Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Syifa Nailah

Al-Aqsa, Gaza, dan Kegagalan Sistem Dunia Melindungi Palestina

Dunia islam | 2026-09-15 22:01:11

Al-Aqsa, Gaza, dan Kegagalan Sistem Dunia Melindungi Palestina

Oleh Syifa Nailah

Kelakuan zionis Israel rasanya semakin keterlaluan dan tidak pernah berubah dari peran antagonisnya. Akhir Agustus 2026 ini, Itamar Ben-Gvir, Menteri Keamanan Nasional Israel, kembali menerobos Kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur bersama dengan sekelompok pemukim Yahudi dan dilindungi aparat kepolisian Israel. Ia melakukan ibadah serta doa dan ritual ala Talmud di bagian timur halaman masjid, dan tampak menyerukan agar sebuah kuil Yahudi didirikan di lokasi tersebut.

Jika masih ada yang mendukungnya sebab kesepakatan internasional untuk saling respect terhadap urusan dalam negeri masing-masing. Maka sungguh jelas, bahwa yang dilakukan Israel Adalah upaya berkali-kali dalam melanggar kesepakatan bersama. Tindakan ini melanggar kesepakatan status quo yang telah berlangsung puluhan tahun antara Israel dan Yordania mengenai kompleks tersebut. Berdasarkan perjanjian status quo 1967, non-Muslim tidak diperbolehkan melakukan ibadah di situs itu, meski warga Yahudi diizinkan berkunjung. Sejak menjabat pada 2022, Ben-Gvir memang berulang kali melakukan aksi provokatif serupa di kompleks tersebut, yang selalu memicu kecaman luas.

Ben-Gvir dikenal sebagai pendukung "pembersihan etnis" warga Palestina dari wilayah-wilayah yang diduduki Israel, dan merupakan bagian dari gerakan pemukim yang semakin berkembang, yang ingin mengambil alih kompleks tersebut untuk membangun sinagoge Yahudi menggantikan situs suci umat Islam itu.

Awal September 2026, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir memaparkan rencana bernama "Disengagement 710" yang mana namanya merujuk pada penarikan Israel dari Gaza tahun 2005 sekaligus serangan 7 Oktober. Rencana ini menjadi bagian inti kampanye pemilu partainya, Otzma Yehudit (Jewish Power), yang ingin memimpin kementerian migrasi baru jika terbentuk. Rencana tersebut menargetkan kepergian warga Palestina dari Gaza secara bertahap yaitu 250.000 orang pada tahun pertama, 1,11 juta orang dalam tiga tahun, dan sekitar 1,86 juta orang dalam tujuh tahun (mencakup sebagian besar populasi Jalur Gaza).

Sejumlah media dan pengamat internasional, menyebut skema "migrasi sukarela" ini sesungguhnya adalah pemindahan paksa (forced displacement) yang menurut hukum internasional (Konvensi Jenewa) tergolong kejahatan perang bila dilakukan terhadap warga sipil di wilayah pendudukan. Warga Gaza sendiri ketika diwawancarai menegaskan tidak akan meninggalkan tanah mereka.

Rencana-rencana tersebut dibenarkan oleh Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz. Katz mengungkapkan dalam sebuah konferensi yang diselenggarakan media Israel Ynet bersama surat kabar Yedioth Ahronoth bahwa pemerintahnya telah menyiapkan rencana untuk memindahkan warga Palestina dari Jalur Gaza. Katz menyebut rencana tersebut masih membutuhkan persetujuan Amerika Serikat, khususnya terkait negara tujuan pemindahan warga Gaza.

Masihkah kaum muslimin berharap penyelesaian masalah Israel dan Palestina ini kepada hukum dan kesepakatan internasional atau Amerika Serikat yang digadang-gadang sebagai penjaga perdamaian dunia? Bukankah terlalu naif jika kita kaum muslimin masih terus berharap solusi pada negara-negara yang bahkan hanya mementingkan kepentingan negerinya saja sehingga melegalkan berbagai macam cara untuk mendapatkan dan menutupinya? Masih naif pula kita, jika kita menganggap negara-negara Uni Eropa yang menyiapkan sanksi terhadap Ben-Gvir dapat menjadi oase di tengah kepayahan Palestina berjuang sendirian. Sebab tidak ada yang berpengaruh terhadap kecaman dan sanksi mereka selain menunjukkan bahwa dibawah slogan perdamaian dunia itu hanya formalitas politis yang tidak akan pernah mengubah agresi militer berkepanjangan Israel terhadap Palestina.

Sikap-sikap Uni Eropa dan bahkan negeri-negeri muslim sekalipun hanya menunjukkan bahwa batas-batas nasional mereka menghalangi mereka untuk bersikap sebagaimana seharusnya seorang muslim. Sebab batas-batas nasional mereka tersandera kepentingan yang tidak sedikit kepada negara-negara penjajah tersebut. Alhasil, dengan kondisi tersebut kaum muslimin dipaksa menerima bahwa ‘selamanya’ Palestina harus berjuang sendiri dan ‘selamanya’ kaum muslim hanya dapat membantu dengan mengecam dan mengirim bantuan logistik dan sejenisnya saja tanpa ada celah untuk menyelesaikan persoalan yang memenangkan Palestina. Sebab yang berdiri bersama negara penjajah adalah Israel, bukan Palestina.

Sungguh ironi yang jauh-jauh hari sudah Rasulullah gambarkan dalam haditsnya,

Dari Tsauban radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Hampir saja umat-umat lain saling mengajak untuk mengerumuni kalian, sebagaimana orang-orang yang hendak makan saling mengajak (mengundang) ke hidangan mereka." Lalu seseorang bertanya: "Apakah karena jumlah kami sedikit pada saat itu, wahai Rasulullah?" Rasulullah ﷺ menjawab: "Bahkan kalian pada saat itu banyak jumlahnya, akan tetapi kalian seperti buih di aliran air (buih yang terbawa arus banjir). Allah akan mencabut rasa gentar/takut dari dada musuh-musuh kalian terhadap kalian, dan Allah akan menanamkan dalam hati kalian penyakit 'wahn'." Mereka bertanya lagi: "Wahai Rasulullah, apa itu wahn?" Beliau menjawab: "Cinta dunia dan takut mati." (HR. Abu Dawud, no. 4297)

Bukankah sudah saatnya kaum muslim bersatu dan memimpin dengan kepemimpinan berpikir Islam sehingga dapat menyelesaikan dengan konkrit persoalan Palestina dan bahkan persoalan-persoalan lain yang terus menerus menimpa umat ini? Sudah saatnya kaum muslim dipimpin kembali dengan politik Islam sehingga segala bidang kehidupan dapat dengan menyeluruh diatur dengan pengaturan yang memanusiakan manusia. Sebab hukum Allah ta’ala telah datang untuk menjadi solusi sedangkan hukum yang ditunjuki hawa nafsu manusia hanya akan mengantarkan kepada kerusakan.

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

Artinya: "Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri."(QS. An-Nahl (16): 89).

وَأَنِ احْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ ... أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Artinya: "Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka... Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (QS. Al-Ma'idah (5): 49–50).

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum (30): 41).

Sunguh sudah saatnya kaum Muslimin bersatu dan mengembalikan kehidupan Islam semata dengan jalan perubahan yang Rasulullah ﷺ contohkan dan tunjuki.Semoga Allah ta’ala jadikan kemenangan dan keberkahan hidup itu dekat dengan kita dan segenap saudara-saudara muslim kita, termasuk saudara muslim tercinta di Gaza, Palestina.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image