Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fikrudz Dzikri Al Farisy

Demonstrasi Iran dan Ketidakjujuran Dunia dalam Menilainya

Agama | 2026-01-06 01:26:48
Ilustrasi Negara Iran. Sumber : https://internasional.kompas.com/read/2022/07/23/091000970/profil-negara-iran--letak-agama-ideologi-dan-sejarah

Setiap kali demonstrasi muncul di Iran, narasi yang muncul dari pemberitaan Internasional terutama yang pro terhadap Amerika Serikat dan Israel, seolah sudah memiliki kesimpulan siap pakai. Negara itu disebut berada di ambang kehancuran, rezim dikabarkan kehilangan legitimasi, dan perubahan besar dianggap tinggal menunggu waktu. Pola pembacaan ini berulang dari tahun ke tahun, nyaris tanpa pembaruan analisis, seolah realitas sosial dan politik Iran tidak pernah bergerak melampaui satu kerangka tafsir yang sempit. Demonstrasi dibaca bukan sebagai gejala kompleks dari masyarakat yang hidup di bawah tekanan struktural, melainkan sebagai bukti tunggal kegagalan negara. Cara pandang seperti ini bukan hanya malas secara intelektual, tetapi juga tidak jujur secara politik, karena ia sengaja mengabaikan konteks geopolitik yang selama puluhan tahun membentuk kondisi internal Iran.

Iran tidak pernah hidup dalam ruang politik yang steril. Negara ini sejak Revolusi 1979 telah ditempatkan dalam posisi antagonistik oleh kekuatan global dominan, terutama Amerika Serikat dan sekutunya. Embargo ekonomi, isolasi diplomatik, ancaman militer, hingga operasi intelijen terselubung bukanlah episode sesekali, melainkan realitas yang terus-menerus membingkai kehidupan negara dan masyarakatnya. Dalam situasi seperti ini, menilai Iran dengan parameter yang sama seperti negara-negara yang tidak pernah mengalami pengepungan ekonomi sistemik adalah sebuah penyederhanaan yang menyesatkan. Demonstrasi di Iran tidak bisa dipisahkan dari fakta bahwa negara ini selama puluhan tahun dipaksa bertahan dalam kondisi tidak normal, sambil tetap dituntut memenuhi standar stabilitas dan kesejahteraan yang nyaris mustahil dicapai tanpa akses normal ke sistem global.

Demonstrasi dan Standar Ganda Penilaian Barat Terhadap Iran

Dalam banyak pemberitaan internasional, demonstrasi diperlakukan sebagai bahasa tunggal perlawanan terhadap negara. Kerumunan massa direduksi menjadi simbol delegitimasi total, seolah setiap orang yang turun ke jalan secara otomatis menolak eksistensi Republik Islam Iran itu sendiri. Padahal realitas sosial jauh lebih berlapis. Protes tidak selalu berarti penolakan terhadap negara sebagai entitas, melainkan sering kali justru ekspresi dari tuntutan agar negara bekerja lebih baik dalam kondisi yang sangat terbatas. Mengabaikan perbedaan ini adalah kesalahan analitis yang serius, sekaligus mencerminkan kecenderungan ideologis untuk membaca Iran hanya sebagai objek konflik, bukan sebagai masyarakat dengan dinamika internal yang sah.

Tekanan ekonomi memang menjadi pemicu utama gelombang demonstrasi yang berulang di Iran. Inflasi yang tinggi, melemahnya nilai rial, dan melonjaknya harga kebutuhan pokok adalah kenyataan yang tidak bisa disangkal dan dirasakan langsung oleh masyarakat luas. Namun berhenti pada pengakuan ini tanpa menggali akar strukturalnya berarti menutup mata terhadap penyebab yang lebih fundamental. Pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan sekadar mengapa rakyat marah, tetapi mengapa ekonomi Iran terus berada dalam posisi tercekik meskipun memiliki sumber daya alam, basis industri, dan kapasitas manusia yang tidak kecil.

