Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Daffa Nabil Mubarak

Khumaira: Senandung Rindu di Balik Jendela Madinah

Sastra | 2026-01-31 11:47:52

Khumaira: Senandung Rindu di Balik Jendela Madinah mengisahkan perjalanan kontemplatif seorang gadis bernama Arini dalam menyelami kedalaman makna di balik lirik lagu "Aisyah Istri Rasulullah" yang dipopulerkan oleh Syakir Daulay pada tahun 2020. Di tengah suasana malam yang syahdu, Arini mencoba membedah setiap diksi puitis—mulai dari panggilan sayang Khumaira, romansa lomba lari di padang pasir, hingga momen-momen intimate yang selama ini hanya dianggap sebagai pemanis lagu.

Cerpen ini menggambarkan pergolakan batin Arini saat ia harus berhadapan dengan skeptisisme dunia modern yang sering kali menganggap romansa masa lalu sebagai sesuatu yang utopis. Melalui dialog hangat bersama Ibunya dan perdebatan kecil dengan temannya, Maya, Arini berhasil menemukan bahwa lirik tersebut bukanlah sekadar bumbu fiksi, melainkan cerminan dari sirah nabawiyah yang otentik. Cerita ini menyoroti bagaimana Rasulullah mendemonstrasikan emotional intelligence dan cara memuliakan wanita dengan penuh kelembutan. Pada akhirnya, Arini menyadari bahwa cinta sejati antara Rasulullah dan Ibunda Aisyah r.a. adalah sebuah ittiba’ yang melampaui zaman; sebuah bukti bahwa romansa yang dibangun di atas landasan lillah akan berujung pada keabadian yang timeless.

Lampu kamar yang temaram berpendar di sudut meja kayu, menyinari lembaran-lembaran catatan yang berserakan. Di luar, hujan rintik mulai membasahi kaca jendela, menciptakan simfoni alami yang menenangkan. Arini baru saja menekan tombol play pada daftar putar musik di ponselnya. Suara lembut Syakir Daulay mulai mengalun, membawakan lirik yang sudah ribuan kali ia dengar, namun entah mengapa malam ini terasa begitu berbeda.

“Mulia, indah, cantik berseri... kulit putih, bersih, merah di pipimu...”

Arini memejamkan mata. Benaknya seolah ditarik melintasi lorong waktu, membayangkan sosok wanita agung yang dijuluki Khumaira karena rona merah di pipinya. Ia mencoba meresapi setiap diksi yang menggambarkan betapa manusiawinya kemuliaan seorang Aisyah r.a.

“Sedang mendengarkan apa, Rin? Khusyuk sekali kelihatannya,” suara lembut Ibu memecah keheningan dari ambang pintu.

Arini menoleh, tersenyum kecil sembari melepas satu earphone-nya. “Lagu lama, Bu. Lagu Syakir yang Aisyah Istri Rasulullah. Tapi tadi aku sempat melamun, terpikir tentang liriknya. Kok bisa ya, ada cinta yang se-sweet itu?”

Ibu berjalan mendekat, lalu duduk di tepi tempat tidur Arini. “Maksudmu bagian yang mana?”

“Ini, Bu,” Arini menunjuk layar ponselnya yang menampilkan lirik lagu. “Bagian 'Hingga Nabi minum di bekas bibirmu' atau saat mereka 'main lari-lari'. Aku baru sadar kalau lirik ini bukan cuma bumbu puitis, tapi memang diambil dari sirah yang nyata. Rasanya jauh lebih indah daripada narasi romantis di novel-novel young adult yang sering aku baca.”

Ibu mengangguk perlahan, jemarinya mengusap sampul buku Sirah Nabawiyah yang tergeletak di meja Arini. “Itulah hebatnya, Rin. Lirik itu mencoba memanusiakan sejarah tanpa mengurangi rasa hormat. Hubungan Rasulullah dan Ibunda Aisyah itu bukan sekadar formalitas suami-istri, tapi ada chemistry yang sangat dalam. Kamu tahu, istilah Khumaira itu sendiri adalah panggilan sayang yang sangat intimate. Rasulullah tidak hanya memimpin umat, tapi beliau juga seorang suami yang sangat gentle dan mengerti cara meratukan istrinya.”

