Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Daffa Nabil Mubarak

24 ke 1: Mukjizat di Lintasan Catalunya

Sastra | 2026-01-18 15:51:27

Cerpen ini mengisahkan perjuangan heroik Kiandra Ramadhipa, pembalap muda berusia 15 tahun asal Sleman, yang harus menghadapi ujian mental terberat dalam karier balapnya di ajang European Talent Cup (ETC) di Sirkuit Catalunya, Barcelona. Akibat hukuman drop position karena melakukan slow riding saat kualifikasi, Kiandra terlempar dari urutan ke-10 menuju posisi starting grid ke-24—titik paling buncit yang secara logika mustahil untuk mencapai podium.

Di atas aspal yang membara, Kiandra membuktikan bahwa kegagalan di garis start bukanlah akhir dari segalanya. Dengan mengandalkan acceleration motor Honda NSF250R yang mumpuni serta teknik late braking dan cut-back yang presisi di tikungan-tikungan krusial, ia merayap naik menembus chaos di barisan belakang hingga masuk ke grup depan. Di bawah filosofi Satu Hati, cerpen ini menggambarkan bagaimana ketenangan dalam menghadapi tekanan dan mentalitas resilience mampu mengubah posisi nadir menjadi sebuah mukjizat kemenangan yang mengharukan saat lagu Indonesia Raya berkumandang di tanah Spanyol.

Udara musim gugur di Sirkuit Catalunya, Barcelona, terasa lebih menusuk dari biasanya bagi Kiandra Ramadhipa. Di dalam pit garage Astra Honda Racing Team yang sibuk dengan bunyi desing mesin, remaja 15 tahun itu hanya terdiam menatap layar monitor. Angka yang tertera di sana bak vonis yang menghantam ulu hati: Starting Grid: 24.

“Maafkan saya, Coach,” bisik Kiandra pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh deru motor yang sedang melakukan warm-up. “Saya terlalu lambat di sektor empat. Saya tidak bermaksud melakukan slow riding.”

Sang pelatih meletakkan tangan di bahu Kiandra, mencoba menyalurkan ketenangan di tengah atmosfer kompetisi European Talent Cup yang kental akan tekanan. “Penalti tetaplah penalti, Kiandra. Drop position dari urutan 10 ke 24 itu ibarat memulai balapan dari benua yang berbeda. Tapi ingat, balapan bukan tentang di mana kamu mulai, tapi di mana kamu berani menyentuh garis finish.”

Kiandra mengencangkan tali helmnya, menatap motor Honda NSF250R bernomor kebanggaannya. Di sekelilingnya, mekanik masih sibuk melakukan pengecekan terakhir pada tekanan ban dan set-up suspensi. Riuh rendah percakapan dalam bahasa Spanyol dan Inggris dari tim lawan di paddock sebelah terdengar seperti tantangan yang mengintimidasi.

“Ingat pesan saya,” ujar seorang kru mekanik sambil memberikan botol minum. “Motor ini punya acceleration yang luar biasa. Jangan habiskan emosimu di lap pertama. Cari gap yang tepat, lakukan overtaking dengan bersih, dan jangan biarkan mereka menutup jalurmu.”

“Saya tahu, Pak. Saya hanya ingin membayar kesalahan ini,” jawab Kiandra dengan tatapan mata yang menajam di balik visor helmnya.

Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar pengumuman melalui pengeras suara sirkuit, menyebutkan deretan nama pembalap internasional yang akan mengisi posisi front row. Nama Kiandra sama sekali tak terdengar, tenggelam jauh di urutan buncit. Namun, di dalam hatinya, bocah asal Sleman itu sedang merapal doa. Baginya, posisi ke-24 bukan sekadar angka, melainkan titik nadir tempat sebuah mukjizat harus dijemput dengan keberanian yang melampaui logika.

Satu Hati, Kiandra. Fokus,” tegas sang manajer tim saat mereka mulai mendorong motor menuju lintasan aspal yang membara.

Kiandra menarik napas panjang, menghirup aroma bensin dan aspal panas yang menjadi oksigennya sehari-hari. Di depannya, 23 pembalap terbaik dunia telah bersiap, menciptakan pagar betis manusia dan mesin yang harus ia tembus. Ia tahu, dari posisi 24 menuju podium pertama adalah sebuah kemustahilan yang hanya bisa dijawab dengan satu cara: melesat tanpa ragu.

