Mengapa Arkeolog selalu Disebut Indiana Jones?
Edukasi | 2026-02-23 11:59:45Oleh S. Wani Maler
Dosen Prodi Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Setiap kali seseorang mengatakan ia seorang arkeolog, hampir bisa dipastikan akan ada satu respons spontan: “Oh, kayak Indiana Jones?”
Masalahnya bukan pada bercandanya. Masalahnya adalah betapa otomatisnya reaksi itu. Seolah-olah arkeologi tidak pernah punya identitas lain selain karakter fiksi yang berlari dari batu raksasa dan mencuri artefak dari kuil.
Indiana Jones telah melakukan dua hal pada arkeologi: membuatnya populer, dan membuatnya salah dipahami.
Dalam film, arkeologi adalah perburuan. Tujuannya jelas: temukan artefak spektakuler, rebut dari musuh, selamatkan dunia. Cepat. Dramatis. Heroik. Artefak adalah trofi. Yang paling besar, paling emas, paling sakral, itulah yang paling berharga.
Dalam arkeologi nyata, logikanya terbalik. Artefak bukan trofi. Ia adalah data. Nilainya bukan pada kilauannya, tetapi pada konteksnya. Sebuah pecahan kecil gerabah yang retak bisa lebih penting daripada patung emas, jika ia menjelaskan pola hunian, perdagangan, atau perubahan sosial.
Film tidak peduli pada konteks. Arkeologi hidup dari konteks.
Indiana Jones digambarkan sebagai pahlawan tunggal. Padahal arkeologi adalah kerja kolektif yang nyaris tidak pernah heroik dalam arti sinematik. Ada tim. Ada prosedur. Ada laporan panjang. Ada keraguan. Tidak ada satu orang yang “menemukan peradaban” sendirian.
Tetapi publik jarang melihat itu. Mengapa? Karena yang spektakuler selalu lebih mudah diingat daripada yang sistematis. Imajinasi menang atas metodologi.
Ada juga kenyamanan psikologis dalam figur seperti Indiana Jones. Ia menyederhanakan masa lalu menjadi petualangan. Ia membuat sejarah terasa seperti teka-teki yang bisa dipecahkan oleh satu orang paling cerdas dan berani. Ia menawarkan kepastian dan klimaks.
Arkeologi tidak menawarkan itu, ia menawarkan kemungkinan. Ia bekerja dengan probabilitas, bukan kepastian mutlak. Ia sering mengatakan “belum tahu” daripada “inilah jawabannya”.
Dalam budaya yang menyukai jawaban cepat, sikap seperti itu terasa tidak memuaskan.
Namun, konsekuensi dari penyederhanaan ini nyata. Ketika arkeologi dipahami sebagai pencarian benda berharga, situs diperlakukan seperti gudang harta. Ketika publik mengira arkeolog mencari emas, maka penjarahan tampak seperti versi liar dari hal yang sama. Fantasi petualangan bisa berubah menjadi legitimasi pengambilan tanpa konteks.
Pertanyaannya kemudian bergeser. Mengapa arkeolog selalu disebut Indiana Jones? Karena budaya populer lebih rajin menjelaskan arkeologi daripada arkeolog sendiri.
Ketika ilmu jarang hadir dalam ruang publik, fiksi akan mengisi kekosongan itu. Dan selama film lebih mudah diakses daripada laporan penelitian, fedora dan cambuk akan terus mendominasi imajinasi.
Indiana Jones bukan masalahnya- ia hiburan, yang menjadi masalah adalah ketika hiburan menjadi definisi.
Arkeologi bukan tentang berlari dari jebakan kuno. Ia tentang membaca jejak manusia dengan sabar. Ia bukan tentang merebut artefak. Ia tentang menjaga agar konteksnya tidak hilang.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti menyebut arkeolog sebagai Indiana Jones, bukan karena film itu buruk, tetapi karena arkeologi jauh lebih serius daripada sekadar petualangan layar lebar.
Referensi
Holtorf, C. (2007). Archaeology is a brand! The meaning of archaeology in contemporary popular culture. Archaeopress.
Moshenska, G. (2017). Key concepts in public archaeology. UCL Press.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
