Investasi Saham Vs Kripto: Mana yang Lebih Tangguh Menghadapi Inflasi Tinggi?
Bisnis | 2026-02-04 15:59:27
Inflasi adalah musuh tersembunyi bagi setiap penabung. Ketika harga barang dan jasa melonjak, daya beli uang tunai Anda otomatis menyusut. Dalam kondisi ini, membiarkan uang "nganggur" di tabungan bank adalah langkah yang berisiko. Pertanyaannya, manakah instrumen yang paling tangguh menjadi benteng pertahanan: Saham yang sudah teruji waktu, atau Kripto sebagai aset digital baru?
1. Saham: Pertahanan Berbasis Fundamental Perusahaan
Saham secara historis dianggap sebagai hedge (lindung nilai) inflasi yang efektif karena beberapa alasan:
- Pricing Power: Perusahaan besar yang memiliki branding kuat cenderung bisa menaikkan harga produknya seiring dengan kenaikan inflasi tanpa kehilangan pelanggan.
- Dividen: Keuntungan yang dibagikan kepada pemegang saham dapat menjadi arus kas tambahan untuk menutupi kenaikan biaya hidup.
- Aset Riil: Di balik lembar saham, terdapat aset nyata berupa pabrik, tanah, dan teknologi yang nilainya juga cenderung naik saat inflasi tinggi.
2. Kripto: Emas Digital yang Volatil
Bitcoin sering dijuluki sebagai "Digital Gold" karena jumlahnya yang terbatas (hanya 21 juta koin). Dalam teori, kelangkaan ini membuatnya tahan terhadap devaluasi mata uang fiat. Namun, realitanya:
- Volatilitas Ekstrem: Harga kripto bisa berfluktuasi puluhan persen dalam waktu singkat, yang justru menambah risiko di saat ekonomi sedang tidak stabil.
- Korelasi dengan Teknologi: Seringkali, saat inflasi tinggi diikuti kenaikan suku bunga, aset berisiko tinggi seperti kripto justru cenderung ditinggalkan investor demi aset yang lebih aman (risk-off).
3. Perbandingan Performa saat Inflasi
Mari kita lihat perbedaan mendasarnya melalui perbandingan sederhana berikut:
Karakteristik: Saham (Blue Chip), Kripto (Bitcoin/ETH)
Landasan Nilai: Kinerja perusahaan & laba, Kelangkaan & adopsi jaringan
Risiko: Moderat, Sangat Tinggi
Regulasi: Teratur dan ketat, Masih berkembang
Likuiditas: Sangat Tinggi, Tinggi
4. Strategi Menghadapi Inflasi Tinggi
Daripada memilih salah satu secara ekstrem, banyak pakar menyarankan kombinasi:
- Diversifikasi: Masukkan mayoritas dana pada saham perusahaan yang bergerak di sektor kebutuhan pokok (konsumsi) atau energi.
- Alokasi Kecil untuk Kripto: Gunakan kripto sebagai "pemanis" portofolio (biasanya 1-5%) untuk mengejar potensi pertumbuhan eksponensial.
- Pantau Suku Bunga: Inflasi biasanya diikuti kenaikan suku bunga bank sentral, yang bisa menekan harga kedua aset ini dalam jangka pendek.
Kesimpulan:
Jika Anda mencari ketangguhan dan stabilitas jangka panjang, saham (terutama sektor komoditas dan konsumsi) masih memegang keunggulan sebagai pelindung inflasi. Namun, bagi Anda yang memiliki profil risiko tinggi dan percaya pada masa depan teknologi desentralisasi, kripto menawarkan potensi imbal hasil yang jauh melampaui angka inflasi, meski dengan guncangan harga yang hebat.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
