Ketika AI Semakin Pintar, Apakah Kita Masih Berpikir Kritis?
Eduaksi | 2026-01-31 05:56:03Belakangan ini, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin sering hadir dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari rekomendasi konten di media sosial, filter wajah, chatbot, hingga pembuatan gambar dan tulisan secara otomatis. Kehadiran AI memang memudahkan banyak hal, tetapi di sisi lain juga menimbulkan pertanyaan penting: apakah manusia masih cukup kritis dalam menggunakannya?
Di media sosial, AI bekerja di balik layar menentukan apa yang kita lihat dan konsumsi setiap hari. Konten yang sering ditonton akan terus muncul, sementara sudut pandang lain perlahan tersingkir. Tanpa disadari, pengguna bisa terjebak dalam gelembung informasi yang memperkuat pendapat sendiri dan menutup ruang dialog. Jika tidak disikapi dengan bijak, kondisi ini berpotensi membentuk pola pikir yang sempit.
Fenomena lain yang sedang ramai adalah penggunaan AI untuk membuat konten instan. Gambar, video, bahkan tulisan dapat dibuat dalam hitungan detik. Sayangnya, tidak semua pengguna memahami batas etika dalam penggunaannya. Ada konten yang menyesatkan, manipulatif, bahkan berpotensi merugikan orang lain karena dibuat tanpa pertimbangan dampak sosialnya.
Masalah semakin kompleks ketika konten berbasis AI sulit dibedakan dari konten asli. Informasi palsu bisa terlihat meyakinkan, sehingga masyarakat yang kurang kritis mudah mempercayainya. Jika hal ini dibiarkan, kepercayaan publik terhadap informasi di ruang digital akan semakin menurun.
Di sinilah pentingnya peran literasi digital. Masyarakat tidak cukup hanya bisa menggunakan teknologi, tetapi juga perlu memahami cara kerja, risiko, dan dampak dari teknologi tersebut. Sikap kritis menjadi kunci agar pengguna tidak hanya menjadi konsumen pasif, tetapi mampu menilai dan menyaring informasi yang diterima.
AI sejatinya adalah alat. Ia bisa membawa manfaat besar jika digunakan dengan bijak, tetapi juga bisa menimbulkan masalah jika digunakan tanpa etika dan tanggung jawab. Oleh karena itu, manusia tetap harus menjadi pengendali, bukan justru dikendalikan oleh teknologi.
Pada akhirnya, di tengah kecanggihan AI yang semakin berkembang, kemampuan berpikir kritis dan kesadaran etika menjadi bekal penting. Teknologi boleh semakin pintar, tetapi manusia tidak boleh berhenti berpikir.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