“Tapi Bu,” potong Arini antusias, “bagian yang paling menyentuh buatku itu lirik yang bunyinya, 'Bila lelah, Nabi baring di jilbabmu'. Itu visualnya sangat kuat. Aku membayangkan betapa hangatnya rumah tangga mereka di tengah perjuangan dakwah yang begitu berat.”

“Benar,” jawab Ibu dengan binar mata yang hangat. “Itulah yang disebut sakinah. Di dalam lagu itu, Syakir menyanyikan tentang bagaimana Aisyah bermanja mengikat rambut Nabi. Itu adalah quality time yang sangat sederhana, tapi penuh makna. Cinta mereka itu timeless, melampaui zaman.”

Arini kembali menatap barisan lirik di depannya. Pikirannya mulai berkelana menyusun rangkaian kata untuk tulisannya. Ia ingin mengupas bahwa romansa sejati bukan tentang drama yang meledak-ledak, melainkan tentang ketulusan yang menetap “hingga ujung nyawa”.

“Aku ingin menulis tentang ini, Bu. Tentang bagaimana lagu ini bisa jadi pintu masuk bagi generasiku untuk lebih mengenal sosok Ibunda Aisyah. Bukan cuma sebagai tokoh sejarah, tapi sebagai teladan cinta,” tekad Arini sembari mulai meletakkan jemarinya di atas keyboard laptop.

Ibu tersenyum, lalu beranjak berdiri. “Tuliskanlah dengan hati, Rin. Karena sesuatu yang datang dari hati, akan sampai ke hati pembacanya juga. Bismillah.”

Jari-jemari Arini mulai menari di atas keyboard, namun baru beberapa paragraf, ia terhenti. Sebuah notifikasi muncul di layar ponselnya—pesan dari grup diskusi kampus yang mendadak riuh. Seseorang baru saja mengunggah sebuah artikel skeptis yang mempertanyakan relevansi kisah romansa klasik di era modern yang serba praktis ini.

"Arini, kamu masih percaya dengan konsep chemistry yang sampai 'ujung nyawa' begitu?" Sebuah pesan pribadi masuk dari Maya, teman sekelasnya yang dikenal sangat kritis. "Dunia sekarang tidak seindah lirik lagu yang kamu dengar itu. Toxic relationship ada di mana-mana. Apa tidak terlalu utopis kalau kita terus mendewakan romansa masa lalu?"

Arini tertegun. Ia kembali menatap lirik di layar laptopnya: Bukan persis novel mula benci jadi rindu. Kata-kata itu seolah menantangnya. Ia menarik napas panjang, lalu mulai mengetik balasan untuk Maya, namun jemarinya justru tertuju pada kolom draf ceritanya. Ia ingin membuktikan bahwa apa yang ada dalam sirah bukan sekadar dongeng pengantar tidur.

"Maya," gumam Arini pelan, suaranya nyaris tak terdengar di antara rintik hujan. "Ini bukan tentang utopia, ini tentang standar tertinggi sebuah penghormatan."

Ia mulai menuliskan adegan di mana tokoh utamanya, yang ia beri nama sama dengan judulnya—Khumaira—sedang mengalami pergolakan batin.

Di dalam ceritanya, Arini membangun sebuah konflik. Khumaira sedang duduk termenung di balik jendela kayu di Madinah, menanti kepulangan Sang Baginda. Di sana, ia menggambarkan sisi manusiawi Aisyah r.a. yang juga bisa merasa cemburu, namun diatasi dengan cara yang sangat elegan oleh Rasulullah.

