Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Maulana Iqbal

Fomo: Saat Jempol Kita Lebih Cepat dari Hati

Info Terkini | 2026-01-15 07:53:33

Pernah nggak sih, lagi asyik rebahan santai, terus saat buka Instagram tiba-tiba perasaan jadi nggak enak? Lihat teman lagi dinner cantik, lihat influencer baru beli mobil baru, atau teman kantor yang tiba-tiba posting sertifikat kursus bergengsi. Seketika, rasa tenang tadi hilang, berganti jadi cemas: "Duh, kok hidup aku gini-gini aja ya? Aku ketinggalan apa ya?"
Kalau kamu pernah merasakannya, itu namanya FOMO (Fear of Missing Out). Penyakit khas manusia modern yang merasa dunianya bakal kiamat kalau nggak ikut tren atau nggak se-eksis orang lain.

Kalau kita mau jujur, masalah ini sebenarnya bukan soal kita kurang sukses, tapi soal bagaimana cara kita berkomunikasi dengan "realitas" yang ada di layar HP. Di ilmu komunikasi, ada istilah keren namanya Teori Kultivasi. Dulu, teori ini dipakai buat jelasin orang yang kebanyakan nonton film kekerasan jadi merasa dunia luar itu bahaya banget.

Tapi sekarang, teorinya pindah ke genggaman tangan kita. Media sosial "menanamkan" (mengultivasi) standar hidup ke otak kita secara pelan-pelan tapi pasti. Karena tiap hari yang kita lihat adalah kesuksesan, wajah mulus tanpa pori-pori, dan liburan estetik, otak kita jadi mikir: "Oh, standar hidup yang normal itu ya yang kayak gitu." Padahal, itu semua cuma cuplikan iklan. Kita sedang membandingkan "babak belur"-nya kehidupan nyata kita dengan "etalase toko" orang lain yang sudah dipoles habis-habisan. Kita lupa kalau apa yang tampil di layar itu sudah lewat proses edit, filter, dan ribuan kali retake.

FOMO akhirnya bikin kita kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi secara jujur dengan diri sendiri. Kita jadi sibuk mengejar pengakuan lewat konten, sampai lupa menikmati momennya itu sendiri. Kita makan bukan karena lapar, tapi karena restorannya punya spot foto bagus. Kita liburan bukan buat istirahat, tapi buat menimbun stok foto feed.

Yuk, mulai sekarang kita pasang filter di pikiran kita sendiri, bukan cuma di foto. Sadari kalau setiap orang punya garis start dan rute lari yang beda-beda. Nggak perlu merasa tertinggal, karena hidup ini perjalanan, bukan balapan lari yang disiarkan live 24 jam.

Pada akhirnya, tidak ada yang benar-benar tertinggal kalau kita tahu kapan harus berhenti membandingkan. Kebahagiaan itu dirasakan, bukan cuma diposting.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image