Beda Agama, Satu Hiburan
Sastra | 2026-01-22 05:26:28
Cerpen ini mengisahkan petualangan sembilan pemuda pecinta alam dari komunitas yang terdiri atas lima umat Islam dan empat umat Kristen dalam perjalanan wisata ke Bukit Teletubbies, Gunung Bromo. Meski berbeda agama, mereka menjunjung tinggi moderasi beragama dengan saling menghormati ibadah—seperti salat Subuh, Dhuha, Dzuhur bagi Muslim, dan sembahyang bagi Kristen—serta berdoa bersama sebelum perjalanan dan makan. Puncak kebaikan mereka terlihat saat berbagi makanan kepada Pak Asep, pengemis Konghucu yang kelaparan akibat longsor, menegaskan prinsip tolong-menolong lintas keyakinan. Di tengah keindahan alam, cerita ini menggambarkan harmoni, persatuan, dan pelestarian ciptaan Tuhan sebagai pemersatu bangsa, membuktikan bahwa perbedaan agama bukan penghalang bagi kemanusiaan dan persaudaraan.
Di sebuah komunitas pecinta alam, terdapat sembilan anggota yang semuanya adalah laki-laki. Mereka adalah Asad, Fadir, Hamza, Marwan, Saad, David, Gabriel, Jordan, dan Saul. Mereka menganut dua agama yang berbeda. Asad, Fadir, Hamza, Marwan, dan Saad menganut agama Islam. Sedangkan David, Gabriel, Jordan, dan Saul menganut agama Kristen. Meski dalam kubu agama yang tidak sama, mereka tetap satu komunitas dan memiliki hobi yang sama yaitu berwisata di alam, karena alam dan seisinya ini merupakan ciptaan Tuhan yang harus kita telusuri dan lestarikan dengan baik. Berwisata di alam berarti tanpa sadar kita sudah mengenal dan mengeksplor ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
Suatu hari pada Hari Minggu, mereka akan mengunjungi tempat wisata alam bernama Bukit Teletubbies. Bukit Teletubbies merupakan salah satu spot wisata Gunung Bromo di Kota Pasuruan, Jawa Timur. Berupa hamparan tanah berundak yang diselingi padang rumput hijau di kaki Gunung Bromo, Bukit Teletubbies menjadi spot wisata menarik bagi pengunjung. Sesuai namanya, Bukit Teletubbies mirip dengan lokasi yang ada pada film kartun Teletubbies.
Pada fajar hari itu, David, Gabriel, Jordan, dan Saul duduk dan saling berbincang-bincang di halte bus.
“Kalian sudah membawa bekal yang cukup kan untuk perjalanan kita hari ini?” tanya David kepada ketiga temannya.
“Sudah, Vid,” jawab Gabriel, Jordan, dan Saul dengan yakin.
“Ini yang terpenting adalah uang kami sudah cukup untuk bekal di perjalanan nanti,” kata Jordan.
“Baguslah kalau begitu,” sahut David.
Kemudian, Asad, Fadir, Hamza, Marwan, dan Saad datang menyusul mereka di halte. Mereka baru saja melaksanakan salat subuh sebelum pergi ke halte.
“Halo, teman-teman!” kata Asad.
“Halo! Akhirnya kalian tiba juga di halte,” kata David.
“Kenapa kalian baru sampai?” tanya Gabriel.
“Maaf karena kami baru datang. Soalnya kami tadi harus mampir ke masjid terlebih dulu untuk melaksanakan salat Subuh. Karena itu kewajiban kami sebagai umat Islam. Lagipula kan bus baru akan berangkat 15 menit lagi,” tutur Asad.
“Oh begitu ya. Baiklah kami mengerti,” sahut Gabriel.
“Baguslah kalau kalian mengerti,” balas Asad.
