Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image ZAHRA NUR ASFIYA. AP

Bank Syariah Lebih Mahal: Fakta yang tak Bisa Diabaikan

Ekonomi Syariah | 2026-03-19 10:44:27
Sumber : Pinterest

Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya transaksi keuangan yang sesuai prinsip Islam, bank syariah semakin mendapatkan tempat di hati publik. Label bebas riba, transparansi, dan keadilan menjadi daya tarik utama yang mendorong pertumbuhan industri ini. Namun di balik optimisme tersebut, terselip satu realitas yang kerap menjadi perbincangan: pembiayaan di bank syariah sering kali terasa lebih mahal dibandingkan bank konvensional.

Isu ini bukan sekadar persepsi tanpa dasar. Di lapangan, banyak nasabah yang secara langsung merasakan perbedaan tersebut. Ketika membandingkan cicilan kredit rumah, kendaraan, atau pembiayaan konsumtif lainnya, angka yang ditawarkan bank syariah kerap lebih tinggi. Tidak sedikit yang kemudian bertanya, bahkan meragukan: jika tujuannya keadilan, mengapa justru terasa lebih berat?

Dalam konteks ini, penting untuk melihat persoalan secara jernih. Mengakui bahwa bank syariah dalam banyak kasus memang lebih mahal bukan berarti menafikan nilai-nilai yang diusungnya. Sebaliknya, ini menjadi pintu masuk untuk memahami tantangan nyata dalam praktik keuangan syariah.

Realitas di Balik Angka

Salah satu penyebab utama mahalnya pembiayaan syariah terletak pada mekanisme yang digunakan. Produk yang paling dominan dalam praktik perbankan syariah saat ini adalah akad murabahah, yaitu skema jual beli dengan margin keuntungan yang disepakati di awal.

Dalam akad ini, bank tidak sekadar menyalurkan dana, tetapi terlebih dahulu membeli barang yang dibutuhkan nasabah, kemudian menjualnya kembali dengan harga yang telah ditambahkan margin. Seluruh komponen biaya hingga harga pokok dan keuntungan ditentukan sejak awal dan bersifat tetap sampai akhir masa pembiayaan.

Di sinilah letak perbedaannya dengan sistem konvensional. Kredit berbasis bunga, terutama pada fase awal dengan bunga tetap, sering kali terlihat lebih ringan. Nasabah hanya melihat cicilan bulanan yang relatif kecil di awal, tanpa langsung merasakan total beban yang harus ditanggung hingga akhir.

Sebaliknya, bank syariah “membuka semua kartu” sejak awal. Total pembayaran langsung terlihat, dan dalam banyak kasus memang lebih tinggi. Transparansi ini, meski secara prinsip lebih jujur, justru memperkuat persepsi mahal di mata masyarakat.

Dominasi Murabahah dan Risiko yang Dihindari

Idealnya, sistem keuangan syariah bertumpu pada prinsip bagi hasil melalui akad seperti mudharabah dan musyarakah. Dalam skema ini, bank dan nasabah berbagi risiko sekaligus keuntungan. Namun dalam praktiknya, akad tersebut belum menjadi arus utama.

Sebaliknya, murabahah justru mendominasi portofolio pembiayaan. Alasannya sederhana: kepastian. Bagi bank, margin tetap jauh lebih aman dibandingkan skema bagi hasil yang bergantung pada kinerja usaha nasabah.

Penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan ini membuat struktur pembiayaan syariah menjadi lebih konservatif dan kurang fleksibel (Mulyana, 2022). Dampaknya, biaya yang ditanggung nasabah cenderung lebih tinggi karena bank memasukkan faktor mitigasi risiko ke dalam margin yang ditetapkan.

Di titik ini, muncul ironi. Sistem yang dirancang untuk berbasis kemitraan justru lebih banyak menggunakan pendekatan jual beli yang cenderung kaku. Akibatnya, efisiensi yang diharapkan dari konsep bagi hasil belum sepenuhnya terwujud.

Masalah Skala dan Efisiensi

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah skala industri. Dibandingkan bank konvensional, perbankan syariah di Indonesia masih berada dalam tahap berkembang. Jaringan yang lebih terbatas, jumlah nasabah yang belum sebesar bank konvensional, serta investasi teknologi yang masih berjalan membuat efisiensi belum optimal.

Dalam industri keuangan, skala sangat menentukan biaya. Semakin besar volume transaksi, semakin rendah biaya per unit yang dapat ditekan. Bank konvensional telah lama menikmati keunggulan ini.

Sebaliknya, bank syariah masih berjuang mengejar efisiensi tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa transformasi digital menjadi salah satu tantangan utama dalam meningkatkan daya saing bank syariah (Kristiantari et al., 2025). Tanpa dukungan teknologi yang kuat, biaya operasional akan tetap tinggi dan pada akhirnya dibebankan kepada nasabah.

Kompleksitas Sistem Syariah

Tidak seperti bank konvensional yang hanya berperan sebagai penyalur dana, bank syariah terikat pada prinsip bahwa setiap transaksi harus memiliki dasar aktivitas ekonomi riil. Artinya, ada proses tambahan yang harus dilakukan, mulai dari pembelian barang, pengalihan kepemilikan, hingga pengawasan kesesuaian syariah.

Proses ini tidak hanya menambah kompleksitas, tetapi juga biaya. Setiap tahapan membutuhkan sumber daya, baik dari sisi administrasi maupun pengawasan. Di sisi lain, bank juga harus memastikan bahwa seluruh transaksi bebas dari unsur riba, gharar, dan praktik yang dilarang.

Penelitian menunjukkan bahwa tantangan operasional dan kepatuhan ini menjadi salah satu faktor yang memengaruhi efisiensi dan struktur biaya dalam perbankan syariah (Hidayah et al., 2023). Dengan kata lain, mahalnya pembiayaan bukan semata soal margin, tetapi konsekuensi dari sistem yang lebih kompleks.

Refleksi: Kejujuran yang Perlu Diterima

Mengakui bahwa bank syariah lebih mahal bukanlah bentuk kritik destruktif, melainkan langkah awal menuju perbaikan. Selama persoalan ini terus ditutup dengan narasi normatif, industri akan kesulitan berkembang secara realistis.

Bank syariah tetap memiliki keunggulan nilai yang tidak dimiliki sistem konvensional, seperti transparansi, keadilan, dan kesesuaian dengan prinsip agama. Namun, nilai tersebut harus berjalan beriringan dengan efisiensi.

Ke depan, ada beberapa langkah yang tidak bisa ditunda. Diversifikasi akad perlu didorong agar pembiayaan tidak hanya bergantung pada murabahah. Digitalisasi harus dipercepat untuk menekan biaya operasional. Dan yang tidak kalah penting, inovasi produk harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat modern yang menginginkan layanan cepat dan kompetitif.

Pada akhirnya, pertanyaan “apakah bank syariah lebih mahal?” seharusnya tidak dijawab dengan defensif. Jawabannya adalah: dalam banyak kasus, ya. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kondisi tersebut direspons.

Sebab, dalam dunia keuangan yang semakin kompetitif, idealisme tanpa efisiensi bukanlah keunggulan, melainkan tantangan yang harus segera diselesaikan.

Referensi

Mulyana, I. (2022). Tantangan dan Peluang Penggunaan Fintech dalam Perbankan Syariah.

Kristiantari, N. K., dkk. (2025). Dampak Transformasi Digital terhadap Daya Saing Bank Syariah.

Hidayah, N., dkk. (2023). Tantangan Bank Syariah di Era Digital.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image