Luka Palestina, Kemanusiaan yang Menguji Hati Nurani Dunia
Agama | 2026-08-08 16:52:44Oleh: Luluk Sivana
Layar ponsel dan televisi kita setiap hari disuguhi oleh potongan gambar yang menghimpit dada: puing-puing bangunan yang hancur, asap membubung tinggi, menceritakan ibu yang kehilangan anaknya, serta tangis balita yang terbiasa mendengar suka bom dibandingkan lagu pengantar tidur. Isu Palestina bukanlah cerita baru. Selama lebih dari tujuh dekade, konflik, pendudukan, dan krisis kemanusiaan di tanah para nabi tersebut terus berulang bagai lingkaran setan yang tak kunjung menemukan muara damai.
Namun, di tengah hiruk pikuk pemberitaan dan dinamika geopolitik global, timbul satu pertanyaan mendasar yang terus mengetuk hati nurani kita: sampai kapan dunia akan membiarkan ketidakadilan ini berlanjut? Palestina bukan sekadar titik kecil di peta Timur Tengah; ia telah menjadi panggung di mana ketulusan prinsip kemanusiaan dan keadilan internasional diuji secara nyata.
Lebih dari Sekadar Isu Agama: Ini Adalah Ujian Kemanusiaan
Sering kali, narasi mengenai Palestina disempitkan hanya sebagai konflik keagamaan. Mereduksi perjuangan rakyat Palestina semata-mata pada persoalan keyakinan adalah sebuah kekeliruan besar yang mendorong akar masalah sebenarnya. Isu Palestina adalah krisis kemanusiaan yang sangat mendasar. Ini adalah tentang penerapan hak atas tanah, pengusiran paksaan, pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), dan penerapan hak paling mendasar suatu bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri ( hak untuk menentukan nasib sendiri ).
Di sana, tidak hanya umat Islam yang menderita. Komunitas Kristen Palestina—salah satu komunitas Kristen tertua di dunia—juga menderita penderitaan, penderitaan, dan kehilangan yang sama. Gereja-gereja bersejarah runtuh bersama masjid-masjid tua. Ketika sebuah bom meledak di pemukiman warga, racun ketakutan dan penderitaannya tidak pernah memilih identitas agama korbannya.
Ketika kita memandang Palestina melalui kacamata kemanian murni, batas-batas geografis dan keyakinan seharusnya lebur. Siapapun yang memiliki hati nurani, melihat latar tanpa belakang, pasti akan merasakan kepedihan saat melihat ketidakadilan yang dipraktikkan secara terbuka dan terus menerus.
Standar Ganda dan Tumpulnya Hukum Internasional
Salah satu hal yang paling menyakitkan dari krisis Palestina adalah bagaimana lembaga-lembaga dunia kerap tampak melayu dan tumpul. Berbagai resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah diterbitkan, berbagai hukum internasional telah dikaji, namun dalam praktiknya, ketimpangan kekuasaan membuat penegakan hukum seolah berhenti di atas kertas.
Dunia menyaksikan betapa indahnya narasi hukum internasional dan HAM ketika disuarakan di ruang-ruang konferensi yang megah di Jenewa atau New York. Namun, narasi itu seolah kehilangan tajinya ketika bayangkan pada kenyataan tanah Palestina. Penduduk ilegal terus meluas, blokade ekonomi meremukkan tatanan kehidupan warga di Jalur Gaza, dan akses terhadap air bersih serta fasilitas kesehatan dikontrol secara ketat.
Sikap diam dan standar ganda dari beberapa negara pemegang kekuatan global menunjukkan betapa seringnya nilai-nilai kemanusiaan dikorbankan demi kepentingan sektor politik dan ekonomi. Ini adalah ironi terbesar abad modern: di era ketika teknologi dan peradaban manusia berada di puncaknya, kita justru membiarkan penderitaan massal terjadi secara live di layar kaca kita sehari-hari.
