Kesehatan Mental Anak Gen Z
Info Terkini | 2026-01-08 16:53:37
Tanggerang Selatan - Generasi Z (Gen Z) merupakan generasi yang lahir dan tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang sangat pesat. Sejak usia dini, mereka telah akrab dengan gawai, internet, dan media sosial. Kondisi ini membuat Gen Z dikenal sebagai generasi yang cepat beradaptasi, kreatif, dan terbuka terhadap perubahan. Namun, di balik kemajuan tersebut, muncul persoalan serius yang kini menjadi perhatian global, yaitu kesehatan mental anak Gen Z.
Salah satu faktor utama yang memengaruhi kesehatan mental Gen Z adalah penggunaan media sosial. Media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menjadi ruang pembentukan identitas diri. Sayangnya, konten yang menampilkan kehidupan serba sempurna sering kali menciptakan standar tidak realistis. Anak Gen Z cenderung membandingkan diri mereka dengan orang lain, baik dari segi penampilan, prestasi, maupun gaya hidup. Perbandingan sosial yang berlebihan ini dapat menurunkan rasa percaya diri dan memicu gangguan kecemasan hingga depresi.
Selain tekanan dari media sosial, tuntutan akademik juga menjadi sumber stres yang signifikan. Sistem pendidikan yang kompetitif menuntut anak Gen Z untuk selalu berprestasi. Nilai tinggi, peringkat, serta pencapaian nonakademik sering kali dijadikan tolok ukur kesuksesan. Tidak jarang, anak merasa takut gagal dan khawatir tidak mampu memenuhi ekspektasi orang tua maupun lingkungan sekitar. Ketakutan ini, jika berlangsung terus-menerus, dapat menyebabkan stres berkepanjangan dan burnout.
Tekanan mental yang dialami anak Gen Z juga berkaitan dengan ketidakpastian masa depan. Perubahan dunia kerja yang cepat, persaingan global, serta meningkatnya biaya hidup membuat banyak anak Gen Z merasa cemas terhadap masa depan mereka. Mereka dituntut untuk serba bisa, memiliki banyak keterampilan, dan siap menghadapi perubahan. Beban ini sering kali membuat mereka merasa kewalahan dan kehilangan arah.
Sayangnya, kesadaran akan pentingnya kesehatan mental masih tergolong rendah. Di masyarakat, masalah kesehatan mental kerap dianggap sebagai kelemahan atau kurangnya rasa syukur. Akibatnya, banyak anak Gen Z yang enggan mencari bantuan profesional atau sekadar bercerita kepada orang terdekat. Mereka memilih memendam perasaan, menutupi luka batin, dan berpura-pura baik-baik saja. Padahal, memendam masalah emosional dalam waktu lama dapat berdampak buruk, bahkan berujung pada tindakan berisiko.
Peran keluarga menjadi sangat penting dalam menjaga kesehatan mental anak Gen Z. Orang tua diharapkan mampu menciptakan suasana rumah yang aman dan nyaman secara emosional. Komunikasi yang terbuka, tanpa menghakimi, akan membuat anak merasa dihargai dan didengar. Selain itu, sekolah dan kampus juga memiliki tanggung jawab besar dengan menyediakan layanan konseling, edukasi kesehatan mental, serta menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya berorientasi pada prestasi, tetapi juga kesejahteraan siswa.
Di sisi lain, anak Gen Z perlu dibekali keterampilan mengelola emosi dan stres. Kesadaran untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan dunia nyata menjadi hal yang sangat penting. Membatasi penggunaan media sosial, meluangkan waktu untuk beristirahat, berolahraga, serta membangun hubungan sosial yang sehat dapat membantu menjaga kesehatan mental.
Kesehatan mental anak Gen Z bukanlah isu sepele yang dapat diabaikan. Ini adalah investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Generasi yang sehat secara mental akan mampu berpikir jernih, berempati, serta berkontribusi secara positif bagi masyarakat. Oleh karena itu, sudah saatnya semua pihak keluarga, pendidik, pemerintah, dan masyarakat bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih peduli dan ramah terhadap kesehatan mental anak Gen Z.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
