Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Balqis Dhia Mawaddah

Ketika Chat Menjadi Narasi: Sastra Digital sebagai Sintesis Sejarah Sastra Indonesia

Sastra | 2026-01-02 10:58:18

Sastra Indonesia tidak pernah lahir dalam ruang hampa. Ia selalu bergerak mengikuti perubahan medium, cara bertutur, dan pengalaman sosial masyarakatnya. Dalam konteks hari ini, maraknya cerita pendek berbentuk chat yang diposting di platform Instagram sering kali dipandang sebelah mata, dianggap sekadar hiburan ringan atau produk budaya populer yang miskin estetika. Namun, jika dilihat dari perspektif sastra sejarah, fenomena ini justru menandai satu fase penting: lahirnya sastra digital sebagai sintesis antara tradisi sastra dan budaya komunikasi digital.

Cerita berbentuk chat yang diposting di Instagram menghadirkan bentuk penceritaan yang tidak lazim dalam sastra cetak. Narasi tidak lagi disampaikan melalui deskripsi panjang atau penggambaran latar yang rinci, melainkan melalui potongan dialog singkat, jeda waktu, pesan yang tak terbalas, hingga status “sedang mengetik” yang sarat makna emosional. Bentuk ini merefleksikan cara manusia kontemporer membangun relasi cepat, intens, tetapi rapuh. Dengan demikian, cerita berlatar chat bukan sekadar soal format, melainkan representasi pengalaman sosial generasi digital.

Dalam kerangka sejarah sastra, perubahan medium selalu melahirkan perubahan estetik. Peralihan dari sastra lisan ke sastra tulis, lalu ke sastra cetak, kerap disertai penolakan dan keraguan serupa. Sastra digital hari ini mengulangi pola tersebut. Instagram sebagai medium memang menuntut ringkas, visual, dan instan, tetapi justru di sanalah sastra bernegosiasi dengan zamannya. Cerita dalam bentuk chat menjadi bentuk sintesis: ia meminjam struktur cerpen, tetapi mengolah bahasa percakapan digital sebagai strategi naratif.

Tentu, tidak semua cerita berbentuk chat layak dikanonkan sebagai sastra besar. Banyak yang terjebak pada klise emosional dan repetisi tema. Namun, sastra sejarah tidak hanya mencatat karya yang mapan, melainkan juga praktik sastra yang hidup di tengah masyarakat. Dalam pengertian ini, cerita berbentuk chat di Instagram berfungsi sebagai arsip kultural, merekam bahasa, kecemasan, dan cara mencintai manusia Indonesia di era digital.

Oleh karena itu, menolak cerita berbentuk chat sebagai bagian dari sastra Indonesia masa depan sama artinya dengan menutup mata terhadap dinamika sejarah sastra itu sendiri. Sastra tidak berhenti pada buku; ia berpindah, bertransformasi, dan mencari bentuk baru. Dari layar chat yang sederhana, sastra Indonesia sedang menulis babak sejarahnya yang berikutnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image