Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Majelis Pustaka Informasi PCM Wiradesa

Isra Mi'raj dan Pengingat Sholat di Tengah Kesibukan Zaman

Sekolah | 2026-01-17 15:23:19

Di tengah ritme hidup yang kian cepat dan penuh distraksi, peringatan Isra’ Mikraj kembali mengingatkan umat Islam pada satu pesan utama: sholat sebagai fondasi kehidupan. Bukan sekadar ritual, melainkan kebutuhan ruhani yang membentuk akhlak, ketenangan batin, dan arah hidup seorang muslim. Pesan inilah yang mengemuka dalam peringatan Isra’ Mikraj yang digelar di Masjid Roudlotul Muttaqin, Delegtukang, Sabtu (17/1/2026).

Peringatan Isra’ Mikraj sering kali hadir sebagai ruang refleksi, terutama ketika kesibukan dunia membuat manusia mudah lalai. Peristiwa agung perjalanan Nabi Muhammad SAW ini menjadi titik penting dalam sejarah Islam karena darinya umat Islam menerima perintah sholat lima waktu. Karena itu, Isra’ Mikraj tidak hanya dikenang sebagai kisah luar biasa, tetapi juga sebagai panggilan untuk menata ulang hubungan manusia dengan Allah melalui sholat yang dijalankan dengan kesadaran dan tanggung jawab.

Kegiatan tersebut diikuti oleh para siswa Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Dekegtukang. Rangkaian acara berlangsung dengan tertib, diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan dilanjutkan dengan tausiyah keagamaan. Kehadiran berbagai unsur masyarakat menjadikan peringatan ini sebagai ruang belajar bersama lintas usia.

Materi utama disampaikan oleh Dra. Siti Nur Badriyatul Istiqomah. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa sholat merupakan kewajiban yang berlaku bagi seluruh umat Islam tanpa pengecualian.

“Sholat adalah kewajiban bagi semuanya, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda. Sholat bukan sekadar rutinitas, tetapi bentuk ketaatan dan kedekatan kita kepada Allah SWT,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya ketepatan istilah dalam menyebut ibadah sholat. Menurutnya, bahasa memiliki peran dalam membentuk cara pandang dan pemahaman seseorang terhadap ajaran agama.

“Penyebutannya jangan sembahyang, tetapi sholat. Sholat memiliki makna doa, permohonan, dan ibadah yang tata caranya telah dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sholat memiliki dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sholat yang dijalankan dengan kesadaran dan kekhusyukan, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, mampu mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar.

Pesan tersebut mengarah pada pemahaman bahwa sholat tidak berhenti pada gerakan dan bacaan. Hubungan vertikal antara hamba dan Allah seharusnya tercermin dalam hubungan horizontal dengan sesama manusia—dalam sikap, ucapan, dan cara menyikapi persoalan hidup.

Kegiatan peringatan Isra’ Mikraj ini juga melibatkan salah satu lembaga pendidikan dasar di Delegtukang, yakni MIM Delegtukang. Kepala sekolah, Ibu Hj. Uswatun, menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini penting untuk membiasakan generasi muda memahami ajaran agama secara utuh.

“Kami berharap anak-anak tidak hanya mengetahui kisah Isra’ Mikraj, tetapi juga memahami esensi sholat dan berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Peringatan Isra’ Mikraj tersebut ditutup dengan doa bersama. Di tengah arus kehidupan yang sering kali melalaikan, kegiatan semacam ini menjadi pengingat bahwa sholat bukan sekadar kewajiban individual, melainkan fondasi spiritual yang membentuk keteguhan pribadi dan kualitas kehidupan sosial seorang muslim.

 

 

Tausiyah utama disampaikan oleh Dra. Siti Nur Badriyatul Istiqomah. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa sholat merupakan kewajiban yang melekat pada setiap muslim tanpa pengecualian.“Sholat adalah kewajiban bagi semuanya, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda. Sholat bukan sekadar rutinitas, tetapi bentuk ketaatan dan kedekatan kita kepada Allah SWT,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya ketepatan istilah dalam menyebut ibadah sholat. Menurutnya, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cermin cara berpikir dan memahami ajaran agama.“Penyebutannya jangan sembahyang, tetapi sholat. Sholat memiliki makna doa, permohonan, dan ibadah yang tata caranya telah dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sholat memiliki dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sholat yang dilakukan dengan kesadaran dan kekhusyukan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, mampu mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar.Pesan ini mengarah pada pemahaman bahwa sholat tidak berhenti pada gerakan dan bacaan, tetapi berlanjut pada pembentukan akhlak. Hubungan vertikal antara hamba dan Allah seharusnya tercermin dalam hubungan horizontal dengan sesama manusia—dalam sikap, ucapan, dan pilihan hidup.

Kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya pendidikan keagamaan. Kepala sekolah, Ibu Hj. Uswatun, menyampaikan bahwa peringatan hari besar Islam memiliki nilai strategis dalam menanamkan pemahaman agama sejak dini.“Kami berharap anak-anak tidak hanya mengetahui kisah Isra’ Mikraj, tetapi juga memahami esensi sholat dan berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Peringatan Isra’ Mikraj ditutup dengan doa bersama. Di tengah arus kehidupan yang sering kali melalaikan, kegiatan semacam ini menjadi pengingat bahwa sholat bukan sekadar kewajiban individual, melainkan fondasi spiritual yang menentukan arah hidup seorang muslim—baik sebagai pribadi maupun bagian dari masyarakat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image