Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Daffa Nabil Mubarak

Cerpen Citra yang Penuh Aksi

Sastra | 2026-01-13 06:37:36

Cerpen ini mengisahkan tentang Citra, seorang siswi sederhana yang memiliki keteguhan hati dan bakat menulis yang luar biasa. Di tengah keterbatasan ekonomi dan cemoohan dari kedua temannya, Amba dan Kunti, yang kerap meremehkan langkahnya, Citra memilih untuk tetap fokus pada mimpinya.

Konflik bermula ketika Citra memutuskan untuk mengikuti lomba menulis cerpen tingkat kabupaten. Meski sempat merasa ragu akibat ejekan teman-temannya, dukungan tulus dari ibunya dan motivasi dari seorang penjual nasi bernama Bang Wisnu membangkitkan kembali semangatnya. Dengan antusiasme yang besar terhadap dunia balap motor, Citra menuangkan imajinasinya ke dalam karya berjudul "Persahabatan Dua Pembalap Motor".

Cerita mencapai puncaknya saat Citra diumumkan sebagai juara pertama. Prestasi ini tidak hanya membuktikan kemampuannya, tetapi juga mengubah sudut pandang Amba dan Kunti yang akhirnya mengakui kesalahan mereka dan meminta maaf. Cerpen ini membawa pesan mendalam tentang pentingnya kedisiplinan, ketekunan, serta bagaimana sebuah aksi nyata dan karya dapat membungkam keraguan serta mengubah perselisihan menjadi sebuah apresiasi.

Sinar matahari menyelinap masuk melalui celah-celah dinding kayu rumah gubuk itu, menyapa Citra yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Di dapur sederhana yang dipenuhi aroma nasi hangat, Bu Sinta sedang menata piring. Meski hidup dalam keterbatasan, rumah itu selalu terasa penuh dengan kasih sayang.

"Nak, sini ayo sarapan dulu," panggil Bu Sinta lembut.

Citra bergegas menghampiri ibunya. Baginya, masakan ibu adalah energi utama sebelum menghadapi riuhnya dunia sekolah. Sambil menyendokkan nasi, Bu Sinta memberikan wejangan rutinnya.

"Citra, nanti selesai makan, piring sama gelas dicuci. Habis itu langsung berangkat ke sekolah ya, jangan mampir-mampir," ujar Bu Sinta mengingatkan.

Citra mengangguk mantap, sorot matanya menunjukkan kepatuhan. "Iya, Bu. Citra langsung ke sekolah kok nanti, tidak mampir-mampir."

"Bagus, Nak," sahut Bu Sinta dengan senyum bangga.

Suasana pagi itu terasa sinkron dengan semangat Citra. Begitu suapan terakhir tandas, ia dengan sigap mencuci peralatan makannya hingga bersih mengilap. Baginya, kedisiplinan di rumah adalah cerminan aksi nyata di luar sana. Setelah memastikan semuanya rapi, ia menyampirkan tas sekolahnya dan menghampiri sang ibu untuk berpamitan.

"Bu, Citra berangkat ke sekolah dulu ya," ucapnya sambil meraih tangan ibunya untuk bersalaman.

"Iya Nak, hati-hati di jalan," pesan Bu Sinta.

"Assalamu’alaikum, Bu."

"Wa’alaikumussalam."

Dengan langkah tegap dan doa yang mengiringi, Citra melangkah keluar pintu. Ia tidak tahu aksi apa yang akan ia hadapi di sekolah hari ini, namun satu yang pasti: ia siap memberikan yang terbaik.

Pagi itu, mentari baru saja memanjat langit saat Citra melangkah masuk ke ruang kelas dengan napas yang masih teratur, meski keringat tipis membasahi dahinya.

"Assalamu’alaikum," sapanya lembut.

"Wa’alaikumussallam," jawab Amba dan Kunti hampir bersamaan. Nada suara mereka terdengar kurang bersahabat.

Amba melipat tangan di dada. "Ah, Citra! Kenapa sih berangkatmu selalu lebih akhir dari kami?"

"Iya, benar itu. Dasar lambat, sudah seperti kura-kura saja," timpal Kunti sambil tertawa mengejek.

Citra hanya tersenyum tipis, tidak merasa perlu untuk membalas dengan amarah. "Tidak apa-apa, yang penting datangnya tidak terlambat, kan?"

"Makanya, kalau ke sekolah itu naik sepeda, jangan cuma jalan kaki!" celetuk Amba lagi.