Lampu merah padam. Dalam sekejap, lengkingan mesin 250cc memecah kesunyian Catalunya. Kiandra merasakan hentakan power dari Honda NSF250R miliknya. Ia tidak punya waktu untuk ragu. Dari posisi 24, ia melakukan late braking yang gila di tikungan pertama, masuk ke celah sempit di antara kerumunan pembalap yang masih mencari ritme.

"Ayo, Kiandra! Inner line!" teriaknya dalam hati saat ia berhasil melewati empat pembalap sekaligus di lap pertama.

Namun, menembus papan tengah adalah neraka yang sebenarnya. Di lap kelima, ia terjebak dalam grup yang sangat agresif. Seorang pembalap asal Italia terus melakukan block pass, menutup ruang gerak Kiandra di setiap apex.

"Sial, dia sengaja memancing emosiku," geram Kiandra di balik helm. Setiap kali ia mencoba melakukan overtaking di lintasan lurus, lawan-lawannya memanfaatkan slipstream untuk kembali menyalipnya.

Di pit wall, kru Astra Honda Racing Team tampak tegang memandangi monitor live timing. Posisi Kiandra naik perlahan: 18... 15... 12. Namun, jarak dengan rombongan terdepan masih terpaut hampir lima detik.

“Kiandra, keep pushing! Jangan biarkan tyre wear menghambatmu!” teriak mekanik lewat papan pit board yang dijulurkan di pinggir lintasan.

Memasuki pertengahan balapan, drama terjadi. Di tikungan sepuluh, dua pembalap di depannya bersenggolan dan jatuh tepat di jalur balap Kiandra.

"Look out!" Kiandra reflek memiringkan motornya hingga menyentuh kerb paling ujung. Ban belakangnya sempat kehilangan traksi—sliding hebat yang nyaris melemparnya ke aspal. Jantungnya berdegup kencang, namun jemarinya dengan cekatan memainkan tuas kopling dan rem. Ia selamat, bahkan kini ia sudah berada di posisi 7.

"Gila... sedikit lagi saya habis," bisik Kiandra dengan napas memburu. Keringat bercucuran masuk ke mata, perih, namun fokusnya tak goyah. Ia melihat punggung tiga pembalap terdepan di kejauhan.

Tiga lap terakhir menjadi puncak dari segala perjuangan. Kiandra kini berada di posisi 4. Ia bisa merasakan panasnya hawa mesin dari motor di depannya. Di tikungan terakhir sebelum trek lurus, ia mengambil risiko besar. Ia tidak mengerem di titik yang seharusnya—sebuah aksi deep braking yang sangat berisiko.

"Jangan sekarang, tolong jangan lowside..." pintanya pada Sang Pencipta saat motornya miring pada sudut yang ekstrem.

Secara ajaib, bannya mencengkeram aspal dengan sempurna. Ia melesat ke posisi 2. Kini, hanya ada satu pembalap Spanyol di depannya. Di tribun, penonton mulai berdiri. Komentator berteriak histeris menyebut nama pembalap asal Sleman itu yang merangkak dari posisi buncit.

"Tinggal satu, Kiandra! Close the gap!" teriak manajer tim dari pinggir pagar pembatas, meski suaranya mustahil terdengar.

Di tikungan terakhir lap pamungkas, si pembalap Spanyol mencoba menutup celah dalam. Kiandra sudah tahu taktik itu. Ia sengaja mengambil jalur lebar di awal tikungan, lalu melakukan cut-back yang tajam tepat di tengah tikungan. Ia mengandalkan acceleration Honda-nya yang luar biasa untuk melesat di sisi dalam.

"Sekarang!"

Motor nomor 24 itu melesat maju, bahunya nyaris bersentuhan dengan pembalap lawan. Kiandra menutup jalur dengan berani di meter-meter terakhir menuju garis finish. Ia tidak menoleh ke belakang. Ia hanya fokus pada bendera kotak-kotak hitam-putih yang dikibarkan petugas sirkuit.

Ketika roda depannya menyentuh garis pertama kali, dunia seakan melambat. Dari posisi 24 ke posisi 1. Sebuah kemustahilan yang baru saja ia ubah menjadi kenyataan di tanah Spanyol.

Dunia di sekitar Kiandra mendadak senyap, meski ribuan pasang mata di tribun Sirkuit Catalunya sedang bersorak histeris. Saat ia menegakkan motornya dan melakukan cool-down lap, oksigen seolah baru kembali mengisi paru-parunya. Ia menatap papan skor digital besar di pinggir lintasan: P1 – K. Ramadhipa. Angka 24 yang tadi pagi menghantuinya seperti kutukan, kini telah bermutasi menjadi angka 1 yang suci.

