tanpa dokumentasi, dan berakhir pada kerusakan permanen.

Dalam arkeologi, kerusakan situs bukan sekadar “batu runtuh” atau “tanah bolong”. Kerusakan itu berarti hilangnya data ilmiah yang tidak bisa diulang. Tidak seperti eksperimen di laboratorium, penggalian arkeologi tidak bisa diulang sesuka hati. Sekali lapisan tanah rusak dan konteks hilang, sejarahnya ikut hilang.

Karena itu, publik perlu memahami bahwa arkeologi bukan sekadar soal menemukan benda tua, tetapi soal menjaga “bacaan” masa lalu agar tetap utuh.

Mengapa Arkeolog Sering Justru “Tidak Ingin Menggali”?

Penggalian adalah tindakan destruktif karena membuka lapisan yang selama ratusan bahkan ribuan tahun tersimpan. Itulah mengapa arkeologi modern mengutamakan survei, pemetaan, dokumentasi, dan analisis non-destruktif sebelum ekskavasi dilakukan. Bahkan dalam banyak kasus, keputusan terbaik adalah: tidak menggali dulu, demi menunggu teknologi yang lebih baik atau kesiapan konservasi.

Ini kebalikan dari logika “pemburu harta”. Treasure hunter ingin cepat menggali dan mengambil. Arkeolog justru berpikir: apakah penggalian ini perlu? apakah situs akan aman setelah dibuka.

Warisan budaya adalah milik bersama. Karena itu, publik punya peran penting. Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan masyarakat:

  1. Jika menemukan benda kuno, jangan digali atau dipindahkan sendiri.
  2. Dokumentasikan lokasi (foto dan titik koordinat bila memungkinkan).
  3. Laporkan ke dinas terkait atau lembaga berwenang.
  4. Hindari membeli artefak dari pasar gelap; permintaan pasar membuat penjarahan terus hidup.

Mengubah cara pandang publik adalah langkah pelestarian paling penting. Selama situs dianggap “tambang harta karun”, maka perusakan akan terus berulang. Tetapi jika publik melihat situs sebagai “laboratorium sejarah”, maka pelestarian menjadi gerakan sosial yang kuat.

Arkeolog bukan pemburu harta karun. Arkeolog adalah pembaca masa lalu. Dan yang paling berharga dari masa lalu bukan emasnya, melainkan pengetahuan yang menyelamatkan identitas kita hari ini.

Referensi
Darvill, T. (2008). Concise Oxford dictionary of archaeology. Oxford University Press.

Renfrew, C., & Bahn, P. (2016). Archaeology: Theories, methods, and practice (7th ed.). Thames & Hudson.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image