Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image TAJUS SYAROFI

Iran: Peradaban Kuno yang Mempertahankan Haknya

Sejarah | 2026-02-18 13:18:21
foto: Rakyat Iran membentangkan Benedera sebagai simbol dukungan terhadap Ayatullah Ali Khamenei

Ketegangan Iran dengan blok Barat --yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS) hari ini, bukan hanya sekedar konflik modern, melainkan perjalanan panjang tentang peradaban kuno yang enggan tunduk terhadap kezaliman. Masyarakat global sering kali memandang peta geopolitik hari ini hanya berkutat pada sanksi ekonomi, uji coba nuklir, dan retorika negosiasi yang panas antar keduanya. Namun jika kita melihat Iran: sebagai bangsa “Persia” –nama lama yang digunakan dunia merujuk pada Kekaisaran Kuno, maka kita sedang menyaksikan spirit perjuangan dalam mempertahankan hak dan kedaulatan bangsanya.

Bangsa dengan sejarah lebih dari 2.500 tahun ini, memandang bahwa kedaulatan bukan hanya sekedar hukum internasional yang harus ditaati begitu saja. Bagi mereka, kedaulatan merupakan identitas kolektif yang ditempa oleh api peperangan menghadapi bangsa Yunani (499-449 SM), Arab (633-651 M), Mongol (1219-1258 M). dan Inggris (1856-1857 M).

Iran bukanlah bangsa yang keras kepala, ia hanya mempertahankan program kemandirian teknologi ditengah kebijakan sanksi internasional. Nuklir, adalah simbol kemandirian Iran dan dianggap sebagai hak alami pewaris dua pilar Kekaisaran Persia –Akhemeniyah (±550-330 SM) dan Sassaniyah (226-651 M), yang pernah menjadi pusat peradaban, ilmu pengetahuan, seni, dan administrasi dunia.

Kekaisaran Akhemeniyah menemukan sistem Tata Negara “desentralisasi efektif”, yaitu sistem pembagian wilayah (provinsi). Dalam infrastruktur global, mereka membangun jalan raya sepanjang 2.500 km yang menghubungkan Susa ke Sardis –kota penting dalam Kekaisaran Persia kuno yang dihubungkan oleh jalan raja “royal road”. Kekaisaran ini juga membangun konsep kosmopolitanisme dan toleransi melalui piagam “Cyrus Cylinder” dengan konsep toleransi beragama. Mereka membiarkan bangsa-bangsa “taklukan” tetap menjalankan adat dan agama mereka masing-masing, inilah yang membuat Iran dijuluki sebagai pusat pertemuan budaya global pertama di dunia.

Sementara Kekaisaran Sasaniyah membangun Akademi “Gundeshapur” yang menjadikan universitas dan rumah sakit paling maju di dunia. Di sanalah teks-teks Yunani kuno diterjemahkan ke dalam bahasa Pahlavi –Persia pertengahan, yang nantinya menjadi fondasi era keemasan Islam.

Kudeta 1953 Sebagai Titik Balik

Trauma intervensi Barat –yang didalangi Amerika dan Inggris, berujung pada kudeta tahun 1953. Di mana Operasi Ajax (AS) dan Boot (Inggris), berhasil menggulingkan dan memenjarakan Perdana Menteri Mohammad Mosaddeq—yang meninggal dalam tahanan pada tahun 1967. Tujuanya adalah mengembalikan kekuasaan Mohammad Reza Shah Pahlevi (1979) –setelah Mosaddeq menasionalisasi industri minyak yang dikuasai Inggris.

Menurut Arsip rahasia yang dipublikasikan oleh National Scurity Archive, “The Central Intellegence Angency and The Fall of Iranian Prime Minister Mohammad Mosaddeq” (Agustus, 1953), Luka Iran sangat dalam dan sulit untuk diobati. Mosaddeq sebagai pemimpin yang dipilih secara demokratis, dinarasikan sebagai diktator yang dibenci oleh kalangan Barat. Melalui Central Intelligence Agency (CIA) dan Sekret Intelligence Service (M16/SIS), Amerika dan Inggris melakukan operasi rahasia dengan membayar media, politisi, dan demonstran untuk melakukan kerusuhan di Taheran. Sejak itulah Amerika dan Inggris mengendalikan industri minyak Iran sampai terjadinya Revolusi Islam Iran (1979).

