Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Chelsi Putri Lestari

BRICS, Dedolarisasi, dan Peran Sentral Tiongkok dalam Ekonomi Dunia Baru

Politik | 2026-02-26 14:53:09

Selama lebih dari tujuh dekade, sistem ekonomi global beroperasi di bawah dominasi dolar Amerika Serikat. Mata uang tersebut tidak hanya berfungsi sebagai alat transaksi internasional, tetapi juga menjadi fondasi stabilitas keuangan global, cadangan devisa utama, serta instrumen kekuatan geopolitik Washington. Namun dalam beberapa tahun terakhir, muncul dinamika baru yang mulai menantang struktur tersebut: menguatnya kerja sama negara-negara BRICS dan meningkatnya wacana dedolarisasi global dengan Tiongkok berada di pusat proses tersebut.

Ekspansi BRICS yang kini mencakup sejumlah negara berkembang utama menandai perubahan signifikan dalam distribusi kekuatan ekonomi dunia. Blok ini merepresentasikan porsi besar populasi global, sumber daya energi, serta pertumbuhan ekonomi masa depan. Akan tetapi, kekuatan BRICS tidak semata terletak pada jumlah anggotanya, melainkan pada dorongan kolektif untuk mengurangi ketergantungan terhadap sistem keuangan yang selama ini didominasi Barat.

Dalam konteks ini, Tiongkok memainkan peran yang jauh melampaui anggota biasa. Sebagai ekonomi terbesar dalam BRICS dan mitra dagang utama bagi sebagian besar negara Global South, Beijing memiliki kapasitas finansial, teknologi, dan institusional untuk mendorong alternatif terhadap sistem berbasis dolar. Upaya internasionalisasi yuan, penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan bilateral, hingga penguatan lembaga keuangan seperti New Development Bank mencerminkan strategi jangka panjang untuk menciptakan arsitektur ekonomi global yang lebih multipolar.

Dorongan dedolarisasi sendiri bukan sekadar proyek ideologis anti-Barat. Banyak negara berkembang mulai melihat ketergantungan terhadap dolar sebagai kerentanan strategis, terutama setelah meningkatnya penggunaan sanksi ekonomi sebagai instrumen politik luar negeri. Pembekuan aset negara, pembatasan akses sistem pembayaran internasional, serta volatilitas kebijakan moneter Amerika Serikat menunjukkan bahwa dominasi dolar membawa implikasi politik yang tidak dapat diabaikan.

Tiongkok membaca situasi ini sebagai peluang struktural. Melalui perluasan perdagangan berbasis yuan, pengembangan sistem pembayaran lintas batas, serta integrasi ekonomi dengan mitra Global South, Beijing secara bertahap membangun ekosistem finansial paralel. Strategi ini tidak bertujuan menggantikan dolar secara instan—sesuatu yang hampir mustahil dalam jangka pendek—melainkan mengurangi monopoli mata uang tunggal dalam ekonomi global.

Meski demikian, narasi dedolarisasi sering kali dilebih-lebihkan. Dolar masih memiliki keunggulan fundamental berupa kedalaman pasar keuangan, kepercayaan institusional, serta jaringan global yang sulit ditandingi dalam waktu singkat. Tantangan terbesar bagi BRICS dan Tiongkok justru terletak pada pembangunan kepercayaan internasional terhadap alternatif yang mereka tawarkan. Stabilitas mata uang, transparansi sistem finansial, serta koordinasi antaranggota menjadi prasyarat utama jika dedolarisasi ingin berkembang melampaui simbol politik.

Namun, perubahan besar dalam sistem internasional jarang terjadi secara revolusioner. Sejarah menunjukkan bahwa transformasi tatanan ekonomi global berlangsung secara gradual melalui diversifikasi kekuatan. Dalam perspektif ini, langkah Tiongkok melalui BRICS dapat dipahami sebagai proses rebalancing, bukan revolusi moneter global.

Yang sedang terjadi saat ini bukanlah runtuhnya dominasi dolar, melainkan munculnya dunia ekonomi yang semakin terfragmentasi dan kompetitif. Negara-negara kini memiliki lebih banyak pilihan dalam menentukan mitra finansial dan mata uang transaksi. Situasi tersebut memperbesar ruang manuver Global South sekaligus mengurangi ketergantungan tunggal terhadap pusat kekuatan ekonomi Barat.

Pada akhirnya, dedolarisasi bukan hanya soal mata uang, tetapi tentang distribusi kekuasaan global. Dengan kapasitas ekonomi, teknologi finansial, serta jaringan perdagangan yang luas, Tiongkok menempatkan dirinya sebagai aktor sentral dalam proses pembentukan ekonomi dunia baru. Pertanyaannya bukan lagi apakah perubahan ini akan terjadi, melainkan seberapa cepat dunia beradaptasi terhadap realitas multipolar yang semakin nyata.

Jika abad ke-20 ditandai oleh dominasi finansial Amerika Serikat, maka abad ke-21 berpotensi menjadi era kompetisi moneter global dan di dalamnya, Tiongkok melalui BRICS berupaya memastikan bahwa masa depan ekonomi dunia tidak lagi bergantung pada satu pusat kekuatan saja.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image