Kesyahidan dan Kontribusi Filsafat Ali Larijani
Eduaksi | 2026-03-19 10:24:49Kepergian Dr. Ali Ardeshir Larijani dalam serangan udara pada 16 Maret 2026 merupakan duka mendalam bagi dunia intelektual kontemporer. Beliau bukan sekadar teknokrat atau Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, melainkan seorang filosof-negarawan yang berhasil meruntuhkan dinding pemisah antara abstraksi metafisika dan realitas politik konkret.
Sebagaimana dituangkan dalam karyanya Ibn Sina On the Desired Governance (2023), Larijani meyakini bahwa filsafat harus menjadi panduan praktis dan politik demi kemaslahatan umat, meneladani Ibnu Sina yang tidak hanya bergelut dengan teks, tetapi juga dengan tata kelola pemerintahan yang nyata.
Profil intelektual Larijani menjadi unik karena kemampuannya menjelaskan filsafat kritis Immanuel Kant, arsitek utama rasionalisme Barat, di tengah arus intelektual Iran yang biasanya terjebak antara kritik Heideggerian atau kebangkitan Hikmat al-Muta’aliyah.
Melalui tiga karya utamanya yaitu Ravesh-e Riazi, Metafizik va Olum-e Daqiqeh, dan Shuhud va Qazaya-ye Ta’lifi-ye Ma-Taqaddom, Larijani membedah epistemologi Kantian untuk menemukan dasar bagi sains, matematika, dan agama.
Ia tidak melihat Kant sebagai ancaman bagi iman, melainkan sebagai sarana untuk mendefinisikan kembali posisi agama dalam tatanan rasionalitas modern.
Dalam telaahnya mengenai filsafat matematika Kant, Larijani menekankan pentingnya proposisi sintetik a priori. Ia berargumen bahwa pengetahuan matematika, seperti 5 + 7 = 12, bukan sekadar hasil pengalaman empiris, melainkan berakar pada struktur internal kognisi manusia.
Bagi Larijani, jika sains dan matematika bergantung pada intuisi kognitif pra-pengalaman, maka pengetahuan agama dan metafisika memiliki legitimasi epistemologis yang setara.
Keduanya bertumpu pada intuisi dasar yang tidak dapat dibuktikan secara empiris, sehingga sains dan Islam bagi Larijani bukanlah dua kutub yang bertentangan, melainkan bentuk kognisi manusia yang berbeda namun saling melengkapi.
Larijani menggunakan kerangka Kantian ini untuk menjembatani rasionalitas matematika dengan ketajaman metafisika Islam. Dalam artikel Infinity in Descartes' Philosophy (2025), ia mengeksplorasi konsep ketidakterbatasan (infinity) bukan sebagai angka matematis belaka, melainkan sebagai ide positif yang inheren dalam jiwa manusia.
Pemahaman akan Yang Tak Terbatas ini menjadi fondasi spiritual yang memungkinkan manusia melampaui keterbatasan material. Di titik inilah, filsafat Kantian yang membedakan akal teoretis dan praktis bertemu dengan kerinduan spiritual Larijani akan keabadian.
Kekuatan intelektual Larijani juga terpancar dalam kritiknya terhadap teori kesalahan Descartes melalui paper The Limits of Understanding and the Infinity of Will (2021). Ia menegaskan bahwa sementara pemahaman manusia itu terbatas, kehendak manusia (will) bersifat tak terbatas.
Kesalahan terjadi ketika kehendak melampaui batas pemahaman. Namun, dalam ruang moral dan politik, kehendak yang tak terbatas inilah yang mendorong manusia untuk memilih kebenaran di tengah ketidakpastian. Integritas seorang pemikir, diuji saat ia berani menyelaraskan kehendaknya dengan kebenaran ilahi meskipun harus menghadapi risiko maut.
Sintesis antara akal, sains, dan tindakan ini membentuk sebuah pandangan dunia (worldview) yang koheren bagi Larijani. Baginya, pengetahuan yang benar wajib termanifestasikan dalam keberanian moral.
