Ibu Kota Banten Tapi Rasa Desa? Menggugat Kualitas Angkutan Umum di Kota Serang
Transportasi | 2026-05-07 14:45:30
Sebagai Ibu Kota Provinsi Banten, Kota Serang seharusnya menjadi barometer kemajuan bagi daerah lain di sekitarnya. Namun, ada satu pemandangan kontras yang masih sulit diabaikan: karut-marut transportasi umum. Hingga saat ini, urusan mobilitas warga masih didominasi oleh angkutan kota (angkot) yang kondisinya mulai termakan usia dan skema rute yang terkadang membingungkan bagi pendatang baru.
Masalah transportasi di Serang bukan sekedar soal ketersediaan unit, melainkan soal integrasi dan kenyamanan. Di tengah gempuran transportasi online yang menawarkan kepraktisan, transportasi umum konvensional di Serang seolah-olah jalan di tempat. Akibatnya, ketergantungan warga terhadap kendaraan pribadi tetap tinggi, yang pada titik tersebut memperparah titik-titik kemacetan di jam sibuk, terutama di jalur-jalur utama menuju pusat kota atau kampus.
Dalam kacamata ilmu pemerintahan, penyediaan transportasi publik yang layak adalah bagian dari pelayanan publik (public service) yang wajib dipenuhi negara. Kita tidak hanya bicara soal perpindahan orang dari titik A ke titik B, tapi soal bagaimana pemerintah daerah mampu menciptakan ekosistem transportasi yang efisien, aman, dan terjangkau bagi semua lapisan masyarakat, termasuk pelajar dan pekerja.
Langkah digitalisasi dan modernisasi transportasi publik harus menjadi prioritas. Kita merindukan adanya halte yang terintegrasi, kepastian jadwal, hingga rute yang menjangkau seluruh pelosok pemukiman di Serang. Kehadiran Trans Banten yang sudah mulai beroperasi di beberapa titik merupakan awal yang baik, namun jangkauannya perlu terus meratakan agar tidak hanya menjadi "pajangan" di jalur utama saja.
Peningkatan jumlah penduduk dan pesatnya pertumbuhan ekonomi di Serang harus dibarengi dengan keberanian pemerintah daerah untuk merevitalisasi sistem transportasi secara menyeluruh. Tanpa sistem yang terintegrasi, kemacetan akan menimbulkan warisan yang tetap merugikan produktivitas warga.
Sudah saatnya Kota Serang tidak hanya dikenal sebagai pusat pemerintahan secara administratif, tetapi juga kota yang ramah mobilitas. Warga mendambakan transportasi umum yang manusiawi, yang membuat kita merasa bangga dan nyaman berkeliling kota tanpa harus selalu mengeluarkan kendaraan pribadi dari garasi.
Oleh: Anggun Ika PratiwiMahasiswa Ilmu Pemerintahan, Universitas Pamulang
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
