Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Wahyuddin Luthfi Abdullah

Pendidikan yang Memeluk Jiwa: Refleksi Pedagogi Islam

Pendidikan | 2026-02-11 18:35:43

Tragedi meninggalnya seorang siswa di Nusa Tenggara Timur (NTT) baru-baru ini menyisakan duka sekaligus tanda tanya besar bagi publik. Meski sering kali dibaca dalam kacamata persoalan ekonomi dan relasi domestik, peristiwa memilukan ini sejatinya membawa pesan yang lebih mendalam bagi dunia pendidikan kita. Ia menjadi cermin retak yang memaksa kita semua baik orangtua, pendidik, maupun pembuat kebijakan untuk bertanya: sejauh mana ekosistem pendidikan kita telah memberikan ruang aman bagi kerentanan batin peserta didik?

Selama ini, sistem pendidikan kita masih cenderung terjebak dalam pemujaan berlebihan pada angka. Keberhasilan diukur melalui deretan nilai di rapor, persentase kelulusan, hingga pemenuhan kewajiban administrasi. Namun, kita sering kali abai pada satu indikator yang paling fundamental namun sulit diukur: kesejahteraan batin peserta didik. Sekolah sering menjadi ruang mekanis di mana anak hadir sebagai objek pengajaran, bukan subjek yang membawa beban sosial dan ekonomi dari rumahnya.

Dalam perspektif pendidikan Islam humanistik, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia secara utuh (ta’dib). Di sini, sosok pendidik tidak boleh berhenti sebagai Mu’allim atau penyampai materi belaka, tetapi harus bertransformasi menjadi Mudabbir seorang pengelola dan pendamping yang peka terhadap gejolak emosional muridnya.

Tradisi klasik menekankan pentingnya suhbatu ustadz atau kedekatan dengan guru sebagai prasyarat ilmu. Konsep ini melampaui sekadar interaksi formal di depan papan tulis. Ia adalah relasi pedagogis yang dibangun di atas empati, di mana guru memiliki ketajaman rasa untuk membaca tanda-tanda kelelahan mental atau keputusasaan di wajah muridnya sebelum semuanya terlambat.

Tragedi di NTT memberi pelajaran bahwa tekanan ekonomi keluarga yang beririsan dengan tuntutan administratif sekolah dapat menciptakan rasa terasing yang luar biasa bagi seorang anak. Bagi mereka yang rentan, sekolah tak lagi menjadi "rumah kedua", melainkan medan tempur yang menghakimi harga diri mereka. Tanpa adanya ruang dialog yang aman, tekanan tersebut mengkristal menjadi keputusasaan.

Diskursus mengenai kesehatan mental di sekolah memang mulai menggeliat, namun sering kali masih sebatas formalitas kurikulum. Kita butuh lebih dari sekadar guru bimbingan konseling yang menunggu di ruangan; kita butuh ekosistem sekolah yang inklusif, di mana kerentanan sosial dipahami sebagai bagian dari proses belajar, bukan aib yang harus disembunyikan.

Kini, di tengah hiruk-pikuk kebijakan pemenuhan gizi fisik bagi siswa, kita tidak boleh lupa bahwa "perut yang kenyang" tetap membutuhkan "jiwa yang tenang" untuk bisa bertumbuh. Pendidikan tidak boleh hanya mengejar kecerdasan intelektual jika pada akhirnya ia kehilangan sensitivitas kemanusiaan. Tragedi ini harus menjadi titik balik: bahwa menjaga kesehatan mental dan harga diri setiap anak adalah tugas pendidikan yang jauh lebih mulia daripada sekadar menuntaskan kurikulum.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image