Banten: Juara Investasi, Tapi Mengapa Masih Jadi 'Gudang' Pengangguran?
Edukasi | 2026-05-07 18:39:52
Banten sering kali dijuluki sebagai "Tanah Jawara" sekaligus surga industri. Dengan ribuan pabrik yang berdiri kokoh dari Cilegon hingga Tangerang, logikanya angka kesejahteraan masyarakat haruslah tinggi. Namun, data sering kali berbicara sebaliknya. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), Provinsi Banten kerap menempati jajaran atas dalam daftar Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) secara nasional.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: Mengapa di tengah kepulan asap pabrik yang terus berproduksi, warganya sendiri masih banyak yang menjadi penonton di rumah sendiri?
Jika ditelaah dari perspektif ilmu pemerintahan, masalah ini bukan sekedar soal malas atau tidaknya masyarakat dalam mencari kerja. Ini adalah masalah ketidaksesuaian atau ketidaksesuaian antara profil lulusan pendidikan di daerah dengan kualifikasi yang dibutuhkan oleh industri. Pemerintah daerah seolah-olah berjalan sendiri dengan kurikulum pendidikannya, sementara industri berlari kencang dengan standar globalnya.
Selain itu, masalah klasik seperti praktik "orang dalam" atau pungutan pembohong dalam proses rekrutmen di daerah-daerah industri masih menjadi rahasia umum yang menghambat akses warga lokal yang kompeten namun tak punya hubungan. Hal ini menunjukkan lemahnya pengawasan dan tata kelola ketenagakerjaan di tingkat lokal.
Pemerintah daerah tidak bisa hanya bangga dengan angka investasi yang masuk setiap tahunnya. Investasi tanpa penyerapan tenaga kerja lokal yang optimal hanyalah angka di atas kertas yang tidak menyentuh akar rumput. Diperlukan keberanian politik untuk menciptakan regulasi yang mewajibkan perusahaan memberdayakan tenaga kerja lokal melalui pelatihan yang tersertifikasi dan berkelanjutan.
Kita tidak ingin Banten hanya menjadi tempat bagi para pendatang untuk mengadu nasib, sementara warga aslinya hanya mendapatkan polusi dan gangguan tanpa kepastian di masa depan. Sudah saatnya pemerintah daerah berbenah, melakukan sinkronisasi kebijakan dari hulu ke hilir, agar julukan “Pusat Industri” benar-benar membawa kemakmuran bagi rakyat Banten, bukan sekadar bagi para pemilik modal.
Oleh: Anggun Ika Pratiwi Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Pamulang
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
