Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Putri Lintang Utami

Ketika Role Playing Mendorong Pendidikan Kebencanaan di Kelas Fisika

Edukasi | 2025-12-20 13:02:34

Ketika Fisika Terasa Jauh dari Kehidupan Nyata

Pernahkah kita bertanya, apakah fisika hanya tentang menghafal rumus dan menyelesaikan soal, atau juga tentang memahami lingkungan di tempat kita hidup? Di luar ruang kelas, berita tentang banjir, cuaca ekstrem, gempa bumi, hingga kebakaran hutan terus muncul dan perlahan menjadi bagian dari keseharian kita. Sayangnya, peristiwa-peristiwa itu sering terasa jauh dari pelajaran di sekolah, seolah sains hanya berhenti di buku dan papan tulis. Padahal, di balik setiap bencana ada konsep fisika yang nyata dan dekat dengan kehidupan. Di sinilah pendidikan memiliki peran penting, bukan sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kesiapsiagaan dan kesadaran iklim sejak dini. Ketika sekolah mampu menghubungkan pelajaran dengan realitas yang dihadapi siswa, belajar tak lagi terasa abstrak, melainkan menjadi bekal untuk memahami dan merespons dunia di sekitar mereka. Inilah mengapa pendidikan kebencanaan menjadi bagian penting dalam pembelajaran fisika di sekolah.

Suhu Indonesia 2025 Lebih Panas dari Tahun-Tahun Lalu. Sumber: Databoks - Katadata

Pada tahun 2025, Indonesia kembali mencatat suhu yang lebih panas dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hari-hari terasa lebih terik, musim kemarau semakin panjang, dan hujan datang dengan pola yang sulit diprediksi. Perubahan iklim bukan sekadar angka di laporan cuaca, melainkan kenyataan yang dirasakan langsung oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari, dari ruang kelas yang pengap hingga meningkatnya risiko kekeringan dan banjir di berbagai daerah. Fenomena suhu yang terus meningkat menjadi contoh nyata bagaimana konsep fisika tentang energi, kalor, dan perpindahan panas bekerja di alam. Ketika realitas ini dihadirkan dalam pembelajaran, siswa tidak hanya memahami materi secara konseptual, tetapi juga menyadari bahwa apa yang mereka pelajari berkaitan langsung dengan perubahan iklim yang sedang mereka hadapi.

Fisika masih identik dengan pelajaran yang sulit, penuh rumus, dan terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit yang belajar sekadar agar bisa mengerjakan ujian, mengejar nilai, lalu segera melupakannya setelah bel berbunyi. Siswa pun kerap berjuang memahami soal-soal yang terasa abstrak, tanpa benar-benar tahu apa manfaatnya di dunia nyata. Padahal, konsep-konsep dalam fisika justru hadir di sekitar kita setiap hari. Gempa bumi yang mengguncang, banjir yang melanda permukiman, hingga cuaca ekstrem yang makin sering terjadi, semuanya berkaitan erat dengan prinsip fisika. Ironisnya, keterkaitan ini jarang disadari di ruang kelas. Fisika seolah terlepas dari realitas bencana dan krisis iklim yang dihadapi generasi muda. Lalu, bagaimana jika fisika diajarkan dengan cara yang lebih hidup?

Banjir di Kuala Simpang, Aceh Tamiang, Aceh, 30 November 2025. Sumber: BBC

Banjir yang melanda Aceh pada November 2025 menjadi pengingat nyata bahwa konsep fisika tidak pernah benar-benar jauh dari kehidupan. Curah hujan tinggi, aliran air yang meluap, hingga daya serap tanah yang menurun merupakan proses alam yang dapat dijelaskan melalui prinsip fisika sederhana. Namun bagi banyak siswa, peristiwa ini lebih sering hadir sebagai berita duka daripada bahan pembelajaran yang bermakna. Ketika kejadian seperti banjir Aceh tidak dihubungkan dengan pelajaran di kelas, fisika kehilangan konteksnya. Padahal, memahami bagaimana dan mengapa banjir terjadi dapat membantu generasi muda lebih siap menghadapi risiko bencana sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan dan ruang hidup yang aman.

Role Playing dalam Pendidikan Kebencanaan

Suasana kelas fisika pun bisa berubah ketika role playing mulai diterapkan. Siswa tidak lagi duduk diam mendengarkan penjelasan guru, melainkan mengambil peran sebagai warga yang terdampak bencana, relawan yang harus bertindak cepat, ilmuwan yang menganalisis risiko, atau pengambil kebijakan yang dihadapkan pada pilihan sulit. Dalam simulasi banjir, gempa, atau cuaca ekstrem, mereka berdiskusi, berdebat, dan bersama-sama menentukan langkah yang paling masuk akal. Kelas menjadi ramai, aktif, dan dipenuhi beragam emosi dari kebingungan, kepedulian, hingga empati terhadap sesama. Di momen-momen inilah belajar terasa hidup. Role playing bukan sekadar permainan untuk mengusir bosan, melainkan latihan menghadapi situasi nyata. Siswa belajar bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi, dan memahami fisika berarti memahami bagaimana bertindak dengan bijak di tengah ketidakpastian.

