Bencana Terjadi di Berbagai Daerah Indonesia, Ini Sikap Muslim yang Diajarkan Islam
Khazanah | 2026-01-19 06:47:08Bencana alam kembali terjadi di berbagai daerah Indonesia. Banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, hingga gempa bumi tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik, tetapi juga mengguncang ketenangan batin dan tatanan sosial masyarakat. Dalam situasi seperti ini, Islam hadir bukan semata sebagai ajaran ritual, melainkan sebagai pedoman sikap yang menuntun umat untuk tetap teguh, berempati, dan bertanggung jawab menghadapi musibah.
Dalam pandangan Islam, bencana dan musibah merupakan bagian dari ketetapan Allah SWT. Al-Qur’an menegaskan bahwa kehidupan manusia tidak lepas dari ujian. Ujian tersebut bukan dimaksudkan untuk melemahkan, melainkan untuk menguji kesabaran, keimanan, dan keteguhan sikap seorang hamba.
“Dan sungguh Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)
Sikap pertama yang diajarkan Islam ketika menghadapi bencana adalah bersabar dan bersikap ridha. Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi kemampuan menahan diri dari keluh kesah berlebihan serta menjaga lisan dan tindakan agar tetap berada dalam nilai kebaikan. Ridha berarti menerima ketetapan Allah dengan keyakinan bahwa setiap peristiwa mengandung hikmah, meskipun tidak selalu dapat dipahami secara langsung.
Islam juga mengajarkan umatnya untuk mengucapkan kalimat istirja’ saat pertama kali mendengar kabar musibah: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Kalimat ini mengingatkan bahwa manusia tidak memiliki apa pun secara mutlak. Semua yang ada di dunia hanyalah titipan Allah dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.
Sikap berikutnya adalah berprasangka baik kepada Allah (husnuzan). Seorang Muslim dilarang menyalahkan takdir atau mempertanyakan keadilan Allah atas musibah yang terjadi. Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Karena itu, setiap ujian selalu berada dalam batas kemampuan manusia untuk menghadapinya.
Bencana juga menjadi momentum muhasabah diri, baik secara personal maupun kolektif. Ia mengingatkan manusia akan keterbatasannya, pentingnya menjaga keseimbangan alam, serta perlunya memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama. Muhasabah bukan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk menumbuhkan kesadaran dan perubahan ke arah yang lebih baik.
Namun demikian, Islam tidak mengajarkan sikap pasrah tanpa ikhtiar. Usaha dan tindakan nyata justru merupakan bagian penting dari keimanan. Upaya mitigasi bencana, kepatuhan terhadap arahan keselamatan, serta kepedulian terhadap para korban adalah wujud nyata dari ajaran Islam yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Menolong sesama, baik dengan harta, tenaga, maupun dukungan moral, merupakan amal yang bernilai ibadah.
Di samping itu, doa menjadi kekuatan spiritual yang menenangkan hati. Rasulullah SAW mengajarkan doa ketika tertimpa musibah agar seorang Muslim memperoleh pahala dan digantikan dengan kebaikan:
“Allahumma’jurni fi mushibati wa akhlif li khairan minha.”
(Ya Allah, berilah aku pahala atas musibah ini dan gantilah dengan yang lebih baik.)
Terakhir, Islam mengajarkan pentingnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Mengikuti informasi resmi dan langkah keselamatan dari pihak berwenang merupakan bagian dari menjaga amanah nyawa yang dititipkan Allah. Tawakal tidak berarti mengabaikan usaha, tetapi menyelaraskan ikhtiar dengan kepercayaan penuh kepada-Nya.
Pada akhirnya, bencana boleh datang tanpa aba-aba, tetapi sikap seorang Muslim tidak boleh kehilangan arah. Di tengah musibah, iman diuji, empati dipanggil, dan solidaritas kemanusiaan ditumbuhkan. Di sanalah Islam menemukan maknanya yang paling hidup: menguatkan hati, menuntun tindakan, dan menghadirkan harapan di tengah ujian.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