Mereka pun melanjutkan menunggu bus di halte tersebut yang akan tiba 15 menit lagi. Sambil menunggu, mereka berdoa untuk perjalanan sesuai dengan keyakinan masing-masing agar diberikan keamanan dan keselamatan oleh Tuhan.
“Teman-teman, daripada bengong tidak jelas seperti ini, sambil menunggu bus datang, bagaimana kalau kita berdoa sebelum melakukan perjalanan—sesuai keyakinan masing-masing tentunya—agar nanti selama di perjalanan kita diberikan keselamatan oleh Tuhan,” tutur Saad.
“Setuju, benar sekali itu!” sahut Jordan.
“Baiklah, langsung saja. Sebelum melakukan perjalanan pada pagi hari ini, alangkah baiknya kita untuk berdoa dulu. Berdoa mulai,” kata Saad.
Mereka pun langsung berdoa sesuai agama dan keyakinan masing-masing. Mereka melantunkan doa dalam hati dengan khusuk dan khidmat, meminta keamanan dan keselamatan dari Tuhan untuk perjalanan ke Bukit Teletubbies menggunakan bus.
“Berdoa selesai,” kata Saad.
Setelah berdoa sesuai keyakinan masing-masing, mereka pun mengobrol tentang pengalaman sehari-hari. Mereka sesekali menyelingi obrolan dengan candaan agar suasana tidak tegang. Tak lama kemudian, bus pun akhirnya tiba di halte tersebut.
“Teman-teman, bus-nya akhirnya datang tuh,” kata David.
“Iya, Alhamdulillah, akhirnya kita bisa berangkat ke Bukit Teletubbies,” sahut Hamza.
“Ayo kita segera masuk ke dalam bus,” kata David.
“Ayooo...” kata semua teman-temannya.
Mereka pun masuk ke dalam bus dengan tertib dan tidak saling dorong untuk menempati tempat duduknya masing-masing. Dipandu arahan Pak Fery, selaku supir bus, mereka mengetahui fasilitas yang ada di dalam bus. Kemudian, Pak Fery segera bersiap-siap menjalankan bus-nya saat mengetahui mereka semua sudah dalam posisi siap.
“Baiklah, sudah siap semuanya, dek?” tanya Pak Fery.
“Sudah, Pak,” jawab mereka.
Perjalanan berangkat menuju Bukit Teletubbies pun dimulai. Di dalam bus, mereka bisa melihat pemandangan dan bangunan sekitar melalui kaca jendela bus. Mereka juga mendengarkan musik yang diputar dari radio bus dengan asyik dan santai. Tak lupa, mereka juga saling mengobrol tentang lokasi Bukit Teletubbies yang akan dikunjungi.
“Teman-teman, di sini ada kah yang sudah pernah berkunjung ke Bukit Teletubbies?” tanya Fadir.
“Aku sih sudah pernah, Dir. Saat masih bayi dulu bersama kedua orang tua. Tapi aku tidak ingat betul dengan momen itu karena saat itu saya masih belum tahu apa-apa,” jawab Saul.
“Oh begitu ya,” sahut Fadir.
“Iya, kemungkinan besar sekarang Bukit Teletubbies sudah dilengkapi dengan fasilitas yang memanjakan wisatawan. Penjualnya juga pasti semakin ramai,” kata Saul.
“Iya, Saul. Itu benar. Hal itu juga didorong dengan faktor perkembangan teknologi dan kemajuan zaman, terutama di bidang bisnis dan ekonomi,” kata Fadir.
“Nah, itu benar sekali,” sahut Saul.
***
Hari menunjukkan pukul 08.00 WIB. Perjalanan menuju Bukit Teletubbies menggunakan bus terus berlangsung. Bus yang mereka tumpangi sedang melaju melewati jalan tol. Namun David, Gabriel, Jordan, dan Saul harus segera melakukan sembahyang karena mereka beragama Kristen. Jadi, meskipun sedang melakukan hiburan, mereka semua tentu tak lupa dengan kewajiban beragama masing-masing, baik yang menganut agama Islam maupun Kristen. David dan ketiga temannya yang satu agama berusaha membujuk Pak Fery agar menghentikan bus-nya demi beribadah.
