Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Eggy Ade Pratama

Palu Washington, Peluang Beijing: AS vs China Timur Tengah

Politik | 2026-02-25 13:58:27
Donald Trump dilaporkan menyiapkan opsi serangan militer terhadap Iran untuk mendorong perubahan rezim di negara tersebut.

Ketika kapal induk terbesar Amerika bergerak menuju Timur Tengah, itu bukan sekadar rotasi militer melainkan pesan dan peringatan. Di bawah keputusan Presiden saat itu, Donald Trump, pengerahan USS Gerald R. Ford adalah demonstrasi kekuatan paling gamblang: Washington masih memegang palu.

Tetapi setiap palu membutuhkan paku. Dan di tengah ketegangan dengan Iran, pertanyaan yang lebih besar muncul: siapa sebenarnya yang diuntungkan?

Secara klasik, ini adalah politik realis. Negara menunjukkan daya gentarnya. Kapal induk adalah simbol deterrence. Dalam sistem internasional yang anarkis, kekuatan militer adalah bahasa paling jelas. Namun bahasa kekuatan juga menciptakan gema security dilemma. Satu pihak merasa aman. Pihak lain merasa terancam. Eskalasi menjadi logika yang hampir otomatis.

Amerika ingin menekan Iran. Tetapi tekanan militer selalu membawa biaya. Biaya finansial. Biaya legitimasi. Biaya reputasi. Dan di situlah pemain ketiga berdiri dengan tenang, nyaris tanpa suara: China.

Bagi Beijing, Timur Tengah bukan arena ideologis justru Ia adalah jalur energi. Jalur dagang. Simpul penting dalam Belt and Road Initiative. Stabilitas berarti suplai minyak. Instabilitas berarti harga naik dan justru membuka ruang negosiasi baru. Cina tidak mengirim kapal induk, tetapi Cina mengirim kontrak, investasi, dan perjanjian jangka panjang.

Di sinilah klaim beraninya: eskalasi Amerika justru memperlebar ruang strategis Cina.

Ketika Washington menunjukkan otot, Beijing membangun ketergantungan. Ketika Amerika fokus pada proyeksi militer, Cina memperdalam interdependensi ekonomi. Siapa yang lebih mahal? Siapa yang lebih tahan lama?

Di bawah kepemimpinan Xi Jinping, politik luar negeri Cina bergerak dengan pola strategic hedging. Tidak frontal menantang Amerika. Tidak pula meninggalkan Iran. Cina menjaga hubungan dengan semua pihak. Multi-alignment. Fleksibel. Pragmatis. Ini bukan idealisme. Ini kalkulasi.

Amerika masih mengandalkan dominasi militer global. Tetapi dunia sedang berubah. Dalam kerangka great power competition, Timur Tengah bukan lagi sekadar ladang konflik regional. Ia menjadi laboratorium hegemoni. Uji coba: apakah superioritas militer masih cukup untuk mempertahankan pengaruh?

Sementara kapal induk berlayar, Cina memperluas pelabuhan. Sementara ancaman diumumkan di podium, proyek infrastruktur ditandatangani dalam ruang rapat. Dua strategi. Dua visi kekuasaan.

Apakah pendekatan Amerika salah? Tidak selalu. Deterensi bisa efektif dalam jangka pendek. Tetapi ia jarang menciptakan ketergantungan struktural. Sebaliknya, pendekatan ekonomi Cina mungkin tampak pasif. Namun ia membangun pengaruh yang lebih senyap dan lebih dalam.

Ironisnya, setiap eskalasi yang memperlihatkan kerasnya hegemoni Amerika justru mempercepat pencarian alternatif global. Dan Cina siap menawarkan alternatif itu tanpa perlu menembakkan satu peluru pun.

Kapal induk mungkin menguasai laut. Tetapi dalam politik internasional abad ke-21, yang menguasai arus perdagangan dan ketergantungan ekonomi sering kali lebih menentukan arah sejarah.

Dan Beijing memahami itu dengan sangat baik.

Eggy Ade Pratama, Mahasiswa Hubungan Internasional UNSRI.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image