Sebuah sistem filsafat yang menolak sains atau diam di hadapan penindasan dianggapnya sebagai sistem yang rapuh. Pengabdian Larijani pada filsafat amaliah dibuktikan dengan konsistensi antara gagasan transendental dan kebijakan publik yang nyata.
Ia menghidupkan nilai-nilai tradisi Islam dalam ruang sosiopolitik modern, menggunakan matematika universal untuk menjawab penderitaan kolektif manusia termasuk menghadapi Amerika dan Israel dalam perang di kawasan.
Saya bisa memastikan bahwa filsafat politik Larijani berakar pada pemahaman filosofisnya akan penyempurnaan fitrah manusia dengan mengenal Tuhan dan kembali kepada-Nya dengan cara yang diinginkan oleh Tuhan. Seluruh aktivitas politiknya didasari oleh motif transendental filosofis.
Kekuasaan baginya hanyalah instrumen sementara untuk mewujudkan keadilan ilahi. Maka, ketika ia berhadapan dengan pilihan antara keselamatan diri atau kesetiaan pada prinsip, Larijani memilih jalan yang paling radikal sebagai bentuk pengamalan ilmu filsafatnya yang terdalam.
Pilihan hidupnya untuk menjadi martir adalah puncak dialektika antara pemahaman akan Yang Tak Terbatas dan keterbatasan duniawi. Dalam perspektif filsafat yang ia dalami, kematian bukanlah akhir, melainkan gerbang menuju infinitas yang selama ini ia kaji secara teoretis.
Menjadi martir adalah ekspresi tertinggi dari kehendak bebas (the will’s free choice) yang telah mencapai keyakinan penuh (certainty). Di sini, Larijani tidak lagi sekadar menulis tentang Kant, Descartes atau Ibnu Sina, ia sedang mempraktikkan kematian filosofis yang membebaskan jiwa dari kungkungan material.
Keberanian Larijani untuk syahid adalah bentuk pengabdian strategis yang meneladani jalur Imam Husain. Baginya, syahadat adalah kesempurnaan eksistensial di mana subjek yang mengetahui bersatu dengan objek yang diketahui, yakni Kebenaran Mutlak.
Kematian ini adalah cara Larijani mencapai ketidakterbatasan yang ia cari dalam matematika dan metafisika. Ia membuktikan bahwa seorang filosof yang benar adalah ia yang berani mati demi kebenaran yang dipikirkannya, mengubah teori menjadi aksioma darah.
Kehidupan Larijani memberikan pelajaran berharga bagi dunia akademik bahwa gelar, riset, dan publikasi tidak memiliki makna sejati jika tidak mampu menggerakkan perubahan atau berdiri tegak melawan kezaliman.
Beliau membuktikan bahwa seorang ahli matematika dan pengkaji Kant bisa menjadi pejuang yang gigih di medan laga. Jalan yang ia tempuh mengingatkan kita bahwa intelektualitas sejati menuntut pengorbanan tertinggi, di mana pena dan pedang menyatu dalam harmoni pengabdian kepada Tuhan.
Dunia kehilangan sosok langka yang mampu menyatukan diskursus tinggi tentang epistemologi Kantian dengan realitas pahit geopolitik Timur Tengah. Namun, warisan pemikirannya dalam jurnal-jurnal seperti Journal of Philosophical Theological Research tetap menjadi lentera.
Perjalanannya adalah standar baru bagi intelektual Muslim untuk terjun ke kancah politik tanpa kehilangan jiwa filosofis, dan berpolitik tanpa menanggalkan integritas moral. Ia telah menyelesaikan tugas dunianya dan kini melangkah menuju cakrawala infiniti yang sesungguhnya.
Selamat jalan, sang filosof martir. Keberanianmu dalam membela hak dan martabat bangsa Iran seperti terungkap dalam wawancaramu dengan media Frontline PBS yang rilis 19 maret 2026 di tengah kecamuk perang, atau goresan penamu kepada pemimpin negara Islam di Timur Tengah untuk bersatu membela Islam telah menjadi legacy bagi kaum intelektual sejati Kini cahaya ilmu filsafat dan pikiran politikmu telah mencerahkan Timur Tengah dan mengantarkanmu ke dalam pertemuan dengan Sang Maha Tak Terbatas. Al-Fatihah.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