Ia mengarahkan motornya menuju parc ferme. Begitu mesin dimatikan, keheningan itu pecah oleh serbuan kru Astra Honda Racing Team yang melompat pagar pembatas.

"Kamu gila, Kiandra! From last to first! Itu tidak masuk akal!" teriak salah satu mekanik sambil memeluk helmnya kuat-kuat.

Kiandra tidak menjawab. Ia turun dari motor dengan kaki yang masih gemetar karena sisa adrenalin. Di hadapan motor Honda NSF250R yang masih mengeluarkan hawa panas mesin, ia bersujud. Dahinya menyentuh aspal Catalunya yang membara—sebuah gestur syukur yang membuat suasana paddock mendadak haru.

Saat ia berdiri, sang manajer tim menghampirinya dengan mata berkaca-kaca. "Strategi cut-back di tikungan terakhir tadi... bagaimana kamu bisa terpikir melakukan itu dalam kecepatan setinggi itu?"

Kiandra menyeka keringat yang memedihkan matanya. "Saya tidak punya strategi khusus, Coach. Saya hanya percaya pada acceleration motor ini. Saat si pembalap Spanyol itu menutup jalur dalam, saya tahu dia akan kehilangan sedikit momentum. Di situlah saya masuk. Saya hanya... tidak ingin mengecewakan tim lagi karena penalti bodoh itu."

"Kamu tidak hanya membayar kesalahan, Nak," ujar sang manajer sambil menepuk dadanya yang masih mengenakan wearpack. "Kamu baru saja menunjukkan pada dunia apa artinya semangat Satu Hati. Dari posisi 24 ke podium pertama di kompetisi FIM JuniorGP? Itu bukan sekadar keberuntungan, itu adalah level konsistensi yang jarang dimiliki pembalap seusiamu."

Di sudut lain, beberapa pembalap internasional yang tadi meremehkannya hanya bisa terpaku. Mereka melihat remaja 15 tahun dari Sleman itu dikerubungi wartawan asing.

"Kiandra, your late braking was insane!" teriak salah seorang komentator televisi yang menghampirinya untuk wawancara singkat. "How did you manage the tyre wear after pushing so hard from the back?"

Kiandra tersenyum tipis ke arah kamera, mencoba mengatur napasnya yang masih memburu. "I just focused on every sector. I knew I made a mistake in qualifying, so I had to give 200 percent today. My team gave me a perfect bike, and I just did the rest."

Namun, puncak dari segala emosi itu meledak saat ia melangkah naik ke podium tertinggi. Di bawah langit Spanyol yang cerah, instrumen lagu Indonesia Raya mulai berkumandang. Kiandra berdiri tegak di antara dua pembalap Eropa yang tampak lebih jangkung darinya. Saat bendera Merah Putih perlahan terkerek naik, pertahanannya runtuh. Air mata jatuh membasahi pipinya. Ia teringat rumah di Sleman, teringat latihan keras di sekolah balap, dan teringat betapa tipisnya jarak antara kegagalan di posisi buncit dengan kejayaan di posisi puncak.

Di tribun, Gunarko Hartoyo dan jajaran manajemen Astra Honda menatapnya dengan bangga. Kemenangan ini bukan sekadar statistik di atas kertas; ini adalah pernyataan bahwa pembalap muda Indonesia tidak boleh lagi dipandang sebelah mata dalam starting grid mana pun di dunia.

Gema lagu Indonesia Raya perlahan memudar di udara Catalunya, namun getarannya masih terasa nyata di dada Kiandra. Saat ia melangkah turun dari podium tertinggi, ia tidak langsung menuju perayaan tim. Ia menghampiri motor Honda NSF250R miliknya yang masih terparkir di parc ferme. Ia mengelus tangki bahan bakarnya seolah sedang berterima kasih pada kawan lama.

"Kamu melakukannya dengan hebat, Nak," suara berat Gunarko Hartoyo memecah lamunannya. Pimpinan dari Astra Honda itu datang dengan senyum lebar, menjabat tangan Kiandra dengan erat. "Dari posisi 24 ke podium pertama. Ini bukan sekadar kemenangan, ini sejarah. Bagaimana rasanya?"

Kiandra tersenyum malu-malu, sisa air mata masih membekas di pipinya. "Jujur, Pak, kaki saya masih lemas. Tadi di lintasan, saya hanya berpikir bagaimana caranya menutup gap setiap lap. Saya tidak menyangka bisa sampai di sini setelah melakukan kesalahan fatal di kualifikasi."

