Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rahma Rafila

Puisi Rendra dan Wiji Thukul sebagai Perlawanan terhadap Hegemoni Orde Baru

Sastra | 2026-01-04 00:35:21

Puisi tumbuh dari situasi sosial yang menekan, dari ketimpangan yang dibiarkan, dan dari suara-suara yang dibungkam. Hal ini tampak jelas dalam dua puisi perlawanan penting Indonesia: “Aku Tulis Pamflet Ini” karya W.S. Rendra dan “Bunga dan Tembok” karya Wiji Thukul. Meski lahir di fase Orde Baru yang berbeda, keduanya menyuarakan kegelisahan yang sama: bagaimana kekuasaan bekerja bukan hanya lewat senjata dan hukum, tetapi lewat penerimaan, ketakutan, dan kebiasaan diam.

www.searchimage.com

Untuk membaca kedua puisi ini secara lebih tajam, teori hegemoni Antonio Gramsci menjadi relevan. Gramsci menjelaskan bahwa kekuasaan tidak bertahan semata-mata karena paksaan, tetapi karena persetujuan sosial. Negara dominan bukan hanya menindas, melainkan membentuk cara berpikir masyarakat agar menganggap penindasan itu wajar, sah, bahkan perlu.

Hegemoni: Ketika Penindasan Tidak Lagi Terasa sebagai Kekerasan

Dalam “Aku Tulis Pamflet Ini”, Rendra tidak sedang melawan tentara atau polisi secara langsung. Yang ia hadapi justru sesuatu yang lebih halus namun berbahaya: pembungkaman pikiran. Ketika ia menulis,

“Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi, maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam.”

Rendra sedang menunjuk pada mekanisme hegemoni: kritik tidak dilarang total, tetapi dikendalikan, disalurkan, dan dijinakkan. Dalam logika hegemonik Orde Baru, kebebasan berbicara boleh ada selama tidak mengganggu stabilitas kekuasaan. Inilah persetujuan semu yang diproduksi negara. Sementara itu, Wiji Thukul dalam “Bunga dan Tembok” menampilkan wajah hegemoni dari sisi yang lebih kasar namun tetap sistemik. Metafora bunga dan tembok menunjukkan relasi timpang antara rakyat dan penguasa. Ketika Thukul menulis,

“Kami adalah bunga yang tak kau kehendaki tumbuh”,

ia sedang membongkar bagaimana rakyat kecil tidak hanya ditindas secara fisik, tetapi juga dianggap tidak sah untuk hidup dan berkembang. Pembangunan, dalam puisi ini, menjadi alat hegemonik yang menyingkirkan rakyat atas nama kemajuan. Kedua puisi ini sama-sama memperlihatkan bahwa Orde Baru tidak hanya berkuasa lewat represi, tetapi lewat narasi besar: stabilitas, pembangunan, dan ketertiban.

Intelektual Organik dan Suara Perlawanan

Dalam teori Gramsci, perlawanan terhadap hegemoni sering muncul melalui intelektual organik, tokoh yang lahir dari pengalaman sosial dan menyuarakan kepentingan kelompok tertindas. Menariknya, Rendra dan Thukul mewakili dua bentuk intelektual organik yang berbeda, tetapi saling melengkapi.

Rendra tampil sebagai intelektual budaya. Puisinya panjang, reflektif, penuh metafora, dan mengajak berpikir. Ia melawan hegemoni dengan membangun kesadaran kritis, membuka ruang dialog yang dibungkam. Puisinya seperti pamflet kesadaran, bukan teriakan revolusi. Sebaliknya, Thukul adalah intelektual organik rakyat. Puisinya singkat, repetitif, dan mudah diingat. Ia tidak mengajak berpikir terlalu jauh, tetapi mengajak berdiri dan melawan. Kalimat seperti,

“Di manapun, tirani harus tumbang!”

adalah bentuk perlawanan terhadap hegemoni yang sudah tak bisa lagi dinegosiasikan. Jika Rendra melawan dari ruang wacana, Thukul melawan dari tubuh dan pengalaman hidup.

Bahasa sebagai Arena Pertarungan Kekuasaan

Perbedaan gaya bahasa kedua puisi justru memperlihatkan kesamaan tujuan. Rendra menggunakan bahasa simbolik yang menggugat kesadaran kelas menengah dan intelektual, sementara Thukul memakai metafora sederhana agar bisa dipahami oleh rakyat luas. Dalam kacamata Gramsci, ini menunjukkan bahwa perlawanan terhadap hegemoni harus bekerja di banyak medan.

Hegemoni Orde Baru berhasil karena ia menguasai bahasa: apa yang boleh dikatakan, bagaimana cara mengatakannya, dan siapa yang boleh bicara. Rendra dan Thukul merusak dominasi itu dengan menciptakan bahasa tandingan, bahasa yang tidak tunduk pada narasi resmi negara.

Dari Kesadaran ke Keyakinan Melawan

Perbedaan paling mencolok antara kedua puisi terletak pada nada akhirnya. Rendra masih memberi ruang harapan melalui kesadaran kemanusiaan:

“Ternyata kita, toh, manusia!”

Sedangkan Thukul menutup dengan keyakinan mutlak akan runtuhnya tirani. Ini mencerminkan perubahan situasi hegemonik Orde Baru: dari rezim yang masih bisa digugat lewat wacana, menuju kekuasaan yang hanya bisa dilawan secara terbuka. Namun, dalam perspektif hegemoni, keduanya berada dalam satu garis perjuangan. Rendra membuka celah retak dalam kesadaran hegemonik, sementara Thukul memperlebar retakan itu menjadi perlawanan kolektif.

Melalui teori hegemoni Antonio Gramsci, puisi “Aku Tulis Pamflet Ini” dan “Bunga dan Tembok” dapat dibaca sebagai dua bentuk perlawanan terhadap kekuasaan Orde Baru yang bekerja lewat persetujuan sosial dan dominasi wacana. Dengan gaya dan posisi sosial yang berbeda, Rendra dan Wiji Thukul sama-sama menunjukkan bahwa sastra bukan sekadar ekspresi estetis, melainkan medan pertarungan ideologis. Puisi, dalam tangan mereka, menjadi alat untuk menggugat apa yang selama ini dianggap normal, wajar, dan tak terbantahkan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image