“Mohon maaf, Pak. Ini perjalanan masih berapa lama lagi ya?” tanya David dengan nada membujuk.
“Tidak lama lagi ini, mungkin satu setengah jam kita sudah sampai di Bukit Teletubbies,” jawab Pak Fery.
“Memangnya kenapa, Dek?” tambah Pak Fery.
“Begini, Pak, kami berempat harus segera melakukan sembahyang karena kami beragama Kristen,” kata David.
“Iya, benar itu, Pak,” tambah Gabriel.
“Oh begitu ya. Baiklah, kalau begitu kita nanti berhenti di rest area dulu ya. Lokasinya sudah dekat ini. Nanti yang ingin ke kamar mandi atau membeli sesuatu juga bisa di sana,” kata Pak Fery.
“Iya, Pak. Bagus itu. Terima kasih banyak,” sahut David.
“Iya, Dek, sama-sama,” balas Pak Fery.
“Asad, Fadir, Hamza, Marwan, Saad. Maaf ya, sebelum tiba di Bukit Teletubbies, kita harus berhenti di rest area terlebih dulu karena kami berempat harus melakukan sembahyang,” kata Saul.
“Iya, Saad. Tidak masalah. Justru itu yang harus kita utamakan, yaitu saling menghormati perbedaan beragama di tengah hiburan,” sahut Marwan.
“Iya, benar itu, Wan. Meskipun kita bersembilan menganut agama yang tidak sama, ditambah lagi sedang melakukan wisata, namun kita harus tetap menjunjung tinggi moderasi beragama,” tambah Asad.
“Baguslah kalau begitu,” sahut Saul.
“Begini saja, teman-teman, sambil menunggu mereka berempat melakukan sembahyang di rest area nanti, bagaimana kalau kita yang menganut agama Islam juga melakukan salat dhuha?” kata Hamza.
“Setuju, bagus sekali idemu, Za,” kata Asad.
Setibanya di lokasi rest area, Pak Fery langsung membelokkan bus-nya ke lokasi tersebut.
“Hore, akhirnya kita tiba di lokasi rest area,” sorak Jordan.
“Baiklah, adik-adik, kalian bisa beristirahat sejenak di rest area ini. Nanti kalau sudah, silakan kembali ke bus ya!” kata Pak Fery.
“Iya, siap, Pak supir,” sahut mereka.
Di rest area, David, Gabriel, Jordan, dan Saul menuju ke gereja kecil untuk melakukan sembahyang. Sedangkan Asad, Fadir, Hamza, Marwan, dan Saad menuju ke mushola untuk melakukan salat dhuha. Mereka semua sama-sama beribadah dan saling menghargai satu sama lain di tengah perbedaan beragama. Selesai beribadah, mereka semua pergi ke swalayan di rest area untuk membeli makanan ringan dan minuman sebagai bekal tambahan. Kemudian, mereka kembali ke bus di mana Pak Fery sudah menunggunya sambil bersantai mendengarkan musik.
“Kalian semua sudah selesai ya?” tanya Pak Fery.
“Sudah, Pak. Tadi kami melakukan ibadah sesuai agama masing-masing dan membeli bekal tambahan di swalayan,” tutur Asad.
“Baiklah, ayo semuanya. Kita masuk ke dalam bus lagi dan melanjutkan perjalanan ke Bukit Teletubbies,” kata Pak Fery.
Mereka pun kembali masuk ke dalam bus untuk melanjutkan perjalanan ke Bukit Teletubbies. Setelah melakukan ibadah sesuai agama masing-masing di rest area, hati mereka menjadi lebih tenang dan perasaan semakin gembira. Musik dari radio bus juga turut menambah harmonisnya suasana perjalanan.