Indonesia dan Janji Sejarah yang Tak Pernah Padam
Bagi bangsa Indonesia, dukungan terhadap kemerdekaan Palestina bukanlah sekedar pilihan politik luar negeri, melainkan sebuah amanat sejarah dan konstitusi yang bersifat mutlak. Dalam Pembukaan UUD 1945, tertera kalimat tebal yang menjadi pijakan berbangsa: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh karena itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.”
Rakyat Indonesia tidak pernah lupa bahwa Palestina adalah salah satu pihak pertama yang mengakui keberadaan Indonesia sewaktu baru merdeka pada dekade 1940-an. Hubungan batin yang kuat ini mengakar dari era Presiden Soekarno hingga hari ini. Bung Karno pernah dengan tegas menyatakan bahwa selama kemerdekaan belum diserahkan kepada rakyat Palestina, selama itulah bangsa Indonesia akan berdiri menantang penjajahan tersebut.
Sikap yang konsisten ini tidak hanya tercermin dalam diplomasi formal pemerintah di panggung PBB atau Organisasi Kerja Sama Islam (OKSI), tetapi juga dalam gerakan langkah masyarakat sipil. Dari penggalangan dana, bantuan medis, pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, hingga aksi damai yang rutin digelar, Indonesia terus membuktikan bahwa solidatitas untuk Palestina mengalir deras di urat nadi bangsa ini.
Melawan Lelah Narasi : Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Di tengah rentetan berita duka yang tak kunjung usai, kerap kali muncul rasa lelah atau perasaan tidak berdaya ( fatigue ). Kita bertanya pada diri sendiri: Apalagi yang bisa dilakukan dari jarak ribuan kilometer? Apakah suara kita benar-benar berdampak?
Jawabannya adalah: ya, suara dan tindakan kita sangat berarti. Senjata terkuat dari sebuah titik adalah kelupaan dan kesunyian dari dunia luar. Ketika dunia berhenti membahas Palestina, saat itulah perjuangan mereka benar-benar dikalahkan.
Berikut adalah langkah konkrit yang bisa terus kita rawat:
- Menjaga Kebenaran Narasi: Di era disinformasi, terus menyebarkan informasi yang akurat mengenai kondisi tujuan di Palestina adalah bentuk perlawanan digital. Jangan biarkan narasi ditutupi oleh propaganda yang memutarbalikkan fakta.
- Dukungan Kemanusiaan Berkelanjutan: Menyalurkan bantuan finansial melalui lembaga-lembaga filantropi yang terpercaya dan terverifikasi untuk memastikan logistik, obat-obatan, dan kebutuhan mendasar tetap mengalir ke wilayah-wilayah terdampak.
- Tekanan Diplomatik dan Ekonomi: Mendukung langkah-langkah kebijakan yang menuntut pertanggungjawaban internasional atas pelanggaran hukum di wilayah pendudukan, serta memilih secara bijak produk atau entitas yang mendukung tindakan curang.
- Doa dan Solidaritas Moral: Bagi umat beragama, doa adalah kekuatan spiritual yang tak terputus, memperkuat batin saudara-saudara kita yang berada di garis depan penderitaan.
Menjaga Nyala Harapan
Palestina adalah cermin bagi diri kita sendiri. Ia menguji seberapa dalam kadar kemanusiaan kita, seberapa kuat keberanian kita untuk berpihak pada yang tertindas, dan seberapa tekun kita merawat ketidaksetujuan terhadap kezaliman.
Sejarah mengajarkan bahwa tidak ada tembok pendudukan yang abadi. Dari Apartheid di Afrika Selatan hingga runtuhnya rezim-rezim otoriter di masa lalu, keadilan mungkin tertunda, namun ia tidak akan pernah bisa dimatikan sepenuhnya. Selama masih ada manusia yang bersuara, selama masih ada pena yang menuliskan kebenaran, dan selama masih ada doa yang dilangitkan, nyala harapan untuk kemerdekaan Palestina tidak akan pernah padam.
Mari pastikan nama Palestina tetap keren dalam diskusi-diskusi kita, dalam tulisan-tulisan kita, dan dalam setiap akurasi empati kita. Alasan membela Palestina pada hakikatnya adalah membela kemanusiaan kita sendiri.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
