Pak Guru, Muridmu Juga Punya Hati
Eduaksi | 2026-05-14 10:52:22
Di sebuah sekolah dasar negeri di Jakarta Timur, seorang guru laki-laki yang usianya sudah mendekati masa pensiun. Puluhan tahun ia berdiri di depan kelas, mengajar generasi demi generasi. Rambutnya mulai memutih, langkahnya mulai pelan, tetapi ada satu hal yang seharusnya tidak pernah menua dari seorang pendidik yaitu hati dalam mendidik anak-anak.
Namun mirisnya, di ruang kelas itu justru lahir luka-luka kecil yang mungkin akan diingat murid seumur hidupnya.
Ada anak yang dipanggil “si bisu” hanya karena ketika ditanya ia lebih sering mengangguk atau menggeleng. Mungkin anak itu pemalu. Mungkin ia takut salah. Mungkin ia sedang berjuang melawan rasa gugupnya. Tetapi alih-alih dirangkul, ia malah diberi label.
Ada juga anak yang disebut “si pintar” karena orang tuanya seorang guru. Namun ketika beberapa kali jawabannya salah di depan kelas, ejekan pun muncul. Seolah kecerdasan anak diukur dari satu dua jawaban, bukan dari proses belajar.
Dan yang paling menyedihkan, ada anak yang disebut “si bodoh” hanya karena lambat memahami pelajaran.
Padahal setiap anak memiliki waktu tumbuh yang berbeda.
Tidak semua anak bisa cepat berhitung. Tidak semua anak berani bicara. Tidak semua anak langsung memahami pelajaran dalam sekali penjelasan.
Tetapi bukankah justru di situlah tugas seorang guru? Membimbing yang tertinggal, bukan hanya memuji yang sudah bisa berlari.
Ruang kelas seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak untuk belajar salah, bukan tempat yang membuat mereka takut mencoba.
Ironisnya, guru tersebut memiliki prinsip bahwa anak harus cepat mengerjakan soal. Ia tidak suka murid yang lambat. Baginya, kecepatan adalah ukuran kepintaran. Padahal dunia pendidikan bukan lomba siapa tercepat, melainkan proses menumbuhkan potensi setiap anak.
Anak yang hari ini lambat membaca, bisa jadi kelak paling bijaksana. Anak yang pendiam, bisa jadi nanti paling berhasil. Dan anak yang sering dianggap “bodoh”, mungkin hanya belum menemukan cara belajar yang tepat.
Sayangnya, banyak orang dewasa lupa bahwa ucapan guru memiliki pengaruh besar dalam hidup anak.
Satu kalimat kasar bisa tertanam puluhan tahun. Satu ejekan bisa mengubah rasa percaya diri seorang anak selamanya.
Tidak sedikit orang dewasa hari ini yang masih mengingat hinaan gurunya saat di kelas. Bukan karena pelajarannya terlalu sulit, tetapi karena lukanya terlalu dalam.
Dalam Islam pun, lisan sangat dijaga.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Allah juga berfirman dalam Al-Qur’an:
“Maka berbicaralah kamu kepada mereka dengan kata-kata yang mulia.”
(QS. Al-Isra: 23)
Jika kepada orang tua saja kita diperintahkan berkata mulia, apalagi kepada anak-anak yang hatinya masih lembut dan mudah terluka.
Guru bukan hanya pengajar mata pelajaran. Guru adalah pembentuk jiwa.
Nilai matematika mungkin akan terlupakan. Rumus pelajaran mungkin akan hilang dari ingatan. Tetapi perkataan seorang guru sering menetap sangat lama di hati muridnya.
Menjadi guru hebat bukan tentang siapa murid tercepat di kelasnya. Tetapi siapa yang mampu membuat anak yang paling lemah sekalipun merasa berharga.
Karena pendidikan sejati bukan sekadar mencerdaskan otak, tetapi juga memanusiakan manusia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
