Kesehatan Mental di Pesantren: Tentang Hati yang Terluka di Balik Riuh Hafalan
Kabar Pesantren | 2025-12-22 22:26:51Kesehatan Mental di Pesantren: Tentang Hati yang Terluka di Balik Riuh Hafalan
Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang khas dengan sistem asrama yang beroperasi selama 24 jam. Di satu sisi, institusi ini menjadi tempat untuk membentuk karakter dan memperdalam pemahaman agama secara mendalam. Ketika mendengar istilah pesantren, umumnya kita membayangkan sekelompok santri yang sedang belajar, menghafal kitab, dan menjalani rutinitas yang padat dari pagi sampai malam. Namun di sisi lain, kehidupan berinteraksi secara intens ini dapat memunculkan tantangan mental yang cukup besar bagi para santri. Salah satu hal yang sering diabaikan adalah bagaimana kondisi psikologis mereka. Menjelang tahun 2025, kebutuhan akan layanan Bimbingan Konseling (BK) yang profesional di pesantren bukan hanya masalah administratif, tetapi merupakan kebutuhan mendesak untuk menjaga kesehatan mental para santri.
Salah satu tantangan utama di pesantren adalah transisi yang signifikan dari rumah menuju lingkungan komunitas yang teratur, yang terkadang dapat menyebabkan guncangan budaya. Santri tiba-tiba harus belajar mandiri, berbagi ruang pribadi dengan orang asing, dan menghadapi jadwal yang padat dari subuh hingga larut malam. Mereka sering kali menghadapi berbagai tekanan seperti ekspektasi akademis yang tinggi, kurangnya privasi, dan kerinduan akan keluarga. Tanpa bimbingan psikologis yang mampu, beban ini dapat memicu stres berkepanjangan, kecemasan, bahkan perilaku menyimpang.
Mari kita coba membayangkan situasi sebagai seorang santri. Mereka harus berpisah dari keluarga pada usia yang sangat muda. Di pesantren, mereka harus berbagi semua fasilitas, termasuk kamar mandi, lemari, dan tempat tidur dengan banyak teman. Tekanan untuk mencapai target hafalan tertentu seringkali menyebabkan stres. Tanpa ruang untuk mengekspresikan perasaan, tekanan ini bisa menjadi masalah yang serius. Mereka mungkin merasa kehilangan semangat, mengalami sakit, atau dalam kondisi yang lebih parah, mengekspresikannya dengan cara yang tidak sehat, seperti berperilaku kasar terhadap teman sebayanya. Salah satu hambatan terbesar di pesantren adalah stigma yang menilai bahwa mengeluhkan atau merasakan tekanan adalah tanda kurang rasa syukur atau lemahnya iman.
Selama ini, ketika ada santri yang menunjukkan kesedihan atau kelelahan, mereka sering mendapat tanggapan seperti “kurang berdoa” atau “kurang ikhlas.” Padahal, keletihan mental adalah hal yang wajar dan tidak menunjukkan kelemahan iman. Didalam peran guru BK sangat krusial. Tugas mereka bukan hanya sebagai pengawas yang menghukum, namun sebagai sahabat yang siap mendengarkan tanpa memberikan penilaian.
Penting untuk dipahami bahwa keberadaan BK bukanlah untuk mengambil alih tugas Kiai atau Ustaz. Sebaliknya, konselor profesional seharusnya berkolaborasi dengan pengasuh pesantren. Ketika seorang santri mengalami trauma atau kecemasan yang serius, guru BK memiliki kemampuan untuk memberikan intervensi awal atau Merujuk ke ahli, sementara pengasuh fokus pada dukungan spiritual.
Guru BK dapat mendukung santri dalam mengelola emosi mereka. Ketika santri merasa nyaman untuk mengungkapkan perasaan, mereka tidak akan merasa sendirian. Hal ini sangat penting untuk mencegah munculnya depresi atau kekerasan di lingkungan asrama. Selain itu, keberadaan konselor di pesantren berfungsi sebagai alat untuk mengenali lebih awal tindakan bullying dan kekerasan. Dengan menggunakan pendekatan yang persuasif serta observasi yang cermat, guru bimbingan konseling bisa dengan cepat mendeteksi perubahan perilaku santri sebelum masalah itu meningkat menjadi lebih serius. Ini berkontribusi terhadap terciptanya lingkungan pesantren yang lebih sehat, aman, dan manusiawi. Santri diharapkan tidak hanya memiliki pengetahuan agama, tetapi juga kekuatan mental untuk menghadapi berbagai tantangan di luar sana.
Pesantren yang mengutamakan kesehatan mental adalah pesantren yang menghargai santrinya sebagai individu utuh. Dengan dukungan mental yang baik, santri akan lebih mudah menyerap pengetahuan, sehingga visi menghasilkan generasi rabbani yang sehat fisik dan emosional dapat terwujud pada tahun 2025. Jika kesehatan mental santri terjaga dengan baik, maka proses belajar mereka akan menjadi lebih efektif. Proses menghafal pun akan berjalan lebih lancar karena pikiran mereka tidak terganggu oleh masalah. Pesantren seharusnya menjadi tempat paling aman dan nyaman, tidak hanya untuk belajar agama, tetapi juga untuk berkembang menjadi individu yang bahagia. Sudah saatnya kita memahami bahwa kualitas santri yang luar biasa tidak hanya diukur dari seberapa banyak hafal mereka, tetapi juga dari kondisi kesehatan mental mereka.
--- SELESAI ---
TENTANG PENULIS: Sidatul Halwani adalah mahasiswa semester 3 Universitas Mukhtar Syafaat yang aktif mengulas studi Konseling dan pendidikan Islam. Ia dapat dihubungi melalui email [sidatulhalwani@gmail.com] a
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
