Ondel-Ondel: Ikon Budaya Betawi atau Hiburan Jalanan?
Kultura | 2026-05-03 14:48:01
Ondel-ondel dikenal sebagai salah satu ikon budaya masyarakat Betawi yang memiliki nilai historis dan simbolik yang kuat. Boneka raksasa ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memiliki makna spiritual sebagai penolak bala pada masa lalu. Dalam perkembangannya, ondel-ondel kini lebih sering ditemui di jalanan sebagai sarana hiburan bahkan untuk mengamen, sehingga memunculkan perdebatan mengenai pergeseran fungsi dan maknanya dalam masyarakat modern (Sari, 2021).
Menurut pandangan yang berkembang, ondel-ondel pada awalnya merupakan bagian dari ritual adat masyarakat Betawi yang sarat nilai sakral. Boneka ini dipercaya mampu melindungi masyarakat dari roh jahat dan energi negatif. Dalam konteks ini, ondel-ondel bukan sekadar pertunjukan, melainkan simbol perlindungan dan identitas budaya yang harus dijaga keberadaannya (Hidayat, 2020). Pendapat tersebut menegaskan bahwa nilai tradisional ondel-ondel tidak dapat dipisahkan dari akar budaya Betawi itu sendiri.
Di sisi lain, seiring perkembangan zaman dan pengaruh urbanisasi, fungsi ondel-ondel mengalami perubahan signifikan. Ia kini sering digunakan sebagai alat hiburan jalanan untuk menarik perhatian masyarakat, bahkan tidak jarang digunakan untuk kepentingan ekonomi seperti mengamen di jalan raya. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran makna dari yang semula sakral menjadi lebih profan. Dalam pandangan orang ketiga, fenomena ini dianggap sebagai bentuk adaptasi budaya terhadap tuntutan kehidupan modern, meskipun berpotensi mengurangi nilai filosofis yang terkandung di dalamnya (Pratama, 2022).
Sebagian masyarakat berpendapat bahwa perubahan fungsi tersebut tidak sepenuhnya negatif. Ondel-ondel yang hadir di ruang publik justru memperkenalkan budaya Betawi kepada khalayak luas, terutama generasi muda yang mungkin tidak lagi akrab dengan tradisi tersebut. Dengan demikian, meskipun bentuk penyajiannya berubah, eksistensi ondel-ondel tetap terjaga sebagai bagian dari identitas budaya lokal (Rahmawati, 2023). Pendapat ini menunjukkan bahwa budaya dapat berkembang tanpa harus kehilangan esensi sepenuhnya.
Namun demikian, ada pula kekhawatiran bahwa komersialisasi ondel-ondel dapat mereduksi nilai sakral dan estetika tradisionalnya. Ketika digunakan hanya sebagai alat mencari uang, makna simbolik yang dahulu melekat dapat memudar. Oleh karena itu, diperlukan upaya pelestarian yang seimbang antara mempertahankan nilai tradisional dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
Ondel-ondel merupakan simbol budaya Betawi yang memiliki perjalanan panjang dari fungsi sakral hingga menjadi hiburan jalanan. Perubahan ini mencerminkan dinamika budaya yang terus berkembang mengikuti zaman. Dalam pandangan orang ketiga, pergeseran fungsi tersebut tidak sepenuhnya menghilangkan nilai budaya, tetapi menuntut adanya kesadaran masyarakat untuk tetap menjaga makna dan identitas aslinya. Dengan pelestarian yang tepat, ondel-ondel dapat tetap menjadi ikon budaya sekaligus relevan di era modern.
Referensi Hidayat, A. (2020). Makna Simbolik Ondel-Ondel dalam Budaya Betawi. Jurnal Kebudayaan Nusantara.Sari, D. (2021). Transformasi Fungsi Ondel-Ondel di Era Modern. Jurnal Sosial dan Humaniora.Pratama, R. (2022). Komodifikasi Budaya dalam Pertunjukan Ondel-Ondel. Jurnal Ilmu Budaya.Rahmawati, L. (2023). Pelestarian Budaya Betawi di Tengah Globalisasi. Jurnal Antropologi Indonesia.Wibowo, S. (2021). Perubahan Nilai Tradisi dalam Seni Pertunjukan Rakyat. Jurnal Seni dan Budaya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