Dari peristiwa sejarah ini, Iran mengambil kesimpulan bahwa dalam sistem global yang dikuasai oleh satu kekuatan, hak akan diberikan kepada bangsa yang cukup kuat pertahanannya. Inilah yang menjelaskan mengapa bangsa Iran memiliki daya tahan yang luar biasa dalam menghadapi berbagai macam tekanan barat dan penghianatan dari dalam.

Hari ini, Iran tengah membuka memori lama. Framing media, kerusuhan demonstrasi –yang mengorbankan ribuan nyawa, dianggap sebagai langkah ilegal yang dilakukan Amerika sejak dulu. Putra Shah yang menyerukan perlawanan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran Ayatulloh Ali Khamenei, adalah dendam politik lama. Kemunculannya, mengonfirmasi bahwa kerusuhan Iran hari ini adalah sekenario lama blok Barat.

Dalam perspektif sejarah, Sejarawan Ervan Abrahamian (2018) dalam bukunya “A History Of Modern Iran” menekankan pentingnya memori kolektif terhadap penghinaan martabat rakyat Iran di masa lalu. Perjuangan Iran melawan Amerika saat ini dibentuk oleh nasionalisme yang terluka.

Perjuangan ini bukan sekedar masalah agama, melainkan mempertahankan kedaulatan bangsanya. Menurutnya, Iran merupakan “bangsa pejuang”—bukan karena suka berperang, tetapi karena sejarah geopolitik global memaksa mereka untuk terus menerus melawan penghianatan dan hegemoni asing.

Karena, blok Barat akan selalu menggunakan isu demokrasi hanya untuk meruntuhkan pemerintahan Iran yang sah, dan mengendalikan pemerintah baru untuk mengeksploitasi industri minyak, serta ketakutan mereka akan kecanggihan teknologi nuklir Iran.

Syahadah Sebagai “Martirisme

Selain kebesaran sejarahnya, Iran juga memiliki fondasi psikologis yang paling mendasar yaitu “syahadah” –alat mobilisasi politik yang kuat. Rohullah Khomeini (1902-1989), sang pemimpin Revolusi Islam Iran menjadikan karbala: pertempuran Imam Husain melawan tirani, sebagai dasar kewajiban untuk terus menerus melawan kezaliman.

Konsep ini menjelaskan bahwa Iran memiliki tingkat resiliensi: kemempuan beradaptasi dan tangguh, terhadap tekanan militer dan sanksi apapun resikonya. Budaya pengorbanan ini melahirkan makna “perjuangan” bagian dari ibadah nasional. Di sinilah kekuatan identitas kolektif rakyat Iran terbentuk.

Ali Shariati (1933-1977) –seorang sosiolog yang menggabungkan pemikiran Marxisme dengan teologi Syi’ah, mengatakan bahwa syahadah bukan hanya sekedar ritual keagamaan, melainkan falsafah pertahanan nasional (martitrisme). Seorang pejuang yang memilih kematian demi membela bangsanya lebih mulia dari pada tunduk pada tekanan asing. Dari spirit Karbala ini, muncul keyakinan bahwa kematian demi keadilan adalah kemenangan spiritual tertinggi.

Walhasil, Iran tetap menggunakan strategi geopolitik anti-hegemoni “Axis of Resistance”, yang didasarkan pada penolakan terhadap tatanan dunia yang dipimpin oleh AS dan keberadaan Israel di Timur Tengah. Perlawanan ini dianggap sebagai “Karbala” sekaligus menjadi kebutuhan strategis bangsanya.

Iran akan terus menerus mengembangkan self-relience. Sebuah doktrin kemandirian dalam teknologi militer yang memperkuat citra dirinya sebagai bangsa pejuang yang tangguh dan berdiri sendiri. Karena Iran memahami bahwa ia tidak memiliki sekutu besar yang permanen di kawasan.

Pada Akhirnya, “Bangsa yang Mengenal Sejarahnya, Tidak Akan Pernah Bisa Dijajah Jiwanya” –Ali Shariati.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image