Perdebatan kecil itu terhenti saat Citra melihat siluet seorang wanita di ambang pintu. "Teman-teman, Ibu Guru datang itu. Segera duduk dengan rapi sana!" bisik Citra sigap.

"Ah, bawel amat," gerutu Amba, namun ia tetap bergegas menuju bangkunya.

Bu Anjasmara memasuki kelas dengan senyum yang menyimpan sebuah kejutan. "Anak-anak, Ibu ada kabar gembira untuk kalian."

"Apa, Bu?" Amba dan Kunti menyela dengan antusias yang meledak-ledak.

"Tenang dulu, tidak perlu menyeletuk seperti itu," tegur Bu Anjasmara lembut. Citra pun ikut berbisik pada kedua temannya, "Hussh, perhatikan Ibu Guru dulu!"

Bu Anjasmara kemudian menjelaskan bahwa sekolah mereka akan mengikuti lomba menulis cerpen tingkat kabupaten. Mendengar itu, mata Citra berbinar. Ia langsung mengangkat tangannya. "Permisi Bu, izin bertanya. Saya ingin tahu mengenai konsep lomba menulis cerpen tersebut, bagaimana Bu?"

"Tentu, Citra. Temanya bebas. Kalian cukup membuat cerita pendek lalu menyetorkannya kepada Ibu paling lambat minggu depan," jelas Bu Anjasmara sebelum akhirnya pamit karena ada rapat mendadak.

Saat bel istirahat berdering, ketiga sahabat itu duduk di teras sekolah. Citra merasa energinya meluap, seolah ada ribuan kata yang siap ia tuangkan ke atas kertas.

"Teman-teman, apakah kalian ingin mengikuti lomba menulis cerpen yang disampaikan Ibu Guru tadi?" tanya Citra penuh harap.

Kunti menggeleng cepat. "Sepertinya sih tidak, Cit. Kalau kamu?"

"Kalau aku rencananya mau ikut."

Kunti tertawa sinis. "Memangnya kamu punya bakat menulis cerpen, Cit? Datang ke sekolah saja selalu lebih akhir dari kami."

Amba ikut mengompori, "Iya tuh, apa faedahnya sih ikut lomba begitu? Buang-buang waktu saja!"

Citra menarik napas panjang, mencoba tetap tenang di tengah serangan kata-kata temannya. "Tidak boleh berpikiran negatif seperti itu. Dengan mengikuti lomba, kita bisa mengasah hobi dan bakat yang ada pada diri kita."

"Ah, dasar cerewet!" Amba memalingkan muka.

"Ya sudah kalau kalian memang tidak minat mengikuti lomba, jangan mencela aku seperti itu," jawab Citra tegas. Ia tahu, langkah besarnya baru saja dimulai, dan ejekan mereka justru menjadi bahan bakar bagi imajinasinya.

Tak lama, bel pulang berbunyi. Citra menatap kedua temannya yang bergegas pergi dengan sepeda mereka. "Hati-hati, teman-teman," teriaknya, sementara dalam kepalanya, ia sudah mulai menyusun kalimat pertama untuk cerpennya.

Langkah kaki Citra terasa berat menyusuri trotoar jalanan siang itu. Kata-kata Amba dan Kunti yang meremehkannya di sekolah tadi masih terngiang jelas, bagai kaset rusak yang berputar di kepala.

"Aku ingin sekali mengikuti lomba menulis cerpen itu, tapi mereka..." Citra bergumam lirih, wajahnya tertunduk lesu. Semangat yang tadi pagi membara, kini nyaris padam tertutup awan mendung di hatinya.

Suara perutnya yang keroncongan membuyarkan lamunan. Di pojok jalan, nampak gerobak nasi milik Bang Wisnu yang mengepulkan aroma gurih. Citra memutuskan untuk mampir.

"Bang, beli nasi bungkus sama air minum botol satu, ya," ujar Citra dengan suara yang tak bersemangat.

Bang Wisnu yang sedang cekatan membungkus nasi melirik sekilas. "Siap, Dek! Semuanya tujuh ribu ya."

Citra menyodorkan lembaran uang tanpa banyak bicara. Kerutan di dahi gadis itu rupanya tidak luput dari perhatian Bang Wisnu. Sambil menyerahkan bungkusan nasi, sang penjual bertanya ramah, "Kamu kenapa, Dik? Mukanya kok murung sekali?"

Citra menghela napas panjang, akhirnya tumpah juga kegelisahannya. "Begini, Bang... tadi di sekolah Bu Anjasmara mengumumkan lomba menulis cerpen. Aku berniat ikut, tapi teman-teman malah mencela. Katanya aku tidak akan mampu."

