Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image M Sawung G

Ketika Layar Digital Menjadi Realitas Sosial

Teknologi | 2026-01-09 20:08:51

Bagi Gen Z, interaksi sosial sering kali dilakukan melalui Media digital. Media Equation menjelaskan bahwa otak secara otomatis menerapkan norma-norma sosial terhadap manusia umumnya kepada chatbot. Gen Z secara spontan menunjukkan sopan santun kepada AI atau chatbot, seperti mengatakan terima kasih meskipun mereka tahu itu hanya AI dan tidak nyata.

Mereka terkadang mendekat ke layar monitor saat karakter di dalamnya berbicara dengan suara kecil atau berbisik, seperti yang mereka lakukan dalam percakapan tatap muka. Respons otomatis ini membuktikan bahwa media bukan hanya alat, tetapi bisa menjadi tempat Gen Z mempraktikkan norma interaksi interpersonal mereka.

Hubungan Sosial dengan Seorang ahli Digital

Gen Z membentuk hubungan satu arah yang kuat dengan seorang konten kreator media yang mereka nikmati, seperti Streamer, Youtuber, atau Influencer.

Jika Penggemar terlalu support kepada konten kreator favorit mereka, mereka akan merasa marah, cemburu, atau bahkan sakit hati secara pribadi ketika streamer favorit mereka berinteraksi lebih akrab dengan penggemar lain, atau ketika influencer mengumumkan pasangan hidupnya. Fenomena ini sering terjadi kepada penggemar konten kreator seperti Vtuber (Virtual YouTuber) pada masa COVID-19.

Mereka akan membela konten kreator favorit mereka di media sosial seolah-olah konten kreator tersebut adalah teman dekat yang sedang diserang, karena mereka memperlakukan hubungan virtual ini seperti hubungan persahabatan nyata.

Keterikatan Emosional dengan Kecerdasan Buatan (AI)

Gen Z berbagi perasaan atau masalah pribadi dengan chatbot karena AI dianggap se-frekuensi dan selalu paham situasi para Gen Z, menggambarkan kebutuhan emosional mereka ke dalam teknologi.

Otak memproses dukungan empatik yang dihasilkan AI sebagai dukungan emosional yang nyata dan relevan. Hal ini dapat mengakibatkan trust displacement, yaitu perpindahan kepercayaan dari manusia ke mesin, karena media secara efektif meniru peran seorang teman.

Identitas dan Proyeksi Diri pada Media

Gen Z sering menggunakan media untuk memproyeksikan dan mengelola identitas mereka, seperti menggunakan filter di media sosial untuk merubah penampilan menjadi lebih menarik seketika memperlakukan layar digital sebagai perpanjangan dari ruang fisik.

Teori Media Equation

Teori Persamaan Media (Media Equation Theory), yang dikembangkan oleh Reeves dan Nass, mengajukan hipotesis radikal: manusia secara tidak sadar merespons media komunikasi seolah-olah media tersebut adalah orang nyata atau tempat fisik. Inti teori ini diringkas menjadi Media = Real Life. Bagi Generasi Z (Gen Z) mereka yang tumbuh dewasa di era digital batas antara dunia digital dan realitas sosial telah kabur, menjadikan teori ini lensa kritis untuk memahami interaksi mereka.

Teori Media Equation adalah kerangka kerja yang vital untuk menafsirkan perilaku Generasi Z. Bagi generasi ini, teknologi adalah perpanjangan dari lingkungan sosial mereka. Mereka memperlakukan media dengan norma, emosi, dan harapan sosial yang sama yang mereka terapkan pada manusia. Oleh karena itu, desain antarmuka, etika AI, dan konten digital harus mempertimbangkan bahwa di dunia Gen Z, interface digital adalah realitas sosial, dan harus dirancang dengan tingkat tanggung jawab yang tinggi.

Mungkin semua fenomena tersebut sering terjadi pada diri kita atau mungkin di lingkungan kita tetapi dengan inovasi teknologi digital yang maju di zaman ini, kita tetap perlu menggunakan empati kita untuk melawan bahwa ruang digital tidak sepenuhnya nyata dalam bentuk fisik, kita perlu memikirkannya kembali agar tidak terpengaruh oleh ruang digital.

Oleh karena itu, perhatikan dan pelajari AI lebih mendalam agar kita terhindar dari trik manipulasi AI yang seakan relevan dengan kita, AI hanya menganalisis dari pertanyaan sehari-hari kita yang sebelumnya kita hanya ingin mencari bantuan dan referensi melalui chatbot atau AI agar tidak terjadi kesalahan di realitas sosial.

penulis merupakan mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Dian Nuswantoro

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image