Jawaban atas pertanyaan tersebut secara langsung mengarah pada sanksi internasional yang bersifat menyeluruh, sistemik, dan berkepanjangan. Iran tidak hanya dibatasi dalam mengekspor minyak, sumber utama pendapatan negaranya, tetapi juga diputus dari sistem keuangan global melalui pembatasan perbankan dan transaksi internasional. Bahkan sektor-sektor yang secara nominal dikategorikan sebagai kemanusiaan, seperti obat-obatan dan alat kesehatan, kerap terdampak secara tidak langsung karena mekanisme pembayaran dan distribusi yang terhambat. Dalam kondisi seperti ini, krisis ekonomi bukan sekadar persoalan salah kelola internal, melainkan konsekuensi logis dari kebijakan global yang secara sadar dirancang untuk melemahkan negara.

Ironisnya, ketika tekanan ekonomi yang dihasilkan oleh sanksi ini memicu kemarahan sosial, dunia internasional justru menunjuk Iran sebagai pihak yang sepenuhnya bersalah. Negara dituduh gagal mengelola ekonomi, elit dituding tidak kompeten, sementara peran tekanan eksternal diperkecil atau bahkan dihapus dari narasi. Logika semacam ini cacat sejak awal. Tidak ada negara di dunia yang dapat mempertahankan stabilitas ekonomi jangka panjang ketika urat nadi perdagangannya sengaja dicekik dan aksesnya ke sistem global dibatasi secara politik. Membaca demonstrasi di Iran tanpa menyebut sanksi berarti mengaburkan hubungan sebab-akibat yang sangat mendasar.

Lebih jauh lagi, keberanian masyarakat Iran untuk terus menyuarakan tuntutan justru menunjukkan bahwa hubungan antara negara dan warga belum terputus. Protes adalah tanda adanya ekspektasi, bukan tanda keputusasaan total. Mereka yang turun ke jalan masih percaya bahwa negara memiliki kewajiban moral dan politik untuk merespons kebutuhan rakyat, meskipun ruang geraknya sangat terbatas. Dalam banyak konteks politik, sikap semacam ini justru mencerminkan keterlibatan warga yang aktif, bukan pembangkangan terhadap fondasi negara. Namun kerangka analisis ini jarang diakui, karena tidak sejalan dengan narasi tentang Iran sebagai negara gagal yang tinggal menunggu runtuh.

Cara dunia membaca demonstrasi di Iran juga memperlihatkan standar ganda yang nyaris tidak pernah disembunyikan. Ketika protes besar terjadi di negara-negara sekutu Barat, peristiwa tersebut sering dirayakan sebagai bukti vitalitas demokrasi dan kebebasan berekspresi. Ketidakpuasan publik dibaca sebagai dinamika wajar dalam sistem politik yang sehat. Namun ketika hal serupa terjadi di Iran, bahasa yang digunakan berubah drastis. Demonstrasi langsung dikaitkan dengan krisis legitimasi, instabilitas rezim, dan potensi kejatuhan negara. Perbedaan ini tidak bisa dijelaskan semata-mata oleh perbedaan sistem politik, melainkan oleh posisi Iran dalam peta kepentingan geopolitik global.

Narasi tentang elite Iran yang panik, aparat yang kehilangan kendali, atau pemimpin tertinggi yang dikabarkan siap melarikan diri adalah bagian dari politik persepsi yang bekerja secara sistematis. Informasi semacam ini jarang diverifikasi secara serius, tetapi terus diulang hingga membentuk kesan kolektif bahwa negara sedang berada di tepi jurang. Dalam geopolitik modern, persepsi bukan sekadar cermin realitas, melainkan instrumen kekuasaan. Dengan membangun citra Iran sebagai negara rapuh, tekanan eksternal mendapatkan legitimasi moral dan politik untuk terus dilanjutkan, bahkan diperketat.

Iran, Ketahanan Nasional, dan Konflik Kepentingan Kawasan

Sejarah Iran sendiri menunjukkan bahwa negara ini bukan entitas yang mudah runtuh oleh tekanan eksternal maupun guncangan internal. Iran selamat dari perang delapan tahun melawan Irak yang didukung oleh kekuatan Barat dan regional, bertahan dari embargo panjang yang melumpuhkan banyak sektor, serta mampu menjaga kohesi nasional di tengah isolasi diplomatik. Ketahanan ini tidak semata-mata bersumber dari aparat keamanan, tetapi juga dari kesadaran historis masyarakat tentang arti kedaulatan dan harga yang harus dibayar untuk mempertahankannya. Pengalaman intervensi asing yang traumatis telah membentuk memori kolektif yang membuat stabilitas nasional tidak mudah digoyahkan oleh satu atau dua gelombang protes.

