Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Intan aura

Analisis Strukturalisme Lucien Goldmann: Puisi Bunga dan Tembok dengan Puisi Kau

Sastra | 2026-01-03 16:26:47
dokumen dari google

Puisi “Bunga dan Tembok” karya Wiji Thukul dan “Kau” karya Nuke Hanasasmit merupakan dua teks sastra yang sama-sama merepresentasikan suara kelas sosial tertindas. Kedua puisi ini bukan hanya berasal dari pengalaman pribadi, tetapi juga menggambarkan perasaan dan kesadaran bersama orang-orang biasa yang mengalami ketidakadilan, kehilangan hak, dan sering diabaikan dalam masyarakat. Dengan menggunakan pendekatan strukturalisme genetik Lucien Goldmann, kedua puisi ini dianalisis melalui tiga konsep utama, yaitu fakta kemanusiaan, subjek kolektif, dan pandangan dunia.

Fakta Kemanusiaan

Menurut Goldmann, fakta kemanusiaan adalah seluruh aktivitas manusia yang memiliki makna sosial dan historis. Dalam “Bunga dan Tembok”, fakta kemanusiaan tercermin melalui penggambaran tindakan perampasan ruang hidup rakyat kecil oleh kekuasaan, seperti pada kutipan:

“Engkau lebih suka membangun rumah dan merampas tanah”

“kami adalah bunga yang dirontokkan di bumi kami sendiri”

Kutipan-kutipan tersebut memperlihatkan realitas sosial berupa penggusuran dan perampasan tanah atas nama pembangunan. Rakyat kecil kehilangan ruang hidupnya di tanah kelahiran sendiri, yang menandakan adanya konflik kelas antara penguasa dan masyarakat tertindas. Hal ini juga menunjukkan bagaimana kekuasaan dapat menekan dan mengabaikan hak-hak rakyat demi kepentingan tertentu. Fakta kemanusiaan yang serupa tampak pula dalam puisi “Kau”, terdapat pada kutipan:

“Kau curi hak kami / Kau biarkan kami menderita”

“Hanya demi sesuap nasi”

Penggalan tersebut merepresentasikan kondisi sosial rakyat kecil yang harus bekerja keras demi bertahan hidup, sementara hak-hak mereka dirampas oleh kelompok elite. Hal ini menunjukkan ketimpangan yang nyata antara kelas penguasa dan masyarakat biasa. Selain itu, puisi ini juga menekankan penderitaan psikologis rakyat kecil yang hidup dalam tekanan dan ketidakadilan. Dengan demikian, kedua puisi ini sama-sama memotret realitas sosial yang menampilkan penderitaan kelas bawah akibat ketimpangan sosial dan ekonomi.

Subjek Kolektif

Kedua puisi ini sama-sama menggunakan kata “kami” sebagai subjek lirik utama. Hal ini menandakan bahwa suara yang disampaikan merupakan suara kolektif rakyat kecil. Dengan kata lain, puisi-puisi ini bukan hanya menceritakan pengalaman pribadi, tetapi juga pengalaman bersama masyarakat yang tertindas. Pada puisi “Bunga dan Tembok”, rakyat kecil digambarkan sebagai bunga yang berhadapan dengan tembok sebagai simbol kekuasaan. Situasi ini memperlihatkan konflik antara kehidupan sederhana rakyat kecil dan kekuatan penguasa yang menekan mereka, terdapat pada kutipan berikut:

“Jika kami bunga / Engkau adalah tembok”

Bunga melambangkan kehidupan dan harapan, sementara tembok melambangkan kekuasaan yang keras dan menindas. Dalam puisi “Kau”, bait seperti:

“Lihat kami!”

“Apa tak kau lihat keringat kami?”

Menunjukkan kesadaran kolektif rakyat kecil yang ingin dilihat dan diakui keberadaannya. Mereka tidak lagi sekadar objek penderita, tetapi mulai menyadari posisinya sebagai kelompok sosial yang memiliki suara. Kalimat-kalimat ini menekankan pentingnya pengakuan sosial dan keadilan bagi mereka yang selama ini diabaikan oleh kekuasaan. Selain itu, puisi-puisi ini menggambarkan bagaimana rakyat kecil mulai bersuara untuk menuntut hak-hak mereka. Suara kolektif yang muncul menunjukkan adanya solidaritas dan kesadaran bersama dalam menghadapi ketidakadilan. Dengan cara ini, puisi tidak hanya menyampaikan penderitaan, tetapi juga semangat perlawanan dan harapan perubahan sosial.

Pandangan Dunia

Pandangan dunia yang tampak dalam puisi “Bunga dan Tembok” bersifat tegas dan penuh keyakinan. Rakyat kecil digambarkan tidak hanya sadar akan ketertindasan, tetapi juga percaya bahwa kekuasaan yang menindas akan tumbang. Keyakinan ini muncul dari kesadaran kolektif mereka bahwa perubahan bisa terjadi jika mereka tetap teguh dan bersatu. Puisi ini menunjukkan bahwa meskipun rakyat kecil lemah secara fisik, mereka memiliki kekuatan moral dan semangat untuk melawan ketidakadilan. Sikap kritis dan optimisme terhadap perubahan inilah yang menjadi inti pandangan dunia yang disampaikan melalui puisi, tampak pada bait berikut:

“Suatu saat kami akan tumbuh bersama / Dengan keyakinan: engkau harus hancur!”

“Di manapun – tirani harus tumbang!”

Sementara itu, puisi “Kau” menampilkan pandangan dunia yang berbeda. Perlawanan tidak diwujudkan dalam bentuk tindakan langsung, tetapi melalui keyakinan religius. Rakyat kecil dalam puisi ini memilih menyerahkan keadilan kepada Tuhan, karena mereka menyadari keterbatasan kekuatan fisik dan sosial mereka. Pendekatan ini menunjukkan bahwa meskipun cara perlawanan berbeda, semangat kritis terhadap ketidakadilan tetap hidup. Dengan demikian, puisi ini menekankan kesabaran dan harapan spiritual sebagai bentuk perlawanan terhadap penindasan, terdapat pada bait:

“Kami memang tak mampu balas dirimu / Karena Tuhan yang akan balas dirimu”

Meskipun berbeda cara, keduanya tetap menunjukkan sikap kritis terhadap ketidakadilan yang dialami rakyat kecil. Dalam puisi “Bunga dan Tembok”, kritik itu diwujudkan melalui keyakinan tegas untuk menumbangkan kekuasaan yang menindas. Sementara dalam puisi “Kau”, kritik muncul melalui keyakinan religius bahwa keadilan akan ditegakkan oleh Tuhan. Kedua puisi ini sama-sama menegaskan kesadaran rakyat kecil akan ketertindasan yang mereka alami dan keinginan mereka untuk memperoleh pengakuan serta keadilan. Dengan cara yang berbeda, keduanya menyoroti pentingnya perlawanan, baik secara moral maupun spiritual, terhadap ketimpangan sosial.

Melalui pendekatan strukturalisme genetik Lucien Goldmann, dapat dilihat bahwa “Bunga dan Tembok” dan “Kau” merupakan puisi yang lahir dari pengalaman sosial kelas bawah. Kedua puisi ini merepresentasikan fakta kemanusiaan, menampilkan subjek kolektif rakyat kecil, serta mencerminkan pandangan dunia yang kritis terhadap kekuasaan. Dengan demikian, puisi tidak hanya berfungsi sebagai karya estetis, tetapi juga sebagai media perlawanan dan penyampai suara masyarakat tertindas.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image