Tapak Suci Wiradesa, Enam Medali dan Energi Pembinaan yang tak Pernah Padam
Lomba | 2026-02-17 12:25:22
Ada yang lebih penting dari sekadar angka enam. Enam medali memang membanggakan, tetapi di baliknya ada latihan yang panjang, keringat yang tak terlihat, dan doa yang diam-diam dipanjatkan. Itulah yang mengiringi langkah Tapak Suci Putera Muhammadiyah Cabang Wiradesa saat berlaga di Tegal Championship 2, 14–15 Februari 2026, di GOR Tegal Selatan.
Kejuaraan yang diikuti 1.092 peserta dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Lampung itu bukan sekadar arena adu teknik. Ia adalah ruang pembuktian. Dari kategori Pra Usia Dini hingga Umum, para atlet diuji bukan hanya oleh lawan di gelanggang, tetapi juga oleh diri mereka sendiri.
Tapak Suci Wiradesa pulang dengan satu emas, tiga perak, dan dua perunggu. Arza Hilllaul I menjadi Juara I pada Kategori Tanding Kelas Usia Dini 2 Putra. Ainun Mardiyah (Usia Dini 2 Putri), Retno Maulana (Usia Dini 2 Putra), dan Nisrina Ulfah (Kelas C Remaja Putri) masing-masing meraih Juara II. Sementara Khafid Numan R dan Haidar Khafid S menyumbang Juara III pada Kategori Usia Dini 2 Putra.
Angka-angka itu terlihat sederhana di atas kertas. Namun bagi sebuah cabang perguruan, ia adalah tanda bahwa proses pembinaan berjalan. Bahwa anak-anak dan remaja Wiradesa sedang belajar tentang disiplin, tentang kalah dan bangkit, tentang menang tanpa jumawa.
Ketua Kontingen Tapak Suci Putera Muhammadiyah Cabang Wiradesa menyampaikan terima kasih atas dukungan berbagai pihak. “Kami mengucapkan terima kasih kepada Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wiradesa, Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Wiradesa, PRM se-Wiradesa, serta para donatur. Alhamdulillah, hasil yang kami peroleh cukup memuaskan,” ujarnya.
Pernyataan itu mungkin terdengar formal. Namun sesungguhnya, ia menyimpan satu pesan penting: prestasi tidak pernah lahir sendirian. Ia tumbuh dari ekosistem. Dari dukungan organisasi, kepercayaan orang tua, kesabaran pelatih, hingga semangat anak-anak yang memilih berlatih ketika yang lain memilih bermain.
Kejuaraan bukanlah panggung akhir. Ia hanya satu titik dalam perjalanan panjang pembinaan. Medali hanyalah simbol; yang lebih utama adalah karakter yang ditempa di setiap sesi latihan. Mental yang teruji saat bertanding. Tanggung jawab saat membawa nama organisasi.
Tapak Suci Wiradesa sedang menanam sesuatu yang lebih dari sekadar target juara. Mereka sedang menanam keberanian. Dan keberanian itulah yang kelak akan mengantar generasi muda ini melangkah lebih jauh—bukan hanya di gelanggang silat, tetapi juga dalam kehidupan.
Sebab pada akhirnya, prestasi sejati bukan hanya tentang siapa yang berdiri di podium. Ia tentang siapa yang terus bertahan dalam proses.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
