Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Wani Maler

Kenapa Indonesia Sering Disebut Atlantis?

Edukasi | 2026-02-25 22:06:19

Oleh S. Wani Maler
Dosen Prodi Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas


Gambar generate by AI

(Opini)

Atlantis adalah salah satu mitos paling tahan lama dalam sejarah manusia. Sejak pertama kali disebut oleh Plato sekitar abad ke-4 SM, kisah tentang peradaban maju yang tenggelam dalam satu malam terus memancing imajinasi (Plato, 2008). Menariknya, dalam beberapa dekade terakhir, Indonesia sering muncul sebagai kandidat lokasi “Atlantis yang hilang”.

Kenapa Indonesia?

Jawaban pertama bersifat geografis. Indonesia berada di kawasan Paparan Sunda, wilayah daratan luas yang pada akhir Zaman Es sekitar 20.000 tahun lalu masih menyatu dengan Asia Tenggara. Ketika es mencair dan permukaan laut naik, sebagian daratan itu tenggelam. Fakta geologis ini sering dijadikan dasar argumen bahwa “daratan besar yang hilang” itulah Atlantis (Hall, 2012).

Masalahnya, tenggelamnya daratan tidak otomatis berarti adanya peradaban maju.

Kenaikan muka laut adalah fenomena alam yang terdokumentasi secara ilmiah. Tetapi untuk menyebut suatu wilayah sebagai pusat peradaban besar, dibutuhkan bukti arkeologis yang konsisten: struktur buatan manusia yang jelas, artefak dalam konteks stratigrafi yang dapat diuji, penanggalan yang terverifikasi, dan pola permukiman yang saling mendukung. Sampai hari ini, bukti semacam itu belum ditemukan di dasar laut Nusantara dalam skala yang sesuai dengan narasi Atlantis (Voris, 2000).

Lalu mengapa klaim ini terus muncul?

Ada faktor psikologis dan kultural. Atlantis adalah simbol peradaban hebat yang hilang. Mengaitkannya dengan Indonesia memberi rasa kebanggaan kolektif: bahwa Nusantara pernah menjadi pusat dunia. Narasi ini emosional dan mudah menyebar, terutama di era media sosial yang lebih menyukai cerita besar daripada laporan teknis.

Selain itu, Indonesia memang kaya akan tinggalan prasejarah dan manusia purba. Temuan Homo erectus di Jawa dan Homo floresiensis di Flores memperlihatkan betapa panjangnya sejarah manusia di wilayah ini. Kekayaan ini kadang dipadukan dengan spekulasi, lalu dibingkai sebagai bukti “peradaban supermaju yang hilang”.

Di sinilah perlu dibedakan antara kemungkinan geologis dan klaim arkeologis.

Secara geologi, benar bahwa daratan di Asia Tenggara pernah lebih luas. Secara arkeologi, belum ada bukti bahwa daratan tersebut menjadi pusat peradaban global yang digambarkan Plato. Dua hal ini sering dicampur menjadi satu, padahal metodenya berbeda.

Dalam ilmu pengetahuan, klaim besar membutuhkan bukti besar. Jika benar pernah ada peradaban dengan teknologi tinggi yang tenggelam di Nusantara, jejaknya seharusnya muncul secara sistematis dalam data arkeologi: pola bangunan, sisa aktivitas ekonomi, artefak dengan teknologi konsisten, dan penanggalan yang saling menguatkan. Sampai saat ini, pola seperti itu belum teridentifikasi.

Menariknya, Indonesia tidak membutuhkan Atlantis untuk menjadi penting. Nusantara sudah memiliki nilai sejarah yang luar biasa tanpa harus mengaitkannya dengan mitos Yunani. Jejak migrasi manusia purba, jaringan perdagangan kuno, dan dinamika budaya maritim Asia Tenggara adalah fakta yang lebih kuat daripada spekulasi.

Atlantis adalah cerita yang indah. Tetapi antara cerita dan data ada jarak metodologis yang harus dijaga.

Mungkin pertanyaan yang lebih jujur bukanlah “apakah Indonesia Atlantis?”, melainkan “mengapa kita ingin sekali mempercayainya?”

Referensi

Hall, R. (2012). Late Jurassic–Cenozoic reconstructions of the Indonesian region and the Indian Ocean. Tectonophysics, 570–571, 1–41.

Plato. (2008). Timaeus and Critias (R. Waterfield, Trans.). Oxford University Press. (Original work published ca. 360 BCE.

Voris, H. K. (2000). Maps of Pleistocene sea levels in Southeast Asia: Shorelines, river systems and time durations. Journal of Biogeography, 27(5), 1153–1167.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image