Menggeser Dominasi Dolar: Seberapa Jauh BRICS Bisa Menjadi Alternatif Nyata?
Politik | 2026-05-06 18:25:24
Sejak berakhirnya Perjanjian Bretton Woods, dolar Amerika Serikat telah menempati posisi sentral dalam sistem keuangan global. Statusnya sebagai mata uang cadangan dunia memberikan keunggulan struktural bagi Amerika Serikat, mulai dari stabilitas ekonomi hingga pengaruh geopolitik yang luas. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, dominasi ini mulai menghadapi tantangan, salah satunya datang dari blok negara berkembang yang tergabung dalam BRICS.
Di tengah dinamika global yang semakin multipolar, wacana de-dolarisasi kembali menguat. China muncul sebagai aktor utama yang mendorong penggunaan mata uang alternatif dalam perdagangan internasional, baik melalui internasionalisasi yuan maupun kerja sama bilateral. Dalam konteks ini, BRICS sering dipandang sebagai wadah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar.
Namun, pertanyaan pentingnya adalah: apakah BRICS benar-benar mampu menjadi alternatif nyata?
Secara struktural, dominasi dolar tidak hanya ditopang oleh kekuatan ekonomi, tetapi juga oleh kepercayaan global, kedalaman pasar keuangan, serta stabilitas institusi. Hingga kini, belum ada mata uang tunggal dalam BRICS yang mampu menyaingi kombinasi faktor tersebut. Bahkan, upaya untuk menciptakan mata uang bersama BRICS masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perbedaan kepentingan nasional hingga ketimpangan ekonomi antaranggota.
Di sisi lain, langkah-langkah de-dolarisasi yang dilakukan tidak bisa diabaikan begitu saja. Peningkatan transaksi bilateral menggunakan mata uang lokal, diversifikasi cadangan devisa, serta pembentukan institusi seperti New Development Bank menunjukkan adanya upaya konkret untuk mengurangi dominasi dolar secara bertahap. Ini menandakan bahwa perubahan sistem global tidak terjadi secara revolusioner, melainkan evolusioner.
Namun demikian, penting untuk melihat fenomena ini secara proporsional. De-dolarisasi bukan berarti menghapus peran dolar sepenuhnya, melainkan menciptakan ruang bagi sistem yang lebih beragam. Dalam konteks ini, BRICS lebih tepat dipahami sebagai “penyeimbang” daripada “pengganti”.
Selain faktor ekonomi, dimensi geopolitik juga tidak dapat dilepaskan. Ketegangan global, sanksi ekonomi, serta fragmentasi sistem internasional mendorong negara-negara untuk mencari alternatif guna mengurangi risiko ketergantungan. Dalam situasi seperti ini, de-dolarisasi menjadi bukan hanya pilihan ekonomi, tetapi juga strategi politik luar negeri.
Pada akhirnya, masa depan dominasi dolar tidak akan ditentukan oleh satu aktor saja. Ia bergantung pada interaksi kompleks antara kekuatan ekonomi, kepercayaan global, inovasi finansial, serta dinamika politik internasional. BRICS memang menawarkan alternatif, tetapi untuk menjadi sistem yang benar-benar menggantikan dolar, masih dibutuhkan waktu, konsistensi, dan kepercayaan global yang kuat.
Dengan demikian, alih-alih melihatnya sebagai pertarungan “siapa menggantikan siapa”, lebih relevan untuk memahami bahwa dunia sedang bergerak menuju sistem keuangan yang lebih multipolar, di mana dolar tetap dominan, tetapi tidak lagi sepenuhnya tanpa tandingan.
Ilham Robiansyah, Mahasiswa Hubungan Internasional, UNSRI
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
