Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Majelis Pustaka Informasi PCM Wiradesa

Tafaqquh Fiddin di Era Ceramah Instan

Khazanah | 2026-01-08 22:57:01

Di era media sosial hari ini, pengetahuan agama sering hadir dalam potongan-potongan singkat: satu menit ceramah, satu kutipan ayat, satu potong nasihat. Ironisnya, perdebatan keagamaan justru berlangsung panjang dan keras. Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting: apakah semangat beragama kita diiringi dengan kedalaman ilmu?

Al-Qur’an sejak awal telah memberi peringatan agar semangat tidak mengalahkan pemahaman. Dalam Surah At-Taubah ayat 122, Allah berfirman bahwa tidak sepatutnya seluruh orang beriman pergi bersamaan, melainkan sebagian dari mereka perlu mendalami agama (tafaqquh fiddin), agar kelak mampu memberi peringatan dan pencerahan kepada masyarakatnya. Ayat ini menegaskan bahwa keberagamaan yang sehat memerlukan ilmu, bukan sekadar gairah.

Realitas hari ini menunjukkan tantangan yang tidak ringan. Banyak orang merasa cukup beragama hanya dengan mengikuti potongan ceramah atau kutipan viral. Padahal, ilmu agama bukan sekadar pengetahuan instan, melainkan proses panjang yang membentuk sikap, akhlak, dan kebijaksanaan. Tanpa pemahaman yang mendalam, agama berisiko dipraktikkan secara kaku, bahkan digunakan untuk membenarkan sikap yang bertentangan dengan nilai rahmat itu sendiri.

Memperdalam ilmu agama sejatinya membawa dampak langsung dalam kehidupan. Ia membentuk pribadi yang lebih bijak dalam bersikap, lebih hati-hati dalam bertindak, dan lebih lapang dalam menyikapi perbedaan. Orang yang memahami ajaran agama tidak hanya tahu mana yang halal dan haram, tetapi juga memahami hikmah di baliknya. Dari sinilah lahir sikap rendah hati dan kesadaran untuk terus memperbaiki diri.

Ilmu agama juga berfungsi sebagai benteng moral. Ketika manusia memahami konsekuensi perbuatan, ia tidak mudah tergoda untuk melanggar batas. Kesadaran akan dosa dan pahala bukan sekadar ketakutan, melainkan pengingat bahwa setiap tindakan memiliki tanggung jawab spiritual. Inilah yang membuat orang berilmu cenderung lebih mampu menjaga diri, baik dalam ruang privat maupun publik.

Lebih jauh, ilmu agama menumbuhkan rasa syukur dan keikhlasan. Dalam kondisi lapang, ia mencegah kesombongan; dalam kondisi sempit, ia menguatkan kesabaran. Sikap ini tidak lahir dari hafalan semata, tetapi dari pemahaman yang terus diasah melalui proses belajar. Tidak heran jika Al-Qur’an menegaskan bahwa yang benar-benar takut kepada Allah adalah mereka yang berilmu (QS. Fathir: 28).

Di tengah arus informasi yang deras, memperdalam ilmu agama menjadi semakin relevan. Ia bukan hanya kebutuhan individual, tetapi juga kebutuhan sosial. Masyarakat yang diisi oleh orang-orang berilmu akan lebih terjaga dari sikap ekstrem, mudah menghakimi, dan merasa paling benar. Sebaliknya, masyarakat yang jauh dari pemahaman agama berisiko terjebak pada fanatisme tanpa ilmu.

Karena itu, semangat tafaqquh fiddin perlu terus dihidupkan. Belajar agama tidak harus menjadikan seseorang merasa paling saleh, tetapi justru membuatnya semakin sadar akan keterbatasan diri. Sebab, sebagaimana ditegaskan Al-Qur’an, tidaklah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui (QS. Az-Zumar: 9). Di situlah letak kemuliaan ilmu: menuntun manusia untuk semakin tunduk, bukan semakin pongah.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image