Anak Muda dan Realitas di Balik Media Sosial
Teknologi | 2026-01-12 11:47:27
Hampir setiap hari, anak muda nyaris tidak pernah benar-benar lepas dari media sosial. Bangun tidur membuka Instagram, waktu luang diisi dengan menggulir TikTok, lalu malam hari ditutup dengan YouTube atau X. Aktivitas ini terasa begitu wajar hingga sering kali tidak disadari. Media sosial bukan lagi sekadar hiburan, melainkan telah menjadi bagian dari rutinitas dan ruang kedua untuk hidup, berbagi, serta mengekspresikan diri. Namun, di balik tampilan yang terlihat seru dan penuh warna, terdapat banyak realitas yang jarang dibicarakan.
Bagi banyak anak muda, media sosial menjadi ruang berekspresi. Melalui foto, video, dan tulisan, mereka menunjukkan jati diri, minat, dan nilai yang diyakini. Media sosial juga membuka berbagai peluang baru. Dari yang awalnya hanya iseng membuat konten, kini bisa berkembang menjadi content creator, freelancer, hingga pelaku usaha digital. Dunia digital memberi akses yang lebih luas bagi generasi muda untuk berkarya dan menemukan jalannya sendiri.
Namun, di balik peluang tersebut, tekanan juga ikut hadir. Semakin sering menggulir layar, semakin besar potensi munculnya perbandingan sosial. Tanpa disadari, anak muda kerap membandingkan kehidupannya dengan apa yang terlihat di media sosial. Melihat orang lain tampak sukses, produktif, atau bahagia sering kali memunculkan rasa tertinggal. Padahal, yang ditampilkan di media sosial umumnya hanyalah sisi terbaik dari kehidupan seseorang, bukan keseluruhan cerita.
Dunia digital juga membuat segalanya terasa serba cepat. Tren datang dan pergi silih berganti, sementara standar sosial terus berubah. Anak muda sering merasa harus selalu mengikuti perkembangan agar tidak tertinggal. Ketika tidak mengikuti arus, muncul rasa cemas. Namun, ketika terlalu memaksakan diri untuk terus relevan, kelelahan mental justru menjadi dampak yang sulit dihindari. Fenomena ini semakin sering dikaitkan dengan isu kesehatan mental anak muda, yang kini banyak dibahas di berbagai platform digital.
Perkembangan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) turut memengaruhi keseharian anak muda. AI membantu banyak hal, mulai dari mengerjakan tugas, mencari ide, hingga mengatur aktivitas. Meski memberikan kemudahan, anak muda tetap perlu bersikap kritis. Ketergantungan yang berlebihan dapat mengurangi proses berpikir dan refleksi. AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti kemampuan manusia dalam memahami diri dan mengambil keputusan.
Di tengah derasnya arus digital, pencarian jati diri menjadi proses yang semakin kompleks. Anak muda berada pada fase mencoba, gagal, belajar, dan bertumbuh. Media sosial bisa menjadi ruang eksplorasi yang positif, tetapi juga berpotensi menjadi sumber tekanan jika tidak disikapi dengan bijak. Validasi dalam bentuk likes, views, dan followers sering kali dijadikan tolok ukur nilai diri, padahal angka-angka tersebut tidak selalu mencerminkan kualitas seseorang.
Pada akhirnya, media sosial hanyalah alat. Ia dapat menjadi ruang yang mendukung pertumbuhan, tetapi juga bisa menjadi beban jika digunakan tanpa kesadaran. Nilai diri tidak ditentukan oleh popularitas digital, melainkan oleh proses dan pengalaman hidup masing-masing individu. Setiap anak muda memiliki ritme dan ceritanya sendiri. Di balik media sosial, ada realitas yang lebih manusiawi tentang perjuangan, harapan, dan proses bertumbuh yang layak dihargai.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
