Lebaran Global: Indonesia Kirim Salam Idul Fitri untuk Iran
Dunia islam | 2026-03-19 12:47:14
Opini – Ramadhan berakhir dan Idul Fitri selalu datang dengan satu pesan yang melampaui sekat geografis: kembali kepada fitrah, memaafkan, dan mempererat persaudaraan. Di tahun 1447 Hijriah ini, gema takbir tidak hanya menggema di masjid-masjid Nusantara, tetapi juga menyambung rasa dengan umat Muslim di Iran. Dari Indonesia, ucapan selamat Idul Fitri mengalir sebagai simbol solidaritas, empati, dan ikatan spiritual yang tak terpisahkan dalam bingkai umat Islam global.
Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia memiliki posisi moral yang penting dalam membangun jembatan persaudaraan lintas bangsa. Tradisi mengucapkan selamat Idul Fitri kepada sesama Muslim di berbagai belahan dunia bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan nilai ukhuwah Islamiyah—persaudaraan yang dilandasi iman dan kemanusiaan. Dalam konteks hubungan dengan Iran, ucapan ini menjadi lebih bermakna di tengah dinamika geopolitik yang kerap menempatkan kawasan Timur Tengah dalam pusaran konflik dan ketegangan.
Dimana Momentum Idul Fitri menjadi ruang refleksi kolektif bahwa umat Islam, meskipun berbeda latar budaya, mazhab, dan bahasa, tetap dipersatukan oleh nilai-nilai ilahiah yang sama. Dalam hal ini, Indonesia menunjukkan wajah Islam yang damai, inklusif, dan penuh kasih. Sebuah Islam yang tidak hanya berbicara dalam ruang domestik, tetapi juga hadir dalam percaturan global sebagai kekuatan moral.
Sebagaimana mengutip Pemikir Muslim Iran, Ali Shariati, pernah menekankan bahwa Islam bukan hanya agama ritual, tetapi juga gerakan kesadaran sosial yang membebaskan manusia dari ketidakadilan. Dalam perspektif ini, ucapan Idul Fitri lintas negara dapat dimaknai sebagai bentuk kesadaran kolektif umat untuk saling menguatkan, terutama bagi mereka yang hidup dalam tekanan politik, ekonomi, maupun konflik berkepanjangan.
Di sisi lain, cendekiawan Muslim Indonesia seperti Nurcholish Madjid mengajarkan pentingnya universalitas Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Spirit inilah yang tercermin ketika masyarakat Indonesia menyampaikan salam Idul Fitri kepada Iran. Ini bukan sekadar ucapan, tetapi pesan bahwa Islam hadir untuk menyatukan, bukan memecah-belah.
Dalam realitas global yang sering kali diwarnai polarisasi—baik politik maupun sektarian—gestur sederhana seperti ucapan selamat Idul Fitri justru memiliki makna diplomasi kultural yang kuat. Ia menjadi bahasa damai yang melampaui retorika politik. Ketika negara-negara besar sibuk dengan kepentingan strategisnya, masyarakat sipil justru menunjukkan bahwa hubungan kemanusiaan dapat dibangun melalui empati dan solidaritas.
Indonesia, dengan pengalaman panjang dalam merawat keberagaman, memiliki modal sosial yang besar untuk menjadi contoh dalam membangun harmoni dunia Islam. Ucapan Idul Fitri kepada Iran dapat dilihat sebagai bagian dari diplomasi rakyat (people-to-people diplomacy) yang memperkuat hubungan emosional antarbangsa. Ini penting, karena dalam banyak kasus, hubungan antarnegara tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh kedekatan masyarakatnya.
Lebih jauh, Idul Fitri juga mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukanlah dominasi atas pihak lain, melainkan kemenangan atas diri sendiri—menahan amarah, mengendalikan ego, dan membuka ruang maaf. Dalam konteks hubungan internasional, nilai ini relevan untuk meredakan konflik dan membangun dialog. Dunia Islam membutuhkan lebih banyak jembatan, bukan tembok pemisah.
Ucapan selamat Idul Fitri dari Masyarakat Indonesia kepada Iran juga mencerminkan harapan akan masa depan yang lebih damai di kawasan Timur Tengah. Sebuah kawasan yang selama ini sering menjadi episentrum konflik global, namun juga memiliki potensi besar sebagai pusat peradaban Islam yang maju dan berkeadilan. Dalam doa-doa yang terucap saat Lebaran, terselip harapan agar perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan dapat terwujud bagi seluruh umat manusia.
Hal senada pernah disampaikan oleh Abdurrahman Wahid, “Tidak penting apapun agama atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan tanya apa agamamu.” Kutipan ini menegaskan bahwa nilai kemanusiaan harus menjadi fondasi utama dalam setiap interaksi, termasuk dalam hubungan antarbangsa.
Pada akhirnya, Lebaran adalah tentang kembali—kembali kepada kemurnian hati, kepada persaudaraan, dan kepada nilai-nilai kemanusiaan universal. Ketika masyarakat Indonesia mengirimkan ucapan selamat Idul Fitri 1447 H kepada Muslim Iran, itu adalah pengingat bahwa di tengah dunia yang penuh ketegangan, masih ada ruang untuk harapan, persatuan, dan cinta kasih.
Selamat Idul Fitri 1447 H. Taqabbalallahu minna wa minkum. Dari Indonesia untuk Masyarakat Iran—persaudaraan ini tak mengenal batas.
Penulis: Tonny Rivani, sebagai Alumni program Thomson Foundation (Inggris) dan anggota Hostwriter, jaringan jurnalis lintas negara.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