Setelah 1 jam kemudian, mereka akhirnya sampai di lokasi tujuan. Pak Fery pun membelokkan dan menghentikan bus-nya di tempat parkir.
“Ini kita sudah sampai ya, adik-adik,” kata Pak Fery.
“Iya, Pak,” sahut David.
“Horeee, akhirnya kita sudah sampai di Bukit Teletubbies,” kata Fadir.
Setelah bus berhenti di tempat parkir, mereka pun segera turun untuk menikmati suasana alam di Bukit Teletubbies. Hamparan padang rumput nan hijau di tanah berbukit, ditambah sejuknya udara dari kaki Gunung Bromo dan cahaya matahari pagi yang tersenyum menyambut kedatangan mereka.
“Ayo teman-teman, kita jelajahi spot-spot yang ada di lokasi ini,” ajak Hamza.
“Ayooo...” sahut teman-temannya.
“Jangan lupa semua perlengkapan dibawa ya, termasuk tripot untuk alat dokumentasi nanti,” kata Hamza.
“Iya, Za. Ini tripot-nya aku masukkan ke dalam tasku,” kata David.
“Iya, bagus, Vid,” kata Hamza.
Mereka pun segera berjalan-jalan dan menelusuri spot-spot unik di area Bukit Teletubbies. Tak lupa, mereka juga mengabadikan momen tersebut dalam bentuk foto dan video, yang diambil menggunakan kamera ponsel. Nantinya, mereka akan membagikan momen wisata ke Bukit Teletubbies tersebut ke media sosial.
“Ternyata Bukit Teletubbies itu indah ya,” kata Marwan.
“Iya, betul itu,” sahut Gabriel.
“Sesuai namanya, lokasinya ini mirip dengan yang ada dalam film animasi Teletubbies ya,” tambah Fadir.
“Kira-kira, di sini beneran ada Teletubbies atau tidak ya, hehe,” ujar Marwan.
“Ya tidak ada lah, Teletubbies itu kan cuma fiksi alias hanya ada dalam film. Kamu ini ada-ada saja, Wan,” kata Saul.
“Iya, aku kan hanya bercanda, Saul,” sahut Marwan.
“Kalaupun ada, itu paling cuma orang yang berkostum Teletubbies saja, haha,” tambah Saul.
“Haha, iya benar itu,” sahut Marwan.
Sambil berjalan-jalan, mereka juga mengiringinya dengan candaan ringan yang dilontarkan dari mulut tersebut. Hal itu tentu menambah suasana menjadi lebih santai dan tidak kaku.
“Teman-teman, ayo kita foto bersama dulu, sebagai bukti kalau kita pernah berwisata ke Bukit Teletubbies,” kata Hamza.
“Iya, benar itu. Ayo teman-teman, kita foto bersama,” kata Jordan.
David segera mengeluarkan tripot yang ada di dalam tasnya dan menyiapkannya di spot foto.
“Ini mau pakai handphone-nya siapa untuk dokumentasi?” tanya David.
“Pakai handphone-ku saja, Vid. Soalnya kameranya bagus,” kata Saul.
“Oke, sini handphone-mu, Saul,” kata David.
“Ini, Vid. Kamu pasang di tripot,” kata Saul.
David pun segera memasang handphone-nya Saul ke tripot. Kemudian, mengatur posisi tripot agar pengambilan gambar tepat.
“Teman-teman, segera baris bersama dan membentuk pose ya!” kata David.
“Okee,” sahut mereka.
David mengatur timer di kamera ponsel selama 10 detik. Kemudian, segera berlari masuk ke barisan untuk melakukan foto bersembilan. Seketika itu, jepret! Akhirnya momen foto bersama di spot Bukit Teletubbies berhasil diambil. Mereka bahkan melakukannya beberapa kali demi mendapatkan banyak foto dokumentasi. Tak lupa, mereka juga sesekali melakukan foto pribadi dan selfie di setiap spot.
