Tadabbur Ramadhan (044) Fitrah yang Mulai Tertutup
Khazanah | 2026-02-26 18:36:34
Ada yang berbeda ketika Ramadhan datang. Hati yang biasanya keras mendadak mudah tersentuh. Mata yang jarang basah tiba-tiba mudah berkaca-kaca saat doa dipanjatkan. Langkah yang berat menuju masjid terasa lebih ringan. Seolah ada sesuatu dalam diri yang dipanggil untuk kembali. Pertanyaannya: kembali ke mana?
Islam mengajarkan bahwa setiap manusia lahir membawa fitrah—potensi suci untuk mengenal dan mengakui Allah. Iman bukanlah sesuatu yang asing bagi jiwa manusia. Ia bukan barang baru yang dipaksakan dari luar. Ia sudah tertanam sejak awal penciptaan.
Dalam hadits riwayat Jami' at-Tirmidzi, dijelaskan bahwa seluruh keturunan Adam pernah dihadirkan dan dipersaksikan atas rububiyah Allah. Ini sejalan dengan firman Allah dalam Qur'an bahwa manusia pernah bersaksi, “Benar, Engkau Tuhan kami.” Artinya, tauhid adalah memori terdalam jiwa manusia.
Namun perjalanan hidup di dunia perlahan menutupinya.
Kesibukan, ambisi, luka, kekecewaan, dan gemerlap dunia menjadi lapisan demi lapisan yang menutupi cahaya fitrah itu. Kita tetap beriman, tetapi kadang iman terasa redup. Kita tetap shalat, tetapi hati terasa jauh. Kita tetap berdoa, tetapi tidak selalu merasakan getarannya.
Ramadhan hadir bukan sekadar sebagai bulan ibadah, melainkan sebagai bulan restorasi jiwa. Ia membersihkan debu yang menempel pada fitrah. Ia mengikis karat yang mengeras di hati. Tidak heran jika di bulan ini hati terasa lebih lembut. Karena sejatinya jiwa sedang kembali ke keadaan asalnya—dekat dengan Allah, tunduk, dan penuh harap.
Namun memasuki pekan kedua, ujian sesungguhnya dimulai.
Euforia awal mulai berkurang. Saf tarawih tak serapat malam-malam pertama. Tilawah mulai terselip di antara kesibukan. Di sinilah pertanyaannya menjadi sangat personal: apakah fitrah yang mulai terbuka ini akan kita rawat, atau kembali kita biarkan tertutup?
Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan menahan ego. Ia bukan sekadar menunda makan, tetapi menata ulang orientasi hidup. Dari dunia menuju akhirat. Dari lalai menuju sadar. Dari jauh menuju dekat.
Jika di bulan ini hati terasa lebih hidup, itu bukan kebetulan. Itu tanda bahwa fitrah sedang mengetuk. Tugas kita adalah menjaganya tetap menyala bahkan setelah Ramadhan berlalu.
Merawat Fitrah yang Terbuka
Fitrah adalah cahaya bawaan, tetapi ia bisa tertutup oleh dosa dan kelalaian. Ramadhan adalah momen pembersihan dan pengembalian diri pada janji tauhid yang pernah kita ucapkan. Kelembutan hati di bulan ini adalah sinyal bahwa jiwa sedang kembali ke asalnya. Konsistensi menjadi kunci di pekan kedua: bukan hanya semangat sesaat, tetapi keberlanjutan amal. Merawat fitrah berarti menjaga shalat tepat waktu, memperbanyak tilawah, menahan lisan, memperkuat doa, dan meluruskan niat. Ramadhan mengajarkan bahwa perubahan sejati bukan pada rutinitas lahiriah semata, tetapi pada kesadaran batin bahwa kita adalah hamba Allah. Jika fitrah tetap terjaga, maka setelah Ramadhan pun hati akan tetap hidup, bukan kembali tertutup oleh dunia.
Penutup Renungan
Bayangkan jika suatu hari kita kembali menghadap Allah dengan hati yang bersih, sebagaimana saat pertama kali kita bersaksi. Ramadhan adalah kesempatan langka untuk membersihkan cermin jiwa sebelum hari itu tiba. Jangan biarkan pekan kedua menjadi awal kemunduran. Jadikan ia titik penguatan. Karena yang sedang kita rawat bukan sekadar kebiasaan baik—tetapi cahaya fitrah yang menentukan bagaimana kita akan kembali kepada-Nya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
