Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dila Ramadhani

Di Balik Layar: Saat Kata-Kata Jadi Luka

Edukasi | 2026-03-19 00:25:35
Ilustrasi cyberbullying di media digital, di mana seorang individu merasa sedih dan tertekan akibat hinaan dan komentar negatif yang diterimanya secara online. Sumber: Elf-Moondance/Pixabay.

Di era sekarang, rasanya hampir tidak ada yang benar-benar lepas dari media sosial. Kita berbagi cerita, pendapat, bahkan hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Semuanya terasa begitu dekat dan mudah. Namun di balik itu, ada sisi yang sering luput dari perhatian: bagaimana kata-kata di layar bisa berubah menjadi luka yang nyata.

Menurut saya, masih banyak orang yang menganggap cyber bullying sebagai hal sepele. Komentar pedas, ejekan, atau sindiran sering dibungkus dengan alasan “cuma bercanda” atau “jangan baper”. Padahal, tidak semua orang menerimanya sebagai sesuatu yang ringan. Ada yang memilih diam, tetapi itu bukan berarti mereka tidak terluka.

Saya pribadi sering merasa heran melihat bagaimana orang bisa begitu mudah menulis hal yang menyakitkan di internet. Seolah-olah karena tidak bertatap muka langsung, semua batasan jadi hilang. Padahal, jika diucapkan secara langsung, belum tentu mereka berani. Menurut saya, di sinilah letak masalahnya. Media sosial membuat kita lupa bahwa di balik setiap akun, ada manusia dengan perasaan yang sama seperti kita.

Cyber bullying juga sering dianggap sebagai bagian dari “risiko” bermain media sosial, terutama di kalangan remaja. Seolah-olah kalau tidak kuat, berarti salah sendiri. Menurut saya, pola pikir seperti inilah yang perlu diubah. Tidak ada satu pun orang yang pantas diperlakukan buruk, apalagi hanya karena perbedaan pendapat, penampilan, atau hal-hal pribadi lainnya.

Dampaknya pun bukan hal kecil. Rasa tidak percaya diri, overthinking, hingga menarik diri dari lingkungan bisa muncul hanya karena komentar-komentar yang dianggap sepele. Luka seperti ini memang tidak terlihat secara fisik, tetapi dampaknya bisa bertahan lama.

Menurut saya, perubahan sebenarnya bisa dimulai dari hal sederhana. Tidak perlu langsung melakukan sesuatu yang besar. Cukup dengan lebih berhati-hati saat berkomentar, tidak ikut menyebarkan hal negatif, dan berani membela ketika melihat ada yang diperlakukan tidak adil. Hal-hal kecil seperti itu sudah sangat berarti.

Media sosial memang memberi kita kebebasan untuk berbicara. Namun, kebebasan itu seharusnya diiringi dengan tanggung jawab. Karena apa yang kita tulis, sekecil apa pun, bisa berdampak besar bagi orang lain. Dan menurut saya, jika kita bisa memilih untuk tidak menyakiti, kenapa harus melakukan sebaliknya?

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image