“Ini sepertinya sudah cukup banyak ya, teman-teman. Kita sudah mengambil beberapa foto menggunakan ponsel dan melakukan selfie di setiap spot,” kata David.
“Iya, benar itu,” kata Asad.
Hari sudah siang. Mereka pun mulai merasa lapar dan haus. Setelah asyik mengelilingi beberapa spot di Bukit Teletubbies, mereka pun memilih beristirahat di bawah pohon rindang.
“Teman-teman, sekarang ayo kita beristirahat. Sudah capek ini,” kata Saad.
“Setuju itu!” sahut Fadir.
“Ya sudah, teman-teman, kita membeli batagor dan tikar plastik dulu. Setelah itu kita beristirahat di bawah pohon rindang itu sambil makan batagor. Untuk minumnya, tidak perlu beli ya, karena kita tadi kan sudah membelinya di swalayan rest area,” ucap Asad.
“Baiklah, Sad,” kata teman-temannya.
Mereka pun segera mendatangi lapak Bu Yati. Beliau menjual batagor dan beraneka minuman. Selain itu, juga ada tikar plastik untuk kebutuhan wisatawan beristirahat.
“Ibu, beli batagornya sembilan porsi. Sama tikar plastik dua,” kata Asad.
“Siap, Dek,” kata Bu Yati.
Tiba-tiba, mereka melihat seorang lelaki tua yang duduk tak jauh dari lokasi Bu Yati berjualan. Lelaki itu tampak miskin dan berpakaian compang-camping sambil memegangi perutnya karena merasa kelaparan. Kemudian, mereka memiliki ide untuk membantu sang lelaki tua tersebut.
“Teman-teman, lihat lelaki tua itu. Dia terlihat memegangi perutnya. Sepertinya dia kelaparan,” kata Marwan.
“Iya, kasihan ya,” sahut Gabriel.
“Oh iya, aku punya ide. Bagaimana kalau kita membeli batagornya satu porsi lagi, sama air putih satu botol. Nanti kita berikan kepada lelaki tua itu,” kata David.
“Setujuu! Bagus idemu, Vid,” sahut teman-temannya.
“Ibu, batagornya tambah satu porsi lagi, sama air putihnya satu botol,” kata Asad.
“Oh, baik, Dek,” kata Bu Yati.
“Sepertinya kalian ingin membantu sang lelaki tua itu, ya?” tanya Bu Yati.
“Iya, itu benar, Bu,” jawab David.
“Lelaki tua itu namanya Pak Asep. Dia beragama Kong Hu Chu. Seminggu terakhir ini beliau selalu mendatangi tempat ini untuk mengemis, karena rumah beliau tertimbun tanah longsor yang mengakibatkan satu keluarganya meninggal. Hanya Pak Asep yang selamat. Namun beliau harus hidup sebatang kara dalam ekonomi terbatas,” tutur Bu Yati.
“Astaghfirullah, kasian sekali ya beliau itu,” sahut David.
“Iya, bagus sekali niat kalian karena mau membantu beliau,” kata Bu Yati.
“Iya, Bu, meskipun beliau beda agama dan keyakinan dengan kita semua, namun harus tetap tolong-menolong antar sesama,” kata Asad.
“Baguslah, ini pesanan kalian: batagor sepuluh porsi, air minum botolnya satu, sama tikar plastiknya dua. Totalnya lima puluh tiga ribu rupiah ya,” kata Bu Yati.
“Baik, Bu. Ini uangnya ya,” kata Asad.
“Iya, terima kasih, Dek,” kata Bu Yati.
“Sama-sama, Bu,” kata Asad.
Mereka pun segera mendatangi lelaki tua yang bernama Pak Asep dan beragama Kong Hu Chu tersebut. Mereka turut memberikan seporsi batagor dan sebotol air minum kepada lelaki tua yang kelaparan tersebut.
“Permisi, Pak,” kata David dengan nada halus.
