Puisi sebagai Cermin Sosial: Membaca Bunga dan Tembok dan Kau
Sastra | 2026-01-03 15:46:18
Sastra merupakan produk sosial yang lahir dari realitas masyarakat dan tidak dapat dilepaskan dari kondisi historis serta posisi sosial pengarangnya. Alan Swingewood memandang karya sastra sebagai cerminan struktur sosial, ekspresi kelas atau posisi sosial pengarang, serta sarana kritik terhadap ideologi dominan.
Berdasarkan perspektif tersebut, puisi “Bunga dan Tembok” karya Wiji Thukul dan “Kau” karya Nuke Hanasasmit dapat dibandingkan sebagai karya sastra yang sama-sama merepresentasikan kritik terhadap ketimpangan kekuasaan, namun lahir dari latar sosial dan pengalaman pengarang yang berbeda.Dalam kerangka sastra sebagai dokumen sosial, “Bunga dan Tembok” merekam kondisi sosial-politik Orde Baru yang ditandai oleh pembangunan represif, penggusuran, dan pembungkaman suara rakyat.
Wiji Thukul menampilkan konflik antara rakyat dan penguasa melalui simbol “bunga” dan “tembok”, yang menggambarkan ketimpangan relasi kekuasaan. Sebaliknya, puisi “Kau” merepresentasikan realitas sosial penderitaan rakyat kecil secara lebih langsung, terutama terkait eksploitasi tenaga dan pengabaian hak-hak dasar manusia. Kedua puisi ini menunjukkan bagaimana sastra berfungsi sebagai cermin kondisi sosial yang tidak adil.Ditinjau dari posisi sosial pengarang, perbedaan strategi kritik dalam kedua puisi menjadi jelas.
Wiji Thukul berasal dari kalangan buruh dan terlibat langsung dalam gerakan rakyat, sehingga puisinya berorientasi pada perlawanan kolektif dan menggunakan simbol-simbol yang mudah dipahami massa. Sementara itu, Nuke Hanasasmit menampilkan kritik sosial dari sudut pandang yang lebih reflektif dan emosional, dengan menempatkan penderitaan rakyat sebagai pusat perhatian. Menurut Swingewood, perbedaan latar sosial ini memengaruhi cara pengarang memaknai dan merepresentasikan realitas sosial dalam karya sastra.Dari segi sastra dan ideologi, kedua puisi sama-sama menentang ideologi dominan yang menindas rakyat kecil.
“Bunga dan Tembok” menampilkan ideologi perlawanan yang tegas dan optimis terhadap runtuhnya tirani, sedangkan “Kau” lebih menekankan kritik moral terhadap penguasa yang kehilangan empati. Meskipun berbeda dalam cara penyampaian, keduanya menunjukkan bahwa sastra dapat menjadi alat perlawanan ideologis terhadap ketidakadilan struktural.
Berdasarkan perbandingan karya melalui teori sosiologi sastra Alan Swingewood tersebut, terlihat bahwa perbedaan konteks sosial dan posisi pengarang kemudian berpengaruh pada pembentukan unsur intrinsik puisi, baik unsur batin maupun unsur fisik.Dari segi unsur batin, kedua puisi sama-sama mengangkat tema ketidakadilan sosial, namun dengan fokus yang berbeda. “Bunga dan Tembok” menonjolkan tema penindasan struktural dan perlawanan kolektif rakyat terhadap kekuasaan.
Rasa marah, tegas, dan penuh keyakinan mendominasi puisi ini, menciptakan nada konfrontatif dan suasana perlawanan. Amanat yang disampaikan adalah bahwa tirani tidak akan mampu menghentikan perjuangan rakyat. Sebaliknya, puisi “Kau” menampilkan tema penderitaan rakyat kecil akibat ketidakpedulian penguasa. Rasa lelah, getir, dan keprihatinan lebih dominan, dengan nada menggugat dan mempertanyakan nurani kekuasaan. Amanatnya bersifat moral, menuntut tanggung jawab kemanusiaan dari penguasa.
Perbedaan unsur batin tersebut selaras dengan latar sosial pengarang masing-masing. Wiji Thukul menampilkan suara kolektif rakyat tertindas, sedangkan Nuke Hanasasmit menghadirkan jeritan emosional rakyat yang terpinggirkan.Dari segi unsur fisik, perbedaan kedua puisi tampak pada pilihan bahasa dan gaya ungkapannya. “Bunga dan Tembok” menggunakan diksi simbolik seperti “bunga”, “tembok”, dan “biji-biji” yang membangun metafora besar tentang konflik rakyat dan negara. Citraan visual alam dan bangunan mendominasi puisi ini, sementara majas metafora menjadi alat utama kritik sosial.
Tipografi dan repetisi baris menciptakan irama tegas yang menyerupai slogan perlawanan massa. Sebaliknya, “Kau” menggunakan diksi lugas dan langsung, seperti “keringat”, “lelah”, dan “hak kami”, sehingga kritik sosial disampaikan secara eksplisit. Citraan yang berpusat pada tubuh manusia memperkuat kesan penderitaan nyata, dengan irama lirih dan emosional.
Dengan demikian, melalui pendekatan sosiologi sastra Alan Swingewood, dapat disimpulkan bahwa perbedaan unsur batin dan unsur fisik kedua puisi merupakan konsekuensi dari perbedaan konteks sosial, posisi pengarang, dan ideologi yang melatarbelakanginya. “Bunga dan Tembok” menampilkan perlawanan kolektif melalui simbol dan metafora, sedangkan “Kau” mengekspresikan penderitaan rakyat melalui bahasa lugas dan emosional. Kedua puisi tersebut menunjukkan bahwa sastra berfungsi sebagai cermin realitas sosial sekaligus sarana kritik terhadap ketidakadilan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