Bang Wisnu tersenyum bijak, ia menyandarkan tangannya di meja gerobak. "Oh, begitu. Yang sabar ya, Dek. Tidak usah didengarkan pembicaraan mereka. Setiap orang pasti punya karakter dan jalan yang berbeda. Intinya, kamu harus tetap fokus dengan keinginanmu itu. Jangan biarkan ucapan orang lain menghentikan aksimu."

Mendengar kalimat sederhana itu, Citra merasa dadanya sedikit lebih lapang. Benar juga kata Bang Wisnu, aksinya dalam berkarya tidak boleh terhenti hanya karena komentar negatif.

"Iya, Bang. Terima kasih banyak atas motivasinya," ucap Citra dengan senyum yang mulai merekah.

"Tetap semangat ya!" sahut Bang Wisnu penuh semangat.

"Iya, Bang. Ya sudah, saya pulang dulu ya. Mari!"

Citra kembali melanjutkan perjalanan pulang dengan langkah yang lebih ringan. Sesampainya di rumah, ia segera membuka bungkusan nasi itu. Setiap suapan nasi siang itu terasa seperti bahan bakar baru—bukan hanya bagi fisiknya, tapi juga bagi tekadnya untuk segera mulai menulis.

Aroma masakan rumah menyambut Citra begitu ia melangkah melewati pintu depan. Rasa lelah setelah seharian di sekolah seketika luruh saat ia melihat ibunya, Bu Sinta, sedang merapikan meja makan. Makan siang kali ini terasa lebih hangat, namun pikiran Citra masih tertinggal pada pengumuman di mading sekolah tadi pagi.

"Sudah pulang ya, Nak?" sapa Bu Sinta lembut, menyadari kehadiran putrinya.

Citra mengangguk pelan sembari meletakkan tasnya. "Sudah, Buk."

Ada binar yang tertahan di mata Citra. Ia duduk di kursi kayu favoritnya, menunggu momen yang tepat untuk bicara. Setelah meneguk segelas air putih, ia memberanikan diri. "Ibuk, Citra mau sedikit bercerita nih."

Bu Sinta menghentikan aktivitasnya, memberikan perhatian penuh pada putri tercintanya. "Iya Nak, silakan diceritakan. Sepertinya ada kabar penting?"

"Jadi begini Buk, sekolah akan mengadakan lomba menulis cerpen," ujar Citra dengan nada antusias yang mulai merayap naik.

"Tingkat apa nak itu lombanya?" tanya Bu Sinta penasaran.

"Tingkat kabupaten, Buk." Citra menjeda sejenak, menatap reaksi ibunya. "Tentu saja Citra berminat. Citra ingin mengasah hobi dan kemampuan dalam menulis cerita. Ini kesempatan besar buat Citra."

Senyum bangga mengembang di wajah Bu Sinta. Ia mendekat dan mengusap bahu Citra dengan penuh kasih sayang. Baginya, semangat Citra adalah energi baginya.

"Nah, bagus itu Nak! Ibu sangat mendukungmu," ucap Bu Sinta mantap. "Mulai sekarang kamu bisa berlatih menulis cerpen lebih giat lagi. Ibu doakan yang terbaik untukmu."

Hati Citra menghangat. Dukungan itu adalah amunisi terbaik yang ia butuhkan untuk mulai merangkai kata demi kata di atas kertas. "Terima kasih banyak, Buk."

"Sama-sama, Nak. Ya sudah, istirahat dulu sana supaya pikiranmu segar kembali," tutup Bu Sinta.

Citra mengangguk mantap. Langkahnya menuju kamar terasa lebih ringan. Di kepalanya, sebuah aksi besar baru saja dimulai—bukan dengan pedang atau senjata, melainkan melalui ujung pena yang siap menaklukkan dunia.

Malam kian larut, namun jemari Citra masih mengetuk-ngetuk meja kayu di kamarnya. Cahaya lampu belajar menerangi wajahnya yang tampak serius. Di hadapannya, selembar kertas putih masih kosong melongpong, menunggu goresan pena yang tak kunjung datang.

"Hmmm... enaknya aku menulis cerpen dengan tema apa ya?" gumamnya lirih sambil memutar-mutar pulpen di antara jemarinya. Matanya menatap langit-langit kamar, mencari inspirasi yang seolah bersembunyi di balik bayang-bayang.

Tiba-tiba, matanya berbinar. Sebuah bayangan tentang deru mesin dan kepulan asap ban melintas di benaknya.