“Iya, Nak. Ada apa?” tanya Pak Asep.
“Ini kami ada seporsi batagor dan air minum untuk Bapak. Mohon diterima ya, Bapak,” jawab David.
“Oh iya, terima kasih banyak, Nak. Soalnya Bapak dari tadi memang merasa kelaparan,” kata Pak Asep sambil terharu.
“Iya, Bapak. Tidak perlu berterima kasih. Karena membantu orang yang kesusahan memang sudah menjadi kewajiban kami,” kata David.
“Tidak apa-apa, Nak. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian semua ya,” tutur Pak Asep.
“Aamiin. Terima kasih kembali, Bapak,” ucap mereka.
“Ya sudah, Bapak. Silakan dimakan batagornya ya. Kami mau melanjutkan perjalanan dulu,” kata Hamza.
“Iya, Nak, hati-hati,” kata Pak Asep.
“Baik, Bapak,” ucap mereka.
Setelah memberikan seporsi batagor dan sebotol air minum kepada Pak Asep, sang lelaki tua yang miskin, mereka pun segera menuju ke bawah pohon rindang untuk beristirahat. Mereka menggelar tikar plastik serta menyiapkan batagor yang sudah dibeli, air minum, dan snack yang dibawanya.
“Teman-teman, sebelum menyantap makanan ini, alangkah baiknya kita berdoa dulu sesuai agama dan keyakinan masing-masing,” kata Asad.
“Setuju, supaya makanan yang kita makan ini selalu memberikan keberkahan dan manfaat bagi kita semua,” sahut Saul.
Mereka pun segera berdoa sebelum makan sesuai agama dan keyakinan masing-masing. Kemudian, segera menyantap batagor dan snack. Keindahan alam di Bukit Teletubbies dan musik yang diputar dari handphone turut mengiringi kegiatan istirahat mereka. Mereka juga sesekali mengobrol sambil menyantap makanan.
“Teman-teman, lelaki tua tadi benar-benar kasihan ya,” tutur Gabriel.
“Iya, benar itu. Untungnya kita tadi membantunya,” sahut Saad.
“Senang ya kalau turut membuat orang lain bahagia,” kata Fadir.
“Apapun itu, meskipun kita berbeda agama dan keyakinan, kita harus tetap menjunjung tinggi prinsip moderasi beragama. Salah satunya adalah kita bisa menerapkannya dengan membantu orang lain yang kesusahan meski beda agama. Seperti kita membantu Pak Asep tadi dengan membelikannya seporsi batagor dan sebotol air minum,” tutur Asad.
“Iya, moderasi beragama memang penting dalam pemersatu bangsa,” tambah David.
“Contoh lainnya, ya kita ini. Meskipun kita ada yang beragama Islam dan ada yang beragama Kristen, kita tetap saling menghormati dan hidup rukun dalam satu komunitas pecinta alam,” kata Saul.
“Iya betul,” kata David.
Setelah menyantap makanan, mereka pun segera mengumpulkan sampah dalam satu kresek merah besar untuk nantinya dibuang ke tong sampah.
“Teman-teman, ayo kita berkemas dan persiapan pulang. Sudah menunjukkan pukul 13.30 WIB ini,” kata Jordan.
“Astaghfirullah. Kita belum salat Dzuhur,” kata Asad.
“Ya sudah, kalian berlima silakan salat Dzuhur dulu di mushola area Bukit Teletubbies. Kami berempat menunggu di sini,” kata Jordan.
“Iya, benar itu. Kami akan menunggu kalian di sini,” tambah Gabriel.
“Baiklah, kami sekarang mau ke mushola dulu untuk melaksanakan salat Dzuhur. Kalian berempat tunggu di sini ya,” kata Asad.
“Oke!” sahut mereka berempat.
