Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fisipol Thinkers Club

Ambisi Amerika Serikat terhadap Greenland dan Dampaknya bagi Hubungan Internasional

Politik | 2026-02-04 09:32:35
Sumber: CNBC INDONESIA

Rencana Amerika Serikat untuk mengambil alih Greenland mencerminkan cara pandang lama dalam politik global yang melihat wilayah sebagai aset strategis demi kepentingan negaranya. Greenland sering dianggap penting hanya karena posisinya yang strategis dan potensi yang ada di dalamnya. Perspektif ini menunjukkan relasi kekuasaan yang tidak seimbang, di mana kepentingan strategis negara adidaya ditempatkan di atas prinsip kedaulatan. Cara berpikir tersebut menandakan bahwa sebagian kebijakan luar negeri Amerika Serikat masih dipengaruhi oleh logika geopolitik lama, meskipun arah hubungan antarnegara kini semakin menekankan kerja sama dan penghormatan terhadap hukum internasional. Jika hal ini terus dipertahankan, maka ketegangan diplomatik akan meningkat.

Salah satu kebijakan untuk menaikkan tarif dagang merupakan tekanan yang diberikan Amerika Serikat, bukan hanya Denmark, melainkan Norwegia, Swedia, Prancis, dan berbagai negara lain yang berpotensi menimbulkan ketegangan serius dalam hubungan transatlantik yang selama ini dibangun atas dasar kepercayaan dan kepentingan bersama. Denmark merupakan sekutu lama Amerika Serikat serta anggota NATO yang memiliki peran penting dalam sistem keamanan kolektif. Ketika Amerika Serikat menggunakan ancaman ekonomi, relasi antarnegara justru menjadi tidak seimbang. Situasi ini menimbulkan persepsi bahwa kepentingan sepihak lebih diutamakan dibandingkan solidaritas aliansi. Kepercayaan antarnegara akan menurun dan pada akhirnya dapat melemahkan kerja sama internasional yang telah menjadi fondasi stabilitas dan keamanan global.

Keinginan Amerika Serikat untuk mengambil alih Greenland menunjukkan kecenderungan negara adidaya mengesampingkan prinsip hak menentukan nasib sendiri yang menjadi bagian penting dalam tatanan hukum internasional modern. Greenland bukanlah wilayah tanpa identitas politik, melainkan memiliki pemerintahan sendiri serta masyarakat dengan hak untuk menentukan masa depan politiknya. Ketika kepentingan strategis negara besar lebih diutamakan dibandingkan aspirasi masyarakat setempat, maka kedaulatan rakyat berada pada posisi yang rentan. Situasi ini mencerminkan ketimpangan relasi kekuasaan dalam sistem internasional, di mana wilayah kecil sering kali dipandang sebagai objek strategis, bukan subjek politik yang setara. Jika praktik semacam ini terus dibiarkan, maka prinsip keadilan dan penghormatan terhadap kedaulatan akan semakin tergerus dalam hubungan internasional.

Isu Greenland tidak dapat dilepaskan dari meningkatnya persaingan geopolitik di kawasan Arktik yang semakin terbuka akibat perubahan iklim. Mencairnya es di wilayah ini membuka akses terhadap jalur pelayaran baru dan potensi sumber daya alam yang strategis, sehingga menarik perhatian negara-negara besar. Amerika Serikat, Rusia, dan China sama-sama melihat Arktik sebagai kawasan penting bagi kepentingan ekonomi dan keamanan di masa depan. Dalam konteks ini, ketertarikan Amerika Serikat terhadap Greenland berpotensi memperkuat rivalitas global dan menciptakan ketegangan baru. Alih-alih mendorong kerja sama multilateral yang damai, pendekatan berbasis dominasi justru berisiko mengganggu stabilitas kawasan dan tatanan internasional secara lebih luas.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image