Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Siti Rochmawati

Sinergi Guru Madrasah Aliyah DIY dan Balai Litbang Agama Semarang: Membumikan Moderasi Beragama dan Ekoteologi

Guru Menulis | 2026-01-21 00:38:06

Bantul (MAN 3 Bantul) Semangat penguatan karakter kebangsaan dan kepedulian lingkungan mewarnai pertemuan 36 guru Pendidikan Pancasila Madrasah Aliyah se-DIY di Lantai 3 Balai Litbang Agama (BLA) Semarang pada Selasa, 20 Januari 2026. Dalam kegiatan studi kolaboratif ini, tiga guru Pendidikan Pancasila dari MAN 3 Bantul turut hadir secara aktif untuk mendalami materi moderasi beragama dan ekoteologi. Kehadiran para pendidik ini menjadi langkah strategis dalam mengintegrasikan nilai-nilai harmoni dan pelestarian alam ke dalam kurikulum pembelajaran di madrasah, khususnya di wilayah Yogyakarta.

Kepala BLA Semarang, Moch Muhaemin, menjelaskan bahwa pihaknya terus berkomitmen memperkuat moderasi beragama melalui kerja sama dengan pemerintah daerah dan institusi pendidikan. Beliau menegaskan bahwa guru Pendidikan Pancasila memiliki peran vital sebagai agen penyebar nilai-nilai inklusif dan kepedulian ekoteologis. Dengan posisi strategis tersebut, para guru diharapkan mampu membimbing siswa agar tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual yang termanifestasi dalam perilaku menghargai sesama manusia dan menjaga keseimbangan alam.

Salah satu poin utama dalam studi ini adalah implementasi ekoteologi, yang merupakan mandat langsung dari Menteri Agama kepada BLA untuk menyuarakan isu lingkungan. Ekoteologi tidak hanya dipahami sebagai teori, melainkan diwujudkan dalam praktik keseharian yang nyata. Peserta diajak untuk menerapkan kebijakan zero plastic, pemilahan sampah, serta penghematan energi seperti mematikan listrik dan pendingin ruangan saat tidak digunakan. Budaya hemat kertas dan pengurangan sampah plastik ini diharapkan menjadi standar baru yang dibawa pulang oleh para guru, termasuk delegasi dari MAN 3 Bantul, untuk diterapkan di lingkungan sekolah masing-masing.

Wawasan keagamaan para peserta semakin diperdalam oleh narasumber Luthfi Rahman dari Rumah Moderasi Beragama UIN Walisongo Semarang. Beliau memaparkan bahwa berbagai pemikiran keagamaan yang berkembang di masyarakat sebenarnya merupakan hasil penafsiran tertentu yang tidak boleh dipaksakan kepada orang lain. Menurutnya, moderasi beragama harus diawali dengan keterbukaan pikiran secara psikologis. Kesadaran bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan menjadi kunci utama agar para pendidik dapat mengajarkan cara beragama yang moderat dan toleran di tengah keberagaman bangsa.

Kegiatan ini diharapkan mampu membawa dampak jangka panjang bagi iklim pendidikan di Madrasah Aliyah se-DIY. Dengan partisipasi aktif guru-guru, termasuk tiga perwakilan dari MAN 3 Bantul transformasi nilai moderasi dan ekoteologi diharapkan dapat menyentuh akar rumput di ruang-ruang kelas. Sinergi ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan agama dan kewarganegaraan dapat berjalan beriringan dalam membentuk generasi masa depan yang religius, toleran, dan memiliki tanggung jawab moral terhadap keberlangsungan bumi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image