"Aha, aku tahu! Aku akan menulis cerpen tentang persahabatan dua pembalap motor saja!" serunya penuh semangat.

Tanpa membuang waktu, Citra langsung beraksi. Penanya menari-nari di atas kertas dengan lincah. Kata demi kata mengalir deras—mulai dari adegan kejar-kejaran di sirkuit hingga momen emosional di balik garis finis. Suasana hening malam itu hanya dipecahkan oleh suara goresan tinta yang cepat dan mantap.

Setelah beberapa menit berlalu dengan konsentrasi penuh, Citra meletakkan penanya. Ia membaca ulang hasil karyanya dengan senyum kepuasan.

"Alhamdulillah, cerpen buatanku akhirnya sudah selesai," bisik Citra lega. "Besok tinggal aku setorkan kepada Ibu Anjasmara."

Rasa kantuk mulai menyerang seiring dengan hilangnya adrenalin setelah menulis. Ketegangan di bahunya perlahan mengendur. Citra meregangkan tubuhnya yang terasa kaku karena terlalu lama membungkuk.

"Sekarang aku mau tidur dulu, sudah capek dan mengantuk ini," keluhnya pelan.

Ia pun beranjak dari kursi dan merebahkan tubuhnya di atas karpet kecil kesayangannya. Di sana, di bawah sisa-sisa semangat kreatifnya, Citra memejamkan mata untuk melepas rasa lelah dan stres, bersiap untuk menghadapi hari esok.

Matahari baru saja mengintip dari ufuk timur ketika Citra bergegas memasukkan selembar kertas berharga ke dalam tasnya. Itu bukan sekadar kertas, melainkan naskah cerpen "Persahabatan Dua Pembalap Motor" yang ia tulis dengan sisa tenaga semalam.

"Bu, Citra berangkat sekolah dulu ya!" seru Citra sambil menyambar tangan ibunya, Bu Sinta, untuk bersalaman. Gerakannya gesit, mencerminkan semangat yang meluap.

"Iya, Nak. Belajar yang sungguh-sungguh," pesan Bu Sinta lembut. Citra hanya mengangguk mantap sebelum berlari kecil menuju sekolah.

Ketegangan di Ruang Kelas

Langkah Citra terhenti di ambang pintu kelas. Napasnya sedikit memburu.

"Assalamu’alaikum," sapanya.

"Wa’alaikumussalam," jawab Kunti datar. Di sampingnya, Amba melipat tangan dengan tatapan sinis.

"Ih, kenapa sih Citra selalu lebih lambat dari kita?" sindir Amba pedas. Kunti mengimbuhkan dengan nada yang tak kalah dingin, "Iya, bener itu."

Citra memilih mengabaikan mereka. Baginya, ada misi yang lebih penting hari ini. Tak lama kemudian, Bu Anjasmara memasuki kelas. Suasana yang tadinya bising mendadak senyap. Belum sempat sang guru membuka buku absen, Citra langsung mengacungkan tangannya dengan tegas.

"Ibu! Terkait lomba menulis cerpen tingkat kabupaten, Citra sudah bikin dan saya bawa hari ini," lapornya penuh percaya diri.

Tekad vs Cemoohan

Bu Anjasmara tersenyum bangga. "Oh iya, sini serahkan ke Ibu, biar nanti Ibu setorkan ke instansi lomba."

Citra melangkah maju, menyerahkan naskah itu seolah menyerahkan sebuah tongkat estafet dalam balapan. Namun, saat ia kembali ke bangkunya, bisikan tajam dari Amba menyayat kesunyian.

"Buang-buang waktu saja. Kayak nggak ada hal lain yang lebih berguna," gumam Amba lirih.

Telinga tajam Bu Anjasmara menangkap komentar tersebut. Beliau memperbaiki posisi kacamata dan menatap Amba tajam. "Amba, tidak boleh bicara seperti itu. Citra memiliki tekad untuk mengasah kemampuan. Itu hal yang bagus."

Amba langsung tertunduk, wajahnya memerah karena malu. "Iya, Bu, maaf."

Menunggu Garis Finish

Sebelum memulai pelajaran, Bu Anjasmara memberikan informasi terakhir. "Citra, untuk pengumuman pemenang lombanya ditunggu kurang lebih dua minggu lagi, ya."

"Baik, Bu," jawab Citra. Ia kemudian menelungkupkan kedua tangannya di depan wajah, berbisik pada Sang Pencipta, "Bismillah, semoga Citra bisa menang, ya Allah."

