Korupsi: Dosa Sosial yang Menggerogoti Masa Depan Bangsa
Agama | 2026-01-02 14:22:29
Korupsi masih menjadi luka terbuka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Meski berbagai upaya pemberantasan telah dilakukan, praktik ini terus berulang dengan wajah dan modus yang berbeda. Ironisnya, korupsi tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga merusak sendi-sendi moral masyarakat.
Dalam perspektif sosial, korupsi adalah bentuk ketidakadilan struktural. Dana publik yang seharusnya digunakan untuk pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan rakyat justru bocor ke kantong pribadi. Akibatnya, masyarakat kecil menanggung beban ganda: hidup dalam keterbatasan sekaligus kehilangan kepercayaan pada institusi negara.
Dari sudut pandang agama, korupsi merupakan dosa besar. Dalam Islam, misalnya, tindakan ini termasuk ghulul—pengkhianatan terhadap amanah. Al-Qur’an dengan tegas melarang memakan harta yang bukan haknya dan menekankan pentingnya kejujuran serta keadilan. Korupsi bukan hanya pelanggaran hukum positif, tetapi juga pelanggaran terhadap nilai-nilai ilahiah yang menjunjung tinggi amanah dan tanggung jawab.
Lebih jauh, korupsi melahirkan budaya permisif. Ketika praktik ini dianggap lumrah, generasi muda tumbuh dengan standar moral yang kabur. Mereka melihat ketidakjujuran sebagai jalan pintas menuju kesuksesan. Jika dibiarkan, bangsa ini berisiko kehilangan arah dan identitas moralnya.
Pemberantasan korupsi tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum. Dibutuhkan revolusi mental yang dimulai dari pendidikan, keluarga, dan keteladanan para pemimpin. Pemimpin yang bersih dan berintegritas akan menjadi cermin bagi rakyatnya. Sebaliknya, elite yang korup akan melanggengkan siklus ketidakadilan.
Masyarakat juga memiliki peran penting. Sikap kritis, keberanian melapor, serta penolakan terhadap praktik suap dalam kehidupan sehari-hari adalah bentuk jihad sosial melawan korupsi. Perubahan besar selalu berawal dari kesadaran kolektif.
Korupsi pada hakikatnya adalah dosa sosial yang dampaknya dirasakan lintas generasi. Melawannya berarti menjaga masa depan bangsa, menegakkan keadilan, dan menghidupkan kembali nilai-nilai moral serta agama dalam ruang publik. Tanpa itu semua, pembangunan hanya akan menjadi slogan kosong tanpa makna.
Riki, Freelance Web Developer
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