Pendidikan Kebencanaan melalui Role Playing di Kelas Fisika. Sumber: Ilustrasi yang dibuat melalui Canva.

Di tengah simulasi dan diskusi, siswa perlahan diajak berhenti sejenak untuk bertanya pada diri sendiri. Mengapa aku memilih keputusan ini? Apa yang sebenarnya aku pertimbangkan sebelum berbicara atau bertindak? Apakah pilihanku berdampak pada orang lain? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini membuka ruang kesadaran baru. Siswa mulai menyadari bahwa berpikir bukanlah proses yang instan, melainkan rangkaian pertimbangan yang bisa dipahami dan diperbaiki. Melalui role playing, pendidikan kebencanaan tidak lagi abstrak, tetapi hadir lewat pengalaman belajar yang nyata. Mereka belajar mengevaluasi pilihan yang diambil, mengenali kesalahan, lalu merefleksikannya tanpa rasa takut disalahkan. Inilah momen penting dalam pembelajaran. Siswa tidak hanya memahami konsep fisika yang sedang dipelajari, tetapi juga belajar mengenal cara mereka berpikir dan mengambil keputusan. Kesadaran ini menjadi bekal berharga, tidak hanya untuk pelajaran di kelas, tetapi juga untuk menghadapi persoalan nyata di kehidupan sehari-hari.

Ilustrasi Role Playing dalam Pembelajaran. Sumber: Freepik

Lewat role playing, siswa mulai melihat bahwa bencana tidak pernah berdiri sendiri sebagai peristiwa alam semata. Dalam setiap simulasi, mereka menyadari bagaimana keputusan manusia mulai dari pengelolaan lingkungan, penggunaan energi, hingga tata ruang dapat memperbesar atau justru mengurangi risiko yang ada. Sains pun tak lagi terasa kaku, karena terhubung langsung dengan kehidupan sosial, kebijakan, dan keseharian masyarakat. Dari sini, kesadaran perlahan tumbuh. Siswa memahami bahwa krisis iklim bukan sesuatu yang jauh atau abstrak, melainkan nyata dan dekat dengan pilihan yang dibuat manusia. Perubahan kecil pun mulai terlihat, seperti sikap yang lebih peduli pada lingkungan, kepekaan terhadap risiko bencana di sekitar mereka, serta cara berpikir yang lebih panjang sebelum bertindak. Kesadaran iklim lahir bukan dari ceramah panjang, melainkan dari pengalaman yang dirasakan dan direfleksikan bersama.

Saat Siswa Belajar Berpikir, Memilih, dan Peduli untuk Masa Depan

Pada akhirnya, pendidikan seharusnya menjadi ruang aman bagi siswa untuk belajar mengambil keputusan tanpa takut salah. Sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai, tetapi juga ruang latihan menghadapi situasi kompleks yang kelak mereka temui di dunia nyata. Lewat role playing, siswa diberi kesempatan untuk mencoba, keliru, lalu memperbaiki pilihan yang mereka buat. Proses ini menghadirkan rasa aman sekaligus pengalaman belajar yang bermakna. Di dalamnya, siswa belajar memahami sudut pandang orang lain, merasakan empati, dan menyadari tanggung jawab dari setiap keputusan. Pendidikan pun melampaui sekadar capaian akademik. Ia menjadi proses membentuk kesiapsiagaan, kepedulian, dan karakter yang dibutuhkan generasi muda untuk menghadapi tantangan lingkungan dan kehidupan di masa depan.

SDG13: Mengambil tindakan mendesak untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya. Sumber: IGS Global

Di tengah krisis iklim yang semakin nyata, belajar tidak lagi sekadar tentang memahami materi pelajaran, tetapi tentang memaknai peran manusia di dalamnya. Pertanyaannya pun kembali mengemuka, apa arti belajar di dunia yang sedang menghadapi begitu banyak ketidakpastian? Pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga sadar akan cara berpikir dan bertindak. Melalui pengalaman belajar yang hidup, siswa diajak memahami bahwa setiap pilihan memiliki dampak, sekecil apa pun itu. Dari ruang kelas, tumbuh kesadaran untuk lebih peduli, lebih siap, dan lebih bertanggung jawab. Ketika siswa belajar berpikir tentang cara mereka berpikir, mereka sedang belajar menjaga masa depan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk lingkungan dan kehidupan yang akan mereka warisi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image