Begitu bel pulang berdentang, Bu Anjasmara tidak menunda waktu. Beliau langsung bergerak menuju kantor instansi kabupaten untuk menyetorkan karya Citra—sebuah cerita penuh aksi tentang kecepatan dan kesetiaan di lintasan balap, yang kini nasibnya berada di tangan para juri.

Dua minggu berlalu dengan debar jantung yang tak menentu. Bagi Citra, setiap detik adalah penantian panjang sejak ia mengirimkan naskah cerpennya. Hingga pagi itu, di bawah cahaya lampu kelas yang temaram, Bu Anjasmara masuk membawa senyum yang lebih lebar dari biasanya.

"Anak-anak, hari ini ada kabar gembira, khususnya untuk kamu, Citra," ujar Bu Anjasmara memecah keheningan.

Citra mendongak, matanya berbinar. "Iya, Bu? Boleh disampaikan mengenai kabar itu?"

"Selamat, Citra! Kamu terpilih menjadi juara satu lomba menulis cerpen tingkat kabupaten!"

Suara tepuk tangan samar terdengar, namun Citra terpaku. "Wah, alhamdulillah... terima kasih banyak informasinya, Bu!" serunya dengan nada bicara yang naik satu oktav karena kegembiraan yang meluap.

Tanpa membuang waktu, Citra segera menuju kantor atas perintah sang guru. Di sana, seorang pria muda bernama Kak Pandu menyambutnya dengan ramah.

"Selamat ya, pemenang juara satu," sapa Kak Pandu saat Citra duduk. "Kalau boleh tahu, apa motivasimu ikut lomba ini?"

Citra tersenyum mantap. "Menulis adalah hobi saya, Kak. Saya ingin mengasah kemampuan saya lewat kompetisi ini."

Kak Pandu mengangguk bangga sambil menyerahkan piagam dan uang pembinaan. Namun, rasa penasaran pria itu tak berhenti di sana. "Tema cerpenmu unik, 'Persahabatan Pembalap Motor'. Kenapa pilih itu?"

"Karena saya penggemar berat MotoGP, Kak!" jawab Citra sambil terkekeh.

Mendengar itu, mata Kak Pandu mendadak bersemangat. "Wah, berarti kita sama! Saya ini fans Enea Bastianini, dan saya juga suka melihat aksi Jorge Martin. Apalagi kalau mereka sedang fight di lintasan tapi tetap menunjukkan respect yang tinggi. Kebetulan keponakan saya juga fans Fabio Quartararo."

"Wah, mantap sekali itu, Kak!" seru Citra. Ternyata, aksi di dalam cerpennya benar-benar mencerminkan semangat balap yang ia sukai.

Saat Citra kembali ke kelas membawa piagam di tangannya, suasana mendadak berubah. Amba dan Kunti, dua teman yang biasanya gemar menyindir, terpaku melihat prestasi itu.

"Wih, keren Citra!" puji Kunti spontan.

Amba menyenggol lengan Kunti, wajahnya tampak menyesal. "Kunti, kita sudah salah menilai Citra. Ternyata dia punya bakat sehebat ini."

Mereka berdua menghampiri meja Citra. "Citra, maafkan kami ya karena sering meledekmu. Ternyata kamu hebat sekali!" ujar Amba tulus.

Citra tersenyum tanpa dendam. "Iya, tidak apa-apa, sudah aku maafkan. Aku harap kalian juga termotivasi."

Bu Anjasmara yang melihat kejadian itu pun menutup hari dengan pesan bijak. "Setiap manusia punya bakat masing-masing. Teruslah asah bakat kalian dan buktikan pada dunia."

Hari itu, Citra tidak hanya memenangkan piala, tapi juga memenangkan hati teman-temannya. Perselisihan di antara mereka berakhir, secepat motor balap yang melintasi garis finis, menyisakan kedamaian yang indah di dalam kelas.

Keberhasilan Citra bukan sekadar tentang piala atau uang pembinaan yang ia genggam, melainkan tentang kemenangan sebuah tekad atas keraguan. Ia membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi dan cemoohan orang lain bukanlah penghalang, melainkan bahan bakar untuk melaju lebih kencang. Dari Citra, kita belajar bahwa aksi nyata dan ketekunan akan selalu membuahkan hasil yang manis. Jangan pernah memadamkan api impian hanya karena embusan angin remeh dari sekitar, karena pada akhirnya, kerja keraslah yang akan berbicara dan mengubah lawan menjadi kawan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image