Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Agus Budiana

Media Massa di Persimpangan Algoritma dan Integritas

Kolom | 2026-02-22 07:00:17
Ilustrasi Media massa terintegrasi dengan media sosial ( Sumber : Unsplash)

Beberapa tahun terakhir, saya sering bertanya pada diri sendiri: apakah media arus utama masih memiliki tempat di tengah derasnya arus informasi digital? Di satu sisi, media massa tetap memikul tanggung jawab besar menjadi pengawas kekuasaan, penjaga fakta, dan pencerah bagi publik. Di sisi lain, kita melihat pembaca semakin menyebar ke media sosial, algoritma mendikte konten viral, dan iklan mengalir ke platform global. Media massa pun berada di persimpangan jalan antara menyalakan cahaya atau mengikuti arus untuk bertahan.

Tingkat kesukaan masyarakat pada media sosial menurut dataReportal.com tahun 2024 mencatat, jumlah pengguna internet di Indonesia pada awal 2024 mencapai 185,3 juta orang. Angka ini setara dengan 66,5 persen dari total populasi. Sementara itu, pengguna media sosial tercatat sebanyak 139,0 juta orang atau sekitar 49,9 persen dari jumlah penduduk Indonesia.

Hal tersebut memberikan gambaran pada kita bahwa, rata-rata penduduk Indonesia menyukai dan menggunakan media sosial sebagai sumber informasi apapun. Secara tidak langsung hal ini berdampak pada keberadaan media massa.

Sering orang melihat krisis media hanya dari sisi finansial. Ya, pendapatan iklan menurun dan pembaca beralih ke platform digital. Tapi yang lebih serius adalah krisis kepercayaan. Saya sendiri kadang heran melihat berita yang viral seringkali cepat tapi dangkal. Publik bingung membedakan antara jurnalisme yang terverifikasi dan opini liar.

Kalau media massa memilih sensasi demi klik, ia mungkin mendapatkan perhatian sementara, tapi kepercayaan publik akan luntur. Saya percaya, kepercayaan adalah fondasi yang tidak bisa digantikan oleh algoritma manapun.

Idealisme vs Realitas Pasar

Media massa tidak bisa hidup tanpa sumber daya. Redaksi butuh gaji, operasional butuh biaya, dan jurnalisme investigatif butuh waktu. Namun ketika logika pasar mengatur semua, idealisme editorial sering tergeser.

Algoritma media sosial mengutamakan engagement. Konten provokatif lebih cepat menyebar dibanding laporan mendalam. Di sinilah dilema: mengikuti arus demi trafik, atau tetap pada prinsip kebenaran?

Dari pengalaman membaca media internasional seperti Reuters, AP dan The Guardian, media yang tetap bertahan adalah mereka yang memilih kredibilitas di atas sensasi. Meskipun tidak selalu populer, mereka tetap menjadi rujukan publik di saat krisis.

Adaptasi tanpa kehilangan arah

Bertahan bukan berarti stagnan. Media massa harus adaptif: Menyajikan isu kompleks dengan storytelling yang menarik Menggunakan multimedia, podcast, atau video pendek untuk menjangkau pembaca muda

Namun, adaptasi tidak boleh mengorbankan nilai dasar: akurasi, independensi, dan integritas. Format boleh berubah, tapi prinsip tidak boleh digerus tekanan pasar.

Tekanan polarisasi masyarakat semakin nyata. Banyak media massa merasa harus “netral” agar tidak kehilangan pembaca. Tapi bagi saya, netralitas bukan berarti menyejajarkan fakta dan kebohongan. Netralitas sejati adalah berani berpihak pada fakta, meskipun tidak populer.

Media massa yang takut menghadapi isu sensitif seringkali kehilangan relevansi. Integritas jurnalistik mungkin tidak selalu sejalan dengan popularitas jangka pendek, tapi dalam jangka panjang, integritas membangun loyalitas pembaca.

Dekat dengan Publik

Saya sering merasa, media massa terlalu lama berbicara dari “menara gading”. Padahal publik ingin didengar, bukan hanya diberi informasi. Media massa yang berhasil adalah yang mau mendengarkan suara lokal, memahami kebutuhan publik, dan transparan dalam proses jurnalistik.

Ketika pembaca tahu bagaimana berita dibuat, mengapa sudut pandang tertentu dipilih, atau bagaimana koreksi dilakukan, mereka melihat media massa bukan sebagai institusi jauh, tapi sebagai mitra informasi. Kepercayaan tumbuh dari transparansi ini yang saya pelajari dari pengalaman menulis dan mengikuti berbagai newsroom.

Ketergantungan pada iklan digital membuat media massa rentan terhadap algoritma global. Jika ingin independen, media massa harus berani mengeksplorasi model alternatif: langganan, membership, forum publik, atau kolaborasi lintas media. Kemandirian finansial memberikan ruang bagi redaksi untuk tetap berani menyuarakan fakta, tanpa takut tekanan eksternal.

Menyalakan cahaya di tengah kebisingan

Persimpangan jalan ini bukan soal memilih ekstrem tentang idealisme atau popularitas. Tantangannya adalah menyalakan cahaya dengan cara yang tetap menarik bagi pembaca.

Jika media massa hanya mengejar klik, ia kehilangan kepercayaan. Jika hanya idealis tanpa inovasi, ia kehilangan relevansi. Media massa yang tepat adalah yang berani tetap kritis, adaptif, dekat dengan publik, dan mandiri secara editorial.

Di tengah kebisingan informasi, publik tidak butuh lebih banyak suara. Mereka butuh suara yang dapat dipercaya dan di situlah peran media massa arus utama tetap relevan bukan hanya bertahan, tetapi memimpin.

Penulis adalah Jurnalis Warta Perwira, alumnus Journalism Course : Thomson Foundation, University of Derby dan The Open University, England, UK. Anggota Hostwriter (Jaringan jurnalis lintas negara).

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image