Ketika Cerita di Media Sosial Membentuk Persepsi Realitas
Lainnnya | 2026-01-13 05:31:07
Hidup di Era Arus Cerita DigitalPerkembangan media sosial telah menciptakan arus informasi yang hampir tanpa henti. Setiap hari, linimasa digital dipenuhi dengan potongan cerita mengenai isu pendidikan, ketidakadilan sosial, hingga ajakan bersikap tertentu terhadap suatu fenomena. Potongan cerita ini terus berulang, dibagikan, dan diperbincangkan secara luas, sehingga secara bertahap membentuk persepsi realitas kolektif. Media sosial menyediakan ruang publik yang luas, memungkinkan setiap individu, termasuk mahasiswa, untuk menyuarakan opini dan pandangan mereka. Namun, muncul pertanyaan kritis mengenai sejauh mana masyarakat benar-benar memahami isu yang dibahas, atau sekadar mengikuti narasi yang terus muncul di linimasa.
Linimasa dan Pembentukan Emosi KolektifTanpa disadari, frekuensi dan intensitas penyajian cerita tertentu memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap isu-isu sosial. Beberapa isu menjadi terlihat lebih mendesak, sementara isu lain hampir tidak mendapat perhatian. Proses ini berkontribusi pada terbentuknya emosi kolektif, di mana individu merasakan kemarahan, kesedihan, atau solidaritas yang seragam, meskipun pemahaman terhadap konteks utuh dari isu tersebut tidak selalu lengkap. Diskusi yang muncul kerap didasarkan pada potongan video singkat, judul provokatif, atau narasi yang disederhanakan, sehingga solidaritas yang terbentuk lebih bersifat simbolik—terlihat melalui unggahan, komentar, atau tanda dukungan—tanpa diiringi refleksi atau tindakan nyata.
Cerita Bersama dan Realitas yang DibangunFenomena ini dapat dijelaskan melalui Teori Konvergensi Simbolik oleh Ernest Bormann, yang menyatakan bahwa individu membangun realitas bersama melalui cerita, simbol, dan narasi yang berulang. Dalam konteks media sosial, unggahan viral, utas narasi emosional, dan konten simbolik berfungsi sebagai “cerita simbolik” yang menyatukan persepsi dan perasaan banyak orang. Mahasiswa dan pengguna media sosial lainnya secara tidak langsung memasuki kesadaran kolektif yang sama, merasakan emosi serupa, dan menafsirkan realitas berdasarkan narasi yang telah dikonvergensikan bersama.
Peluang dan Tanggung Jawab DigitalMedia sosial tidak hanya merupakan ruang kebisingan, tetapi juga menyediakan kesempatan untuk berbagi pengetahuan, membangun kesadaran kolektif, dan menggerakkan perubahan sosial. Namun, kebebasan dalam ruang digital ini menuntut tanggung jawab. Ketika pengguna berhenti mempertanyakan narasi yang beredar dan hanya mengikuti arus emosi kolektif, potensi untuk mengembangkan pemikiran kritis dapat berkurang, terutama bagi kelompok mahasiswa yang diharapkan memiliki kemampuan analisis tinggi.
Kesadaran Mahasiswa dalam Mengelola Narasi DigitalTantangan utama bagi mahasiswa adalah mengembangkan kemampuan untuk mengevaluasi dan memahami cerita yang beredar sebelum menyikapinya. Dengan kesadaran kritis tersebut, media sosial dapat dimanfaatkan sebagai ruang refleksi dan diskusi yang konstruktif, sehingga narasi yang dipercaya membentuk pandangan yang lebih kritis, informatif, dan bertanggung jawab, bukan sekadar reaksi kolektif.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
