Etika Jari dan Lisan: Komunikasi Islami dalam Menghadapi Perang Opini di Media Sosial
Pendidikan dan Literasi | 2026-01-19 06:17:37
Media sosial telah merevolusi pola interaksi kita sehari-hari. Platform seperti X (Twitter), Instagram, dan TikTok kini bukan sekadar tempat berbagi foto atau berita, melainkan arena pertarungan ideologi dan pandangan. Setiap hari, kita menyaksikan “perang opini” yang melibatkan jutaan jari, di mana berbagai isu mulai dari politik, sosial, hingga agama dibahas dengan penuh ketegangan.
Dalam pusaran perdebatan ini, kita sering melihat nilai-nilai luhur seperti kesantunan dan penghormatan terkikis. Kata-kata kasar, ad hominem, bahkan caci maki menjadi hal lumrah. Bagi umat Islam, fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: Bagaimana kita menerapkan etika berkomunikasi yang diajarkan Islam (Qaul Sadida, Qaul Kariman) di ruang digital yang sangat agresif ini?
Kita membutuhkan pedoman etis yang kuat Etika Jari dan Lisan agar partisipasi kita dalam “perang opini” tidak melukai kemanusiaan dan merusak citra Islam itu sendiri.
1. Jurang Antara Lisan Asli dan Jari Digital
Ajaran Islam sangat menekankan pada etika berbicara. Konsep Qaul Sadida (ucapan yang benar, tepat, dan jujur) dan Qaul Kariman (ucapan yang mulia, terhormat) adalah fondasi komunikasi yang ideal. Namun, di media sosial, ada jurang lebar antara bagaimana seseorang berbicara langsung (lisan) dan bagaimana ia mengetik (jari).
Di balik layar, rasa anonim palsu dan jarak fisik sering memicu disinhibisi (rasa bebas dari norma sosial). Orang yang sopan di dunia nyata bisa jadi sangat kasar di dunia maya. Jari-jari kita bergerak tanpa filter tabayyun (verifikasi fakta) dan muhasabah (introspeksi diri) yang seketat lisan kita.
Jari yang ringan mengetik komentar provokatif, menyebar hoaks, atau menyerang pribadi adalah manifestasi dari kegagalan kita membawa etika komunikasi Islami ke dalam dimensi digital. Kita lupa bahwa setiap ketikan adalah "ucapan" yang akan dimintai pertanggungjawaban.
2. Tabayyun vs Instant Judgement
“Perang opini” di media sosial ditandai oleh kecepatan informasi dan budaya instant judgement. Orang didorong untuk segera merespons, mendukung, atau menolak sebuah isu tanpa melakukan verifikasi mendalam.
Di sinilah peran sentral ajaran Tabayyun menjadi krusial. Dalam konteks digital, tabayyun tidak hanya berarti memeriksa kebenaran berita (anti-hoaks), tetapi juga menguji niat dan konteks dari sebuah pernyataan atau tindakan yang dikritik. Sebelum jari kita menekan tombol “kirim”, kita harus bertanya: Apakah saya sudah memahami betul duduk perkaranya? Apakah reaksi saya didasarkan pada fakta atau emosi belaka?
Jika prinsip tabayyun diabaikan, komunikasi Islam akan kehilangan kredibilitasnya. Kita berisiko menjadi penyebar fitnah atau kabar bohong, yang jelas-jelas dilarang keras dalam agama.
3. Mengubah Kritik Menjadi Dialog
Ketika berhadapan dengan perbedaan opini yang tajam, etika Islam mengajarkan prinsip Qaul Baligha (ucapan yang efektif, menyentuh, dan tepat sasaran). Prinsip ini menekankan bahwa tujuan komunikasi bukanlah untuk menang, melainkan untuk menyampaikan pesan dengan cara terbaik.
Ini berarti:
a. Menghindari Ad Hominem: Kritik harus diarahkan pada ide atau argumen, bukan pada pribadi, latar belakang, atau identitas lawan bicara. Mencela fisik atau mencaci maki lawan adalah bentuk komunikasi yang anti-Islami.
b. Menjaga Bahasa: Jika kritik harus disampaikan, Islam menganjurkan penggunaan Qaul Layyin (ucapan yang lembut dan halus), bahkan kepada musuh. Tujuannya adalah membuka hati, bukan menutupnya dengan pertahanan diri.
Dalam “perang opini”, kita sering lupa bahwa kemenangan sejati bukanlah ketika kita berhasil membungkam lawan, melainkan ketika kita berhasil mengubah konflik menjadi dialog yang konstruktif.
Pada intinya, media sosial adalah ruang publik baru umat Islam. Kehormatan agama tidak hanya dijaga di masjid atau majelis ilmu, tetapi juga di kolom komentar dan thread perdebatan.
Masa depan dakwah damai dan citra Islam yang moderat sangat bergantung pada bagaimana kita mengendalikan “Etika Jari dan Lisan”. Kita harus berhenti membiarkan emosi sesaat mendikte ketikan kita.
Mari kita jadikan jari-jari kita sebagai alat untuk menyebarkan Qaul Sadida (ucapan yang jujur, tepat, dan bertanggung jawab) dan Qaul Kariman (ucapan yang memuliakan kemanusiaan). Dengan begitu, kita dapat memastikan bahwa partisipasi kita dalam setiap “perang opini” akan meninggalkan warisan bukan berupa luka, tetapi berupa teladan komunikasi yang berakhlak.
Penulis: Ahmad Thamrin Sikumbang, Juleha
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
