Perspektif Model Matematika di Era Digital
Teknologi | 2026-01-06 17:56:18Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berpikir, berinteraksi, dan mengambil keputusan. Arus informasi yang begitu cepat sering kali membuat individu kehilangan keseimbangan dalam bersikap, termasuk dalam menjalankan nilai-nilai agama. Fenomena ini menarik untuk dilihat tidak hanya dari sudut pandang sosial dan moral, tetapi juga melalui pendekatan model matematika sebagai alat berpikir rasional.
Dalam matematika, suatu sistem dapat dimodelkan sebagai hubungan antara variabel-variabel yang saling memengaruhi. Jika kita memandang kehidupan manusia sebagai sebuah sistem, maka nilai agama dapat dianggap sebagai variabel pengendali (control variable), sementara teknologi digital berperan sebagai variabel eksternal yang terus berubah secara dinamis.
Secara sederhana, kondisi moral masyarakat dapat dimodelkan sebagai:
M(t) = f(A(t), D(t))
dengan:
- M(t) : kondisi moral masyarakat pada waktu tertentu
- A(t) : tingkat internalisasi nilai agama
- D(t) : intensitas paparan tekno
Model ini menunjukkan bahwa moral masyarakat tidak hanya dipengaruhi oleh teknologi, tetapi juga sangat bergantung pada seberapa kuat nilai agama tertanam dalam diri individu. Ketika D(t) meningkat tajam tanpa diimbangi peningkatan A(t), maka sistem menjadi tidak stabil. Hal ini terlihat dari maraknya hoaks, ujaran kebencian, dan konflik berbasis identitas agama di ruang digital.
Dalam teori sistem, kondisi tersebut dikenal sebagai ketidakseimbangan. Untuk mengembalikan sistem ke kondisi stabil, diperlukan mekanisme umpan balik (feedback). Dalam konteks kehidupan beragama, umpan balik ini dapat berupa literasi keagamaan, sikap tabayyun, serta dakwah yang moderat dan mencerahkan.
Jika nilai agama berfungsi sebagai penyeimbang, maka peningkatan kualitas pemahaman agama akan memperbaiki kondisi sistem secara keseluruhan. Dengan kata lain, A(t) yang meningkat mampu meredam dampak negatif dari D(t) yang terus berkembang.
Pendekatan matematika ini mengajarkan bahwa masalah sosial-keagamaan di era digital tidak dapat diselesaikan dengan emosi semata, melainkan membutuhkan pemikiran sistematis dan rasional. Agama dan ilmu pengetahuan bukanlah dua hal yang saling bertentangan, tetapi justru dapat saling melengkapi dalam membangun masyarakat yang beradab.
Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Seperti dalam matematika, hasil akhir sangat ditentukan oleh parameter yang digunakan. Ketika nilai agama dijadikan parameter utama dalam kehidupan digital, maka kemajuan teknologi tidak akan menjauhkan manusia dari Tuhan, tetapi justru mendekatkannya pada makna hidup yang lebih hakiki.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
