Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ridwan Rizkyanto

Rahasia Pohon Kelapa dalam Menjaga Hidrasi dan Energi Saat Puasa

Riset dan Teknologi | 2026-02-26 14:17:53

Oleh: Ridwan Rizkyanto

Dosen UNAND

Ramadan mengubah ritme biologis tubuh secara signifikan. Pola makan bergeser ke dua waktu utama sahur dan berbuka sementara asupan cairan dibatasi dalam rentang yang lebih sempit. Dalam konteks fisiologi, tantangan utama saat puasa adalah menjaga keseimbangan cairan (hidrasi), stabilitas glukosa darah, serta ketersediaan energi yang cukup untuk aktivitas harian. Di tengah beragam pilihan pangan modern, pohon kelapa justru menyimpan solusi yang sederhana, lokal, dan berbasis sains untuk menjawab kebutuhan tersebut.

Air kelapa merupakan komponen pertama yang paling dikenal. Secara komposisi, air kelapa mengandung elektrolit penting seperti kalium, natrium, magnesium, dan klorida dalam proporsi yang mendukung rehidrasi ringan hingga sedang. Sejumlah kajian menunjukkan bahwa air kelapa memiliki karakteristik minuman isotonik alami, dengan osmolalitas yang relatif sesuai untuk membantu penyerapan cairan oleh usus halus. Dalam praktik Ramadan, konsumsi 150–250 ml air kelapa saat berbuka dapat membantu mengganti elektrolit yang hilang selama puasa, terutama pada individu dengan aktivitas fisik sedang hingga tinggi. Namun, perlu ditegaskan bahwa air kelapa berfungsi sebagai pelengkap, bukan pengganti air putih sebagai sumber hidrasi utama (Yong et al., 2020; Ismail et al., 2021).

Selain elektrolit, air kelapa juga mengandung gula alami dalam jumlah moderat. Kandungan glukosa dan fruktosa ini dapat membantu meningkatkan kadar gula darah secara bertahap setelah seharian berpuasa, tanpa lonjakan drastis seperti pada minuman tinggi gula tambahan. Dalam perspektif metabolisme, pendekatan ini penting untuk mencegah fluktuasi glikemik yang tajam, yang sering menyebabkan rasa lemas setelah berbuka. Oleh karena itu, memulai berbuka dengan air putih, kurma, dan diikuti air kelapa dalam jumlah terkontrol adalah strategi yang lebih rasional dibandingkan langsung mengonsumsi minuman manis berlebihan.

Bagian kedua dari pohon kelapa yang tak kalah penting adalah santan. Santan mengandung medium-chain triglycerides (MCT), yaitu asam lemak rantai sedang yang dimetabolisme lebih cepat dibandingkan lemak rantai panjang. MCT diserap langsung ke vena porta dan segera dioksidasi di hati sebagai sumber energi. Dalam konteks sahur, penggunaan santan dalam jumlah moderat dapat membantu menyediakan energi yang lebih stabil dan rasa kenyang yang lebih lama. Ini relevan untuk mencegah rasa lapar dini di siang hari. Namun, karena kandungan lemak jenuhnya cukup tinggi, konsumsi santan perlu dikendalikan agar tidak berkontribusi terhadap peningkatan risiko kardiometabolik jika dikonsumsi berlebihan (Eyres et al., 2020; Neelakantan et al., 2020).

Minyak kelapa, khususnya virgin coconut oil (VCO), juga sering dikaitkan dengan peningkatan energi dan imunitas. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa VCO dapat meningkatkan kadar HDL (high-density lipoprotein) dan memiliki aktivitas antioksidan tertentu. Meski demikian, meta-analisis terbaru menegaskan bahwa minyak kelapa juga dapat meningkatkan LDL dibandingkan minyak nabati tak jenuh seperti minyak zaitun atau kanola. Artinya, dalam praktik nutrisi Ramadan, minyak kelapa sebaiknya digunakan sebagai bagian dari pola makan seimbang, bukan sebagai satu-satunya sumber lemak. Pendekatan moderasi tetap menjadi prinsip utama (Schwingshackl et al., 2021).

Menariknya, bila dilihat secara holistik, pohon kelapa menyediakan kombinasi unik: air kelapa untuk rehidrasi dan penggantian elektrolit, santan untuk rasa kenyang dan suplai energi stabil, serta minyak kelapa untuk penambah energi cepat dalam jumlah terbatas. Integrasi ketiganya dalam pola makan sahur dan berbuka dapat mendukung adaptasi metabolik selama puasa. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada porsi, frekuensi, dan keseimbangan dengan komponen pangan lain seperti sayuran, buah, protein berkualitas, serta air putih yang cukup (minimal 6–8 gelas selama waktu non-puasa).

Dalam konteks Indonesia, pemanfaatan kelapa juga memiliki dimensi kearifan lokal dan keberlanjutan. Bahan ini mudah diperoleh, relatif terjangkau, dan telah menjadi bagian dari budaya kuliner Nusantara. Optimalisasi manfaatnya selama Ramadan bukan hanya soal nutrisi, tetapi juga tentang kembali pada sumber pangan alami yang minim proses dan lebih selaras dengan kebutuhan fisiologis tubuh.

Pada akhirnya, “rahasia” pohon kelapa bukanlah pada klaim superfood yang berlebihan, melainkan pada kesesuaian komposisinya dengan kebutuhan dasar tubuh saat berpuasa: cairan, elektrolit, dan energi yang dilepaskan secara bertahap. Dengan pemahaman berbasis bukti dan penerapan yang moderat, kelapa dapat menjadi mitra strategis dalam menjaga hidrasi, stabilitas energi, dan kualitas ibadah sepanjang Ramadan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image