"Wahai Rasulullah," suara Khumaira dalam tulisan Arini bergetar, "mengapa engkau begitu sabar menghadapi manjaku yang terkadang berlebihan?"

Rasulullah, dalam imajinasi tulisan Arini, tersenyum dengan ketulusan yang menenangkan. "Karena cinta bukan tentang siapa yang paling benar, wahai Khumaira. Namun tentang siapa yang paling mampu meneduhkan saat api amarah mulai menyulut."

Arini berhenti sejenak, ia merasa butuh bumbu konflik yang lebih nyata. Ia teringat lirik: Bila marah, Nabi 'kan bermanja, mencubit hidungnya.

"Ibu!" seru Arini sedikit keras. Ibu kembali melongok dari balik pintu. "Di lirik ini ada bagian Nabi mencubit hidung Aisyah saat marah. Apakah itu benar-benar ada dalam riwayat?"

Ibu masuk kembali dan duduk di kursi belajar Arini. "Itu adalah bentuk tathayyub atau cara Nabi mencairkan suasana. Ada riwayat yang menyebutkan ketika Aisyah sedang marah, Nabi akan memegang ujung hidungnya dan berkata lembut, 'Ya 'Uwaysy (panggilan kecil Aisyah), bacalah doa...' Beliau tidak membalas dengan bentakan, melainkan dengan sentuhan fisik yang menenangkan. Itu adalah teknik emotional intelligence yang luar biasa, Rin."

Arini terpaku. "Jadi, lirik 'mencubit hidungnya' itu bukan sekadar kiasan agar lagu ini terdengar cute?"

"Bukan," jawab Ibu mantap. "Itu adalah fakta sejarah tentang bagaimana memanusiakan pasangan. Di saat orang zaman sekarang memilih silent treatment atau adu argumen di media sosial, Nabi mengajarkan sentuhan fisik yang penuh kasih sayang untuk meredam ego."

Arini merasa dadanya sesak oleh haru. Ia kembali menghadapi laptopnya. Konflik di kepalanya kini bukan lagi tentang keraguan Maya, melainkan tentang bagaimana ia harus mampu menjembatani pemikiran anak muda zaman sekarang dengan kemuliaan masa lalu.

Ia mengetik dengan lebih cepat sekarang. Ia menceritakan bagaimana Aisyah dan Rasulullah pernah melakukan lomba lari—main lari-lari—di tengah gurun yang sepi.

"Baginda, apakah kau sengaja mengalah kali ini?" tanya Aisyah dalam cerpennya, napasnya terengah namun wajahnya berseri-seri (Khumaira).

"Kali ini kau yang menang, wahai Aisyah. Ini untuk membalas kekalahanku yang lalu," jawab sang Nabi dengan tawa ringan.

Arini tersenyum sendiri. Namun, seketika hatinya mencelos saat sampai pada bagian: Hingga ujung nyawa kau di samping Rasulullah. Ia teringat betapa beratnya momen wafatnya Rasulullah di pangkuan Aisyah r.a.

"Inilah puncaknya," bisik Arini. Ia harus menggambarkan bahwa cinta ini tidak berakhir dengan tragic ending, melainkan dengan eternal love. Ia mulai menuliskan betapa Aisyah tetap menjaga kenangan itu, menyisir rambut Rasulullah meski raga beliau telah tiada dalam dekapan, sesuai dengan lirik Seketika kau pula bermanja, mengikat rambutnya.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar lagi. Pesan dari Maya kembali muncul: "Tapi Arini, apakah mungkin ada laki-laki di zaman sekarang yang mau minum di bekas bibir gelas istrinya hanya untuk menunjukkan cinta? Itu terdengar terlalu berlebihan untuk standar kebersihan sekarang."