Asad, Fadir, Hamza, Marwan, dan Saad pun segera menuju ke mushola Bukit Teletubbies untuk mendirikan salat Dzuhur. David, Gabriel, Jordan, dan Saul menunggunya di bawah pohon rindang. Setelah mendirikan salat Dzuhur, mereka berlima segera kembali ke bawah pohon rindang yang di mana David, Gabriel, Jordan, dan Saul telah menunggunya.
“Kalian sudah selesai salat Dzuhur?” tanya Saul.
“Sudah, Saul,” jawab Marwan.
“Ya sudah, sekarang ayo kita kembali ke bus. Jangan lupa, kresek berisi sampahnya dibawa untuk dibuang ke tong sampah,” kata David.
“Ayooo!” sahut teman-temannya.
Mereka bersembilan lalu berjalan bersama menuju bus yang diparkir di tempat awal mereka tiba. Pak Fery, yang sudah menunggu mereka, menyambut kedatangan mereka dengan senyum lebar.
“Sudah selesai semua ya, adik-adik?” tanya Pak Fery.
“Sudah, Pak. Terima kasih sudah sabar menunggu,” jawab Hamza.
“Kalau begitu, segera masuk ke dalam bus ya. Semoga perjalanan pulang kita lancar,” kata Pak Fery seraya menyalakan mesin bus.
“Iya, Pak!” seru mereka serempak.
Tak lupa, sebelum pulang mereka berdoa terlebih dahulu sesuai agama dan keyakinan masing-masing agar diberi keamanan dan keselamatan selama di perjalanan.
Perjalanan pulang dari Bukit Teletubbies terasa begitu menyenangkan. Meskipun mereka lelah setelah seharian beraktivitas, hati mereka terasa hangat dan penuh kebahagiaan. Mereka telah menikmati alam, saling menghormati perbedaan agama, dan berbagi kebaikan dengan orang lain yang membutuhkan meski berbeda agama.
Di dalam bus, suara tawa terdengar saat mereka saling berbagi cerita lucu tentang pengalaman hari itu. Mereka juga membahas betapa indahnya moderasi beragama yang mereka alami, di mana perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk saling mendukung dan bersahabat.
“Teman-teman, pengalaman hari ini benar-benar berharga ya,” kata Marwan sambil memandang ke luar jendela, melihat matahari yang mulai berada di ufuk barat mendekati perbukitan.
“Iya, hari ini kita bukan hanya menjelajahi alam, tapi juga belajar tentang pentingnya saling menghormati,” jawab Jordan.
“Benar sekali. Alam ini sejatinya diciptakan Tuhan untuk semua orang, dan kita semua, apa pun agama kita, berhak menikmatinya bersama,” tambah Saul.
Mereka semua mengangguk setuju, merasakan persatuan yang erat dalam komunitas mereka. Satu hati, satu tujuan, meskipun berbeda keyakinan. Mereka sadar bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan sebuah kekayaan yang memperkuat tali persaudaraan.
Sesampainya di kota, bus pun berhenti di halte tempat mereka berangkat pagi tadi. Mereka turun satu per satu dengan senyum yang masih tergambar jelas di wajah mereka.
“Terima kasih, Pak Fery. Bapak adalah bagian dari perjalanan menyenangkan kami hari ini,” kata Asad sambil menjabat tangan Pak Fery.
“Sama-sama, adik-adik. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu,” balas Pak Fery sambil melambaikan tangan.
Mereka bersembilan lalu berpisah di halte, masing-masing pulang ke rumah dengan hati yang penuh cerita. Sore itu, mereka tidak hanya membawa kenangan indah Bukit Teletubbies, tetapi juga pengalaman hidup yang mengajarkan bahwa berbeda agama tidak berarti berbeda dalam kemanusiaan.
Dalam kebersamaan, mereka menemukan makna sejati moderasi beragama bahwa cinta terhadap sesama, rasa saling menghormati, dan keinginan untuk hidup damai jauh lebih besar daripada perbedaan yang ada.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