Menyederhanakan Iran sebagai negara yang hanya bertahan melalui represi berarti menutup mata terhadap kompleksitas sosial dan politik yang nyata. Politik Iran bergerak melalui tarik-menarik internal yang panjang, keras, dan sering kali penuh konflik, tetapi tidak statis. Ia berubah melalui mekanisme yang khas, yang tidak selalu sejalan dengan ekspektasi atau selera pengamat luar. Pasca Revolusi 1979, Perubahan di Iran jarang terjadi secara instan atau spektakuler, tetapi berlangsung melalui proses negosiasi yang berlapis antara negara, institusi keagamaan, dan masyarakat sipil.

Dalam konteks regional, tekanan terhadap Iran juga tidak bisa dilepaskan dari persaingannya dengan Israel. Konflik ini melampaui sekadar pertikaian ideologis atau retorika politik. Ia adalah pertarungan strategis tentang siapa yang memiliki pengaruh dominan di Timur Tengah. Bagi Iran, Israel merepresentasikan tatanan internasional yang timpang, di mana pendudukan dan kekerasan dilegalkan atas nama keamanan, sementara perlawanan selalu dicap sebagai ancaman terhadap stabilitas global. Posisi Iran yang konsisten mendukung isu Palestina menjadikannya sasaran tekanan politik dan ekonomi yang terus-menerus.

Dalam kerangka ini, ketidakstabilan internal Iran bukan sekadar fenomena domestik, tetapi bagian dari kalkulasi geopolitik yang lebih luas. Iran yang sibuk menghadapi tekanan ekonomi dan sosial di dalam negeri akan memiliki ruang gerak yang lebih sempit dalam politik kawasan. Oleh karena itu, setiap krisis sosial dengan cepat diserap ke dalam narasi besar tentang pelemahan negara. Demonstrasi yang terjadi hari ini berada di persimpangan kepentingan tersebut. Ia adalah ekspresi nyata dari tuntutan rakyat, sekaligus medan perang narasi tempat berbagai aktor eksternal berusaha menarik kesimpulan politis yang menguntungkan posisi mereka.

Membaca demonstrasi di Iran secara jujur berarti mengakui keberadaan tekanan ganda yang dihadapi negara ini. Di satu sisi, ada tuntutan internal yang sah dan tidak bisa diabaikan. Di sisi lain, ada tekanan eksternal yang secara sistematis mempersempit ruang kebijakan negara. Mengabaikan salah satu dari dua dimensi ini akan menghasilkan analisis yang timpang. Sayangnya, banyak pengamatan internasional memilih jalan pintas dengan menempatkan seluruh beban kesalahan pada Iran, karena narasi tersebut lebih mudah dijual dan sesuai dengan kepentingan politik tertentu.

Iran Tidak Runtuh, Dunia yang Gagal Membacanya

Iran hari ini bukan negara yang sedang runtuh, melainkan negara yang dipaksa bertahan dalam kondisi yang panjang dan melelahkan. Demonstrasi yang muncul bukan bukti bahwa negara telah kehilangan arah, tetapi tanda bahwa masyarakat masih terlibat dalam pergulatan menentukan masa depan mereka. Membaca situasi ini secara adil berarti mengakui bahwa penderitaan rakyat Iran tidak bisa dilepaskan dari sistem global yang selama ini secara aktif mempersempit pilihan-pilihan negara tersebut.

Pandangan yang terus-menerus menempatkan Iran sebagai pihak yang gagal justru menutup peluang untuk memahami persoalan secara lebih jernih dan manusiawi. Iran tidak sedang menolak perubahan. Ia sedang bernegosiasi dengan realitas geopolitik yang keras, sambil berusaha mempertahankan kedaulatan dalam tatanan dunia yang tidak pernah benar-benar netral. Selama demonstrasi di Iran terus diperlakukan sebagai alat untuk menjustifikasi delegitimasi negara, bukan sebagai gejala dari ketidakadilan struktural yang lebih luas, maka yang terjadi bukanlah analisis, melainkan pengulangan narasi lama yang sudah kehilangan daya jelaskan. Iran mungkin sedang diguncang, tetapi hingga kini, ia masih berdiri, dan bertahan dengan cara yang jauh lebih kompleks daripada yang ingin dipercaya oleh banyak pihak.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image