Beberapa jurnalis asing segera mengerumuninya, membawa mikrofon dan kamera yang menyorot tajam. "Kiandra, your performance was legendary today!" seru salah satu jurnalis dari media otomotif Eropa. "Starting from the back of the grid and winning at Catalunya is almost impossible. What was the key?"

Kiandra menarik napas panjang, mencoba merangkai kata dalam bahasa Inggris yang ia pelajari di sekolah balap. "I think, it’s about focus and trust. I made a mistake before, but my team worked so hard for the bike's setup. I trusted the acceleration of my bike, especially in the last sector. I just didn't want to give up until the chequered flag."

Di sudut paddock, sang pelatih menghampiri dengan membawa lembar data logging hasil balapan. "Lihat ini," tunjuk sang pelatih pada grafik kecepatan. "Kamu melakukan fastest lap di tiga putaran terakhir. Saat pembalap lain mulai mengalami sliding karena ban yang mulai habis, kamu justru menemukan grip yang lebih baik. Itu namanya mental endurance."

"Saya hanya mencoba melakukan close the door di tikungan terakhir, Coach," sahut Kiandra sambil tertawa kecil. "Saya tahu pembalap di belakang saya sangat kencang di straight, jadi saya harus memastikan jalur saya benar-benar tertutup setelah cut-back itu."

Malam mulai turun di Barcelona, namun atmosfer di dalam tim masih sangat hangat. Kiandra duduk di sudut pit garage, menggenggam telepon genggamnya, menghubungi orang tuanya di Sleman, Yogyakarta. Kabar kemenangan dari posisi buncit ini telah meledak di tanah air.

"Bu, Kiandra juara satu," ucapnya lirih saat panggilan terhubung. Suaranya kembali serak karena haru. "Meskipun tadi harus mulai dari posisi paling belakang karena dihukum, tapi Kiandra bisa."

Perjalanan dari posisi 24 ke posisi 1 adalah metafora yang akan selalu ia ingat sepanjang karier balapnya. Catalunya telah mengajarkannya bahwa dalam dunia balap—seperti halnya hidup—sebuah hukuman atau posisi paling belakang bukanlah akhir dari segalanya. Selama mesin masih menyala dan spirit "Satu Hati" masih berdenyut di dada, mukjizat selalu punya celah untuk merayap masuk di antara deru mesin dan aspal yang membara.

Sambil melepas wearpack yang penuh keringat, Kiandra menatap trofi emas di atas meja. Esok, ia harus kembali berlatih. Karena di lintasan balap, pahlawan tidak hanya diciptakan dari garis start terdepan, tapi dari mereka yang mampu bangkit saat dunia menaruh mereka di posisi paling belakang.

Matahari mulai tenggelam di cakrawala Barcelona, menyisakan semburat jingga yang memantul pada kaca-kaca gedung di kompleks Sirkuit Catalunya. Di dalam motorhome tim yang mulai tenang, Kiandra Ramadhipa duduk sendirian di bangku kayu panjang. Ia menunduk, menatap sepatu balapnya yang lecet akibat gesekan ekstrem dengan aspal di tikungan-tikungan tajam tadi. Di sampingnya, sebuah botol air mineral yang sudah kosong dan medali emas yang berat menjadi saksi bisu atas apa yang baru saja terjadi.

"Masih belum percaya?" sebuah suara mengejutkannya. Gunarko Hartoyo berdiri di ambang pintu, menyandarkan bahu pada bingkai pintu sambil bersedekap.

Kiandra mendongak dan tersenyum tipis. "Rasanya seperti baru saja bangun dari mimpi buruk di qualifying, lalu dipaksa masuk ke mimpi paling indah di race, Pak. Tadi itu... benar-benar chaos di barisan belakang."

Gunarko masuk dan duduk di samping pemuda itu. "Dunia sedang membicarakanmu, Kiandra. Kamu bukan sekadar menang, kamu melakukan masterclass overtaking. Dari posisi 24 ke podium pertama itu bukan hanya soal mesin Honda NSF250R yang mumpuni, tapi soal kepala dingin di bawah helm yang panas."

"Saya hanya teringat pesan di pit wall tadi," sahut Kiandra pelan. "Bahwa balapan ini tentang siapa yang paling berani menyentuh garis finish, bukan siapa yang paling sombong di garis start. Saat saya melewati motor terakhir di last lap, saya merasa seolah motor ini punya nyawa sendiri. Acceleration-nya saat keluar dari apex terakhir terasa sangat presisi."

Pintu motorhome terbuka lebar, dan sang pelatih masuk dengan wajah yang masih memerah karena antusiasme. Ia membawa sebuah tablet yang menampilkan statistik lap time Kiandra.

"Kiandra, lihat ini," ujar sang pelatih sembari menunjuk grafik berwarna hijau. "Konsistensimu di sektor empat luar biasa. Kamu melakukan late braking di titik yang sama dalam sepuluh lap berturut-turut tanpa sekalipun kehilangan racing line. Itu yang membuat lawan-lawanmu di depan merasa tertekan secara mental. Mereka tidak menyangka 'si nomor 24' akan muncul di spion mereka secepat itu."

Kiandra mengangguk hormat. "Terima kasih, Coach. Maafkan saya yang sempat membuat tim tegang karena penalti slow riding itu. Saya belajar banyak hari ini bahwa satu detik kecerobohan harus dibayar dengan keringat berlipat-lipat di lintasan."

"Kesalahan itu yang membuat kemenangan ini terasa manis," balas sang pelatih. "Tanpa posisi 24 itu, kita tidak akan pernah melihat mukjizat hari ini. Sekarang, kemas barang-barangmu. Sleman sudah menunggumu, dan Indonesia sudah tidak sabar mendengar cerita tentang bagaimana bocah 15 tahun menaklukkan Catalunya dari titik nadir."

Saat Kiandra berjalan keluar menuju bus tim, ia menyempatkan diri menatap lintasan aspal yang kini gelap dan sunyi. Angin malam Barcelona berhembus dingin, namun hatinya hangat. Ia menyadari satu hal: posisi 24 hanyalah angka di atas kertas, namun posisi 1 adalah takdir yang ia jemput dengan keberanian.

Di kejauhan, sisa-sisa spanduk bertuliskan One Heart masih melambai ditiup angin, seolah memberi salam perpisahan pada sang jawara baru. Kiandra meraba saku jaketnya, merasakan getar ponsel yang tak henti-hentinya menerima ucapan selamat. Ia tahu, perjalanan menuju kelas dunia masih panjang dan terjal, namun malam ini, di tanah Spanyol, ia telah membuktikan bahwa bagi mereka yang pantang menyerah, garis finish akan selalu menjadi tempat pulang yang paling indah.

"Mari pulang, Pak," ujar Kiandra mantap pada manajer timnya. "Besok, kita mulai lagi dari nol. Karena juara sejati adalah mereka yang selalu merasa lapar akan tantangan berikutnya."

Kemenangan Kiandra Ramadhipa di Catalunya bukan sekadar catatan statistik tentang seorang pembalap yang melewati dua puluh tiga rivalnya. Ia adalah sebuah narasi tentang resilience—daya lentur jiwa manusia saat dihimpit oleh beban kesalahan sendiri. Memulai dari posisi dua puluh empat bukanlah sekadar tantangan teknis, melainkan sebuah ujian mental untuk tidak menyerah pada rasa malu dan putus asa sebelum bendera start dikibarkan. Di dunia yang sering kali hanya memuja mereka yang berada di front row, Kiandra membuktikan bahwa titik nadir bukanlah lubang tanpa dasar, melainkan pijakan paling kokoh untuk melompat lebih tinggi.

Amanat yang tertinggal di aspal Barcelona itu sangat jelas: bahwa dalam hidup, kita sering kali mendapatkan penalty akibat kecerobohan atau keadaan yang tidak memihak. Namun, posisi paling belakang bukanlah vonis mati atas sebuah impian. Keberhasilan Kiandra melakukan cut-back yang presisi dan mengoptimalkan acceleration motornya mengajarkan bahwa kemenangan adalah perpaduan antara kesiapan teknis, kepercayaan pada tim, dan ketenangan dalam mengambil risiko di tengah chaos. Saat lagu Indonesia Raya berkumandang, dunia diingatkan bahwa mukjizat tidak jatuh dari langit begitu saja; ia adalah hasil dari keringat yang diperas dalam sunyi, fokus yang tidak terpecah oleh intimidasi, dan semangat Satu Hati yang menolak untuk berhenti sebelum menyentuh chequered flag.

Pada akhirnya, hidup tidak selalu memberikan kita posisi pole yang nyaman. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh remaja asal Sleman ini, tidak peduli seberapa jauh kita tertinggal di belakang, selama masih ada bahan bakar keyakinan di dalam dada dan keberanian untuk melakukan late braking pada ketakutan kita sendiri, posisi pertama akan selalu menjadi kemungkinan yang nyata. Karena sejatinya, pemenang sejati bukanlah dia yang tidak pernah salah, melainkan dia yang mampu mengubah sisa-sisa kesalahan menjadi bahan bakar untuk melesat menuju puncak tertinggi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image