Arini menarik napas dalam-dalam. Ia tidak lagi marah. Dengan tenang, ia mengetik balasan:

"May, itu bukan soal teknis higienitas semata. Itu tentang intimacy. Menunjukkan kepada pasangan bahwa 'apa yang menjadi bagian darimu adalah bagian dariku juga'. Jika kita bisa berbagi segalanya di dunia digital, mengapa kita begitu kaku untuk berbagi kehangatan sederhana di dunia nyata? Bacalah sirahnya, bukan sekadar liriknya."

Arini menutup kolom chat itu dan kembali ke naskahnya. Ia harus menyelesaikan bagian di mana Aisyah merawat Nabi di saat-saat terakhir. Ia ingin menunjukkan bahwa romantis bukan hanya soal tawa, tapi soal kesetiaan saat raga mulai melemah.

"Hingga hembusan napas terakhirmu, aku tetap Khumaira-mu," tulis Arini sebagai kalimat penutup paragraf komplikasi. Air matanya nyaris jatuh, bukan karena sedih, tapi karena ia baru saja menyadari bahwa lirik lagu Syakir Daulay ini hanyalah pintu kecil menuju samudera cinta yang jauh lebih luas dan nyata.

Arini terpaku menatap kursor yang berkedip di layar laptopnya. Kamar yang semula hangat kini terasa sepi, hanya menyisakan detak jantungnya yang kian cepat seiring lagu Syakir Daulay mencapai bagian bridge yang repetitif. Ia sampai pada bagian paling krusial dalam tulisannya: Hingga ujung nyawa kau di samping Rasulullah. Inilah titik di mana cinta bukan lagi sekadar lirik manis atau tawa di padang pasir, melainkan sebuah ujian keteguhan yang melampaui logika manusia modern.

"Ibu," suara Arini parau, memanggil ibunya yang masih memperhatikannya dari kejauhan. "Bagaimana mungkin seseorang sanggup tetap terlihat 'manis' saat menghadapi perpisahan yang paling menyakitkan?"

Ibu mendekat, menyentuh pundak Arini dengan lembut. "Karena bagi Ibunda Aisyah, melayani Rasulullah di saat terakhir bukan lagi soal kewajiban, melainkan izzah—sebuah kemuliaan. Di situlah klimaks dari lirik 'Bila lelah, Nabi baring di jilbabmu'. Itu bukan hanya saat beliau lelah setelah berdakwah, Rin, tapi saat beliau benar-benar lelah secara jasmani menjelang kepulangannya ke Rafiqul A’la."

Jari Arini kembali bergerak, kali ini dengan sentakan emosi yang kuat. Ia menuliskan dialog imajiner antara Aisyah dan Rasulullah di kamar yang sempit namun penuh cahaya itu.

Dalam naskahnya, Arini menulis:

Madinah sedang berduka, namun di dalam kamar itu, waktu seolah berhenti. Khumaira memangku kepala Sang Baginda dengan napas yang tertahan. Ia melihat bibir suaminya yang kering, lalu teringat lirik yang sering ia dengar: Hingga Nabi minum di bekas bibirmu. Kini, ia melakukan hal yang serupa dalam bentuk yang paling luhur. Ia mengunyah siwak untuk melembutkannya, agar Sang Kekasih bisa bersiwak dengan nyaman di ujung usianya.

"Wahai Rasulullah," bisik Khumaira dalam tulisan Arini, air matanya jatuh tanpa suara, "apakah jilbabku sudah cukup nyaman untuk tempatmu bersandar?"

Rasulullah, dalam sisa kekuatannya, menatap wajah merah berseri istrinya. "Demi Allah, wahai Aisyah, tidak ada tempat yang lebih menenangkan selain di sampingmu."

Arini berhenti menulis sejenak, dadanya terasa sesak. Ia menyadari bahwa bagian inilah jawaban untuk keraguan Maya. Cinta sejati tidak diuji saat mereka "main lari-lari" di bawah sinar bulan, melainkan saat tangan Aisyah dengan gemetar mengikat rambut Nabi, merapikan kekasihnya untuk terakhir kali sebelum Sang Pencipta memanggilnya pulang.

"Ini bukan chemistry biasa, Bu," gumam Arini sambil terus mengetik. "Ini adalah pengabdian yang paripurna. Bukan persis novel mula benci jadi rindu, karena sejak awal, cinta ini dibangun di atas pondasi wahyu, bukan nafsu semata."

Klimaks tulisan Arini mencapai puncaknya saat ia menggambarkan momen sakaratul maut. Ia menuliskan betapa Aisyah tidak histeris, melainkan tetap menjadi sosok yang gentle dan kuat.

"Ya Rasulullah," Khumaira berbisik di telinga suaminya, "pergilah dengan tenang. Engkau telah menunaikan amanah, dan aku akan tetap menjadi Khumaira-mu hingga kita bertemu di telaga Al-Kautsar."

Arini mengakhiri paragraf itu dengan satu kalimat yang sangat padat: Di atas jilbab yang sama tempat Nabi baring karena lelah, di situlah beliau menghembuskan napas terakhirnya, menyatukan keringat dan air mata dalam satu dekapan abadi.

Ia menyandarkan punggungnya, merasa energinya terkuras habis. Arini baru saja menyadari bahwa lagu yang ia dengar bukan sekadar komoditas industri musik religi 2020, melainkan sebuah pengingat bahwa romansa paling radikal adalah romansa yang melibatkan Tuhan di dalamnya. Ia kembali melirik pesan Maya yang skeptis, lalu tersenyum tipis. Baginya, standar "sweet" bukan lagi tentang makan malam mewah, melainkan tentang kesediaan untuk menjadi tempat bersandar terakhir bagi orang yang dicintai.

Jari Arini akhirnya berhenti menari di atas keyboard. Ia menarik napas panjang, membiarkan keheningan kamar menyerap sisa-sisa emosi yang tumpah ke dalam naskahnya. Lagu di ponselnya telah berakhir, namun gema liriknya masih terasa bergetar di dadanya. Ia tidak segera menutup laptopnya, melainkan menatap layar yang kini penuh dengan narasi tentang cinta sejati.

"Selesai, Bu," ucap Arini lirih.

Ibu yang sejak tadi setia menemani, mendekat dan membaca baris-baris terakhir tulisan Arini. "Bagian penutupnya sangat kuat, Rin. Kamu berhasil menangkap esensi Khumaira yang sebenarnya."

"Aku baru tersadar, Bu," Arini menoleh dengan mata yang masih berkaca-kaca. "Lirik 'Kau istri tercinta, ya Aisyah Khumaira' itu bukan sekadar julukan. Itu adalah pengakuan dunia dan langit atas sebuah kedudukan. Selama ini kita sering terjebak dalam definisi romantis yang sempit, tapi kisah ini mengajarkan bahwa romantis adalah tentang ittiba'—mengikuti jejak kelembutan Nabi."

Tiba-tiba, ponsel Arini bergetar. Sebuah pesan baru dari Maya masuk. Kali ini, Maya tidak mengirimkan artikel skeptis, melainkan sebuah pesan pendek: "Rin, aku baru saja mencari tahu tentang riwayat siwak yang kau ceritakan tadi. Aku merinding. Ternyata romansa yang nyata itu jauh lebih 'pedas' dan menyentuh daripada sekadar kata-kata manis di media sosial. Maaf ya, mungkin aku yang terlalu sinis pada cinta."

Arini tersenyum lebar. Ia segera mengetik balasan dengan semangat yang baru.

"Tidak apa-apa, May. Kita semua sedang belajar. Ingat bagian lirik 'Bukan persis novel mula benci jadi rindu'? Itu karena cinta mereka tumbuh dari rasa hormat yang tulus (tathayyub). Jika kau ingin melihat cinta yang tidak lekang oleh zaman, lihatlah bagaimana Baginda memuliakan Khumaira-nya hingga hembusan napas terakhir."

Arini menutup laptopnya dengan perasaan lega yang membuncah. Ia berjalan menuju jendela, menatap rintik hujan di luar yang kini perlahan mereda, menyisakan aroma tanah yang segar—petrichor yang menenangkan. Di kejauhan, lampu-lampu kota Madinah dalam imajinasinya seolah menyatu dengan realita malam ini.

"Bu," panggil Arini sebelum Ibu keluar kamar. "Terima kasih sudah membantuku membedah makna di balik senandung ini. Sekarang aku tahu, menulis tentang sejarah bukan hanya soal memindahkan data, tapi soal menghidupkan kembali rasa."

Ibu mengusap kepala Arini dengan penuh kasih. "Itulah tugasmu sebagai penulis, Rin. Menjadi jembatan antara masa lalu yang mulia dengan masa depan yang penuh tanya. Tidurlah, Khumaira kecilku. Semoga mimpimu seindah sirah yang kau tulis malam ini."

Arini merebahkan tubuhnya, menarik selimut, dan mematikan lampu meja. Di dalam kegelapan yang teduh, ia membayangkan sosok Aisyah r.a. yang tersenyum di balik jendela Madinah, meninggalkan warisan cinta yang akan selalu disenandungkan oleh waktu. Baginya, lirik lagu itu bukan lagi sekadar tren tahun 2020, melainkan sebuah melodi abadi yang akan terus membimbing hatinya untuk mencari cinta yang diridhai oleh Pemilik Semesta.

Cahaya fajar menyelinap malu-malu melalui celah gorden kamar Arini, menggantikan temaram lampu meja yang menemaninya sepanjang malam. Di layar laptop yang masih menyala, kursor berhenti berkedip di bawah judul besar: Khumaira: Senandung Rindu di Balik Jendela Madinah. Arini baru saja menekan tombol publish di laman blog pribadinya.

Hanya dalam hitungan menit, kolom komentar mulai terisi. Namun, satu komentar yang paling ia tunggu muncul dari akun Maya.

"Rin, paragraf terakhirmu tentang istiqamah dalam mencintai meski raga tak lagi bersua benar-benar memukul logikaku. Aku baru paham kenapa lirik 'selalu bersama hingga ujung nyawa' itu begitu sakral. Ternyata, itu bukan hiperbola puitis, melainkan janji setia yang terpatri dalam nubuwwah."

Arini tersenyum, jemarinya yang masih kaku karena mengetik semalaman mulai menari kembali untuk membalas komentar sahabatnya itu.

"Begitulah, May," tulis Arini. "Cinta mereka adalah atsar (jejak) yang tidak akan terhapus oleh waktu. Syakir Daulay hanya meminjam nada untuk mengingatkan kita bahwa ada standar mawahdah wa rahmah yang sudah lama dicontohkan di Madinah."

Ibu masuk membawa segelas teh hangat, aroma melati menyeruak menenangkan. Ia berdiri di belakang Arini, menatap layar dengan bangga.

"Sudah kau selesaikan, Rin?" tanya Ibu lembut.

"Sudah, Bu. Rasanya seperti baru saja menyelesaikan perjalanan jauh dari abad ke-7 kembali ke masa kini," jawab Arini sambil menyesap tehnya. "Aku menyertakan bagian tentang bagaimana Rasulullah menjaga kehormatan istrinya, bahkan dalam hal-hal kecil seperti posisi minum. Itu benar-benar muamalah yang sangat romantis."

"Kau tahu, Rin," Ibu menyambung sembari merapikan tumpukan kitab di meja, "banyak orang terjebak pada diksi 'merah di pipimu' hanya sebagai deskripsi fisik. Padahal, Khumaira adalah simbol betapa Rasulullah sangat memperhatikan detail perasaan wanita. Beliau tahu kapan Aisyah malu, kapan ia bahagia, dan kapan ia butuh diteduhkan. Itu adalah bentuk tarbiyah cinta yang sangat dalam."

Arini mengangguk mantap. "Benar, Bu. Itulah kenapa aku menutup tulisanku dengan kutipan bahwa cinta ini 'bukan persis novel mula benci jadi rindu'. Karena cinta Rasulullah dan Ibunda Aisyah tidak butuh konflik buatan atau drama toxic untuk terlihat indah. Dasarnya adalah lillah (karena Allah), maka akhirnya pun menjadi jannah (surga)."

Arini kembali menatap jendela. Hujan sudah benar-benar berhenti, meninggalkan jejak-jejak bening di kaca. Ia merasa bahwa lagu yang sempat viral di tahun 2020 itu kini bukan lagi sekadar tren di telinganya, melainkan sebuah murottal cinta yang harus ia jaga maknanya dalam hati.

"Terima kasih, ya Khumaira," bisik Arini dalam hati, merujuk pada sang Ibunda kaum mukminin. "Melalui senandung sederhana ini, engkau mengajariku bahwa menjadi wanita mulia adalah tentang memberikan ketulusan hingga hembusan napas terakhir di samping orang yang dicintai."

Arini menutup laptopnya dengan perlahan. Di luar, burung-burung mulai berkicau, seolah ikut menyanyikan sisa-sisa melodi rindu yang masih tertinggal di udara. Baginya, tugasnya telah usai; menghidupkan kembali ruh sejarah lewat kata-kata, agar dunia tahu bahwa romansa sejati pernah nyata adanya di sudut kota Madinah.

Pada akhirnya, kisah Khumaira di balik jendela Madinah bukanlah sekadar narasi romantis yang terjebak dalam melodi lagu atau lembaran sejarah usang. Melalui barisan lirik yang disenandungkan Syakir Daulay, kita diajak untuk melakukan muhasabah atas definisi cinta yang selama ini kita agungkan. Arini menyadari bahwa apa yang dilakukan Rasulullah kepada Ibunda Aisyah r.a. adalah sebuah uswatun hasanah—teladan terbaik—mengenai bagaimana seharusnya maskulinitas bersanding dengan kelembutan.

Cinta yang syar’i ternyata tidak kaku; ia memiliki ruang untuk canda tawa dalam lomba lari, memiliki tempat untuk bermanja dalam cubitan kecil di ujung hidung, dan memiliki kedalaman intimacy dalam bekas bibir di tepian gelas. Amanat yang tertinggal dari kisah ini sangatlah lugas: bahwa kemuliaan seorang wanita tidak terletak pada seberapa banyak ia dipuja secara fisik, melainkan pada seberapa tinggi ia diratukan dalam sebuah ikatan yang berlandaskan lillah.

Bagi generasi modern, kisah ini adalah sebuah kritik halus terhadap tren toxic relationship yang sering kali menguras energi. Romansa Rasulullah mengajarkan emotional intelligence tingkat tinggi; di mana amarah diredam dengan sentuhan, bukan bentakan, dan kelelahan dibasuh dengan sandaran di atas jilbab pasangan. Inilah esensi dari sakinah, mawaddah, wa rahmah yang sesungguhnya—sebuah cinta yang tidak dimulai dari drama kebencian layaknya fiksi murahan, melainkan tumbuh dari kesucian niat.

Hingga pada titik terakhirnya, cinta adalah tentang kesetiaan yang istiqamah hingga ujung nyawa. Ia adalah tentang keberanian untuk mendampingi pasangan di saat-saat paling rapuh, hingga raga kembali ke Rafiqul A’la. Arini menutup catatannya dengan satu keyakinan penuh: jika kita ingin mencari cinta yang tak lekang oleh zaman, maka carilah ia di atas sajadah penghambaan, di mana dua hati saling mencintai karena Sang Pemilik Semesta. Sebab, hanya cinta yang melibatkan Tuhan-lah yang mampu mengubah kerikil di padang pasir menjadi permata yang bersinar hingga ke surga.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image