Rekatan Bahasa, Sastra, dan Politik: Cermin Kekuasaan di Indonesia
Sastra | 2026-01-09 06:52:35
Tahukah kamu? Bahwa bahasa, sastra dan politik berkaitan sangat erat?Seringkali kita melihat berita baik melalui media sosial, platform, maupun media cetak seperti majalah, koran, dan lain-lain. Isi tersebut ternyata masuk kedalam ranah bahasa, sastra dan politiknya. Pingin tahu selengkapnya? Simak terus sampai bawah yaa!
Jadi, bahasa sastra dan politik memiliki hubungan erat karena bahasa sastra sering mencerminkan atau memengaruhi dinamika kekuasaan, ideologi, dan perubahan sosial dalam konteks politik. Dalam pengertiannya, mencakup penggunaan bahasa secara estetis, metaforis, dan simbolik dalam karya sastra untuk mengkritik, mendukung, atau membentuk wacana politik. Di Indonesia, interaksi ini terlihat jelas dalam berbagai kasus historis dan kontemporer.
Bahasa dan sastra merujuk pada penggunaan bahasa yang artistik dan penuh makna ganda, berbeda dari bahasa sehari-hari, untuk menyampaikan emosi, kritik, atau visi sosial. Ketika terintegrasi dengan politik, bahasa sastra menjadi alat retorika yang memengaruhi opini publik, melegitimasi kekuasaan, atau menantang rezim. Sastra berfungsi sebagai cermin realitas politik, katalisator perubahan, atau senjata perlawanan melalui elemen seperti metafora dan simbol.
Bahasa menghubungkan sastra dan politik sebagai medium komunikasi yang kuat, sastra dapat menggunakan bahasa untuk merefleksikan kondisi politik, sementara politik memanfaatkan bahasa sastra untuk membangun narasi kekuasaan atau konsensus. Keterkaitan ini menciptakan dinamika di mana sastra bisa menjadi kritik etis terhadap politik atau alat hegemoni negara.
Hal ini, sangat berdampak pada masyarakat sebab bahasa sastra politik di Indonesia sering memicu perubahan sosial, seperti menanamkan nilai kebangsaan atau mengkritik ketidakadilan. Namun, hubungan ini juga bmenimbulkan tegangan, seperti pembatasan sensor atau kanonisasi karya yang mendukung kekuasaan. Secara keseluruhan, bahasa sastra memperkaya diskursus politik dengan kedalaman emosional dan simbolik.
Dapat kita lihat pada contoh karya sastra di masa penjajahan Belanda pada puisi "Aku Ini Binatang Jalang" karya Chairil Anwar, isi puisi tersebut menggunakan bahasa puitis penuh pemberontakan untuk menolak kolonialisme, meski kebijakan Belanda menabukan politik dalam sastra.
Selanjutnya, di era Orde Lama Karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul "Di Bawah Bendera Revolusi", memadukan narasi sastra dengan perjuangan kemerdekaan, menjadikan sastra sebagai